Channel8.co.id- Jakarta. Di penghujung bulan suci Ramadan, suasana hangat dan penuh kekhusyukan terasa di lingkungan keluarga besar Cendana. Malam itu, anak, cucu hingga cicit keluarga almarhum Presiden ke-2 RI, Soeharto, berkumpul dalam sebuah tradisi yang telah lama mereka jaga: khataman Al-Qur’an.
Kegiatan ini menjadi salah satu momen yang paling ditunggu dalam rangkaian ibadah Ramadan keluarga. Duduk bersama dalam suasana sederhana dan khidmat, mereka menuntaskan bacaan Al-Qur’an yang selama sebulan dibaca melalui kegiatan tadarus bersama.

Sejumlah anggota keluarga terlihat hadir, di antaranya Sigit Harjojudanto, Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto, serta Siti Hutami Endang Adiningsih (Mamiek Soeharto). Mereka datang bersama anggota keluarga lain, termasuk cucu dan cicit yang ikut meramaikan suasana kebersamaan tersebut.
Prosesi khataman dipimpin oleh ustaz dari Masjid Agung At-Tin, yang membimbing jalannya doa penutup atau doa khatmil Qur’an. Doa tersebut menjadi penanda selesainya pembacaan seluruh 30 juz Al-Qur’an.
Bagi banyak orang, aktivitas keluarga Cendana di bulan Ramadan selalu menarik perhatian publik. Namun bagi keluarga sendiri, kegiatan seperti ini merupakan tradisi sederhana yang sudah berlangsung sejak lama.
Ramadan yang Diisi Ibadah dan Kebersamaan
Selama bulan suci Ramadan, keluarga besar Cendana rutin mengisi waktu dengan shalat tarawih berjamaah dan tadarus Al-Qur’an. Kegiatan itu biasanya dilakukan secara bersama-sama, mempertemukan generasi yang berbeda dalam satu suasana ibadah.
Di situlah terlihat suasana berbeda dari keluarga besar yang pernah berada di pusat kekuasaan Indonesia selama puluhan tahun. Di bulan Ramadan, mereka berkumpul layaknya keluarga pada umumnya: membaca Al-Qur’an, berbagi cerita, dan mempererat silaturahmi.

Kehadiran anak-anak hingga cucu dan cicit juga memberi warna tersendiri. Generasi muda keluarga tampak ikut dalam ibadah taraweh serta tadarus, mendengarkan bacaan Al-Qur’an, hingga mengikuti doa bersama.
Tradisi Khataman yang Terus Dijaga
Khataman Al-Qur’an sendiri merupakan tradisi umat Islam yang menandai selesainya pembacaan seluruh Al-Qur’an. Dalam banyak keluarga Muslim di Indonesia, tradisi ini kerap dilakukan menjelang akhir Ramadan sebagai ungkapan syukur atas kesempatan menjalani ibadah selama sebulan penuh.
Yang menarik, setelah prosesi khataman dan doa bersama, acara dilanjutkan dengan makan bersama dalam suasana santai. Tradisi ini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari khataman, sekaligus menjadi momen mempererat silaturahmi di antara anggota keluarga dan para tamu yang hadir. Hidangan yang disajikan dinikmati bersama oleh keluarga, kerabat, serta jamaah yang mengikuti kegiatan tersebut. Dalam suasana hangat itu, percakapan ringan dan kebersamaan lintas generasi terlihat mengalir alami, menghadirkan nuansa kekeluargaan yang kental.

Bagi keluarga besar Cendana, tradisi khataman dan makan bersama ini bukan sekadar kegiatan rutin Ramadan. Lebih dari itu, momen tersebut menjadi cara untuk menjaga nilai spiritual sekaligus mempererat hubungan keluarga yang telah diwariskan sejak masa almarhum Soeharto.

Di tengah kesibukan masing-masing anggota keluarga, Ramadan selalu menjadi waktu untuk kembali berkumpul. Dan khataman Al-Qur’an di penghujung bulan suci itu menjadi penutup yang hangat—sebuah tradisi sederhana yang memadukan ibadah, rasa syukur, dan kebersamaan keluarga besar Cendana.
Bagi keluarga besar Cendana, khataman tidak hanya menjadi ibadah, tetapi juga momen berkumpul lintas generasi. Anak-anak, cucu, hingga cicit berkumpul dalam satu ruang yang sama untuk menutup Ramadan dengan doa bersama. (Koni)






