Oleh : Bakarudin AK
Channel8.co.id.– SELASA sore lalu suasana sebuah SPBU di beberapa tempat tampak terjadi antrian yang cukup Panjang. Terlintas di pikiran saya, wah, mulai terjadi kelangkaan BBM ini. Saya yang memang berniat mengisi BBM jenis Pertalite, ikut pula mengantri. Saya pun bertanya dengan beberapa pengendara, mengapa terjadi antrian Panjang? “Mulai besok (Rabu 1 April, pen) kan semua jenis BBM naik akibat perang,”tutur seorang pengendara. Saya pun perhatikan, konsumen BBM sebagian mengisi penuh tanki motornya. Ada yang 10 liter dan 5 liter. Sedangkan mobil ada pula yang mengisi di luar kebiasaan, memenuhi tanki BBMnya. Ada pula yang menambah pembelian dengan membawa botol air mineral.
“Wah, ini panic buying,”gerutu saya. Punic buying timbul lantaran ada informasi kenaikan harga, bisa juga ada informasi kelangkaan. Hal tersebut biasa kerap kali terjadi, setiap terjadi situasi yang dinilai akan mengganggu aktivitas sehari-hari atas kebutuhan barang tertentu. Saya sempat memvideokan antrian di SPBU tersebut. Semula saya berencana mengupload di akun media sosial. Sempat saya share di group WhatApp (WA). Hasilnya, ada teman yang menanggapi—naik jadi berapa? Ada pula yang menulis hoax.
Sesungguhnya saya termasuk yang mempercayai informasi kenaikan BBM, karena banyak pemberitaan yang menyebutkan sejumlah negara sudah mengalami kenaikan bahkan kelangkaan BBM akibat perang Israel – AS melawan Iran, yang berimbas blockade Selat Hormust—jalur utama kapal-kapal tanker yang menuju ke berbagai negara Eropa, Asia, dan Australia. Saya pun mencoba mencari kebeneran informasi kenaikan BBM, yang ternyata tidak benar. Hanya terlihat berdasarkan keterangan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sempat terjadi pembahasan kenaikan, namun “Atas petunjuk Presiden, maka kepentingan masyarakat lebih diutamakan,” begitu Mensesneg Prasetyo Hadi menyatakan. “Akan dilakukan pembatasan pembelian,”kata Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Nah.
Saya jadi teringat pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Menteri Penerangan Harmoko menjadi pejabat yang paling ditunggu oleh masyarakat. Mengapa? Kendati sebagian masyarkat ada yang tidak menyukai, sesungguhnya informasi yang disampaikan memberikan kepastian dan kepercayaan tentang berbagai barang kebutuhan pokok. Terbayang di mata saya, bagaimana Harmoko di layar televisi dan radio menyatakan, “harga cabe merah keriting, harga bawang merah, bawang putih, beras, dan lain-lain..”Ternyata informasi resmi pemerintah memberikan kepastian di pasar-pasar tradisional yang tersebar di seluruh penjuru tanah air. Masyarakat mendapat kepastian atas traksaksi bahan kebutuhannya.
Di tengah berkembangnya teknologi informasi, yang diwarnai dengan kebebasan pemanfaatan kanal-kanal media sosial, informasi resmi dari pemerintah sangat dibutuhkan masyarakat. Di tengah-tengah situasi tidak menentu secara geopolitik dan geoekonomi, kepekaan para pejabat pemerintah sangat dibutuhkan. Dibutuhkan kemampuan mengelola informasi (bukan dengan cara melakukan glorisasi informasi dengan memanfaatkan buzzer/pendengung), tetapi memberikan validitas informasi secara akurat, tidak meragukan apalagi berubah-ubah, yang justru menimbulkan ketidakpercayaan publik, mendorong terjadinya panic buying. Jika ini terjadi akan membahayakan, terjadinya instabilitas sosial, ekonomi dan keamanan. Apalagi jika situasi tersebut diperkeruh dengan “hadirnya para spekulan”, yang bertujuan mendapatkan keuntungan dari gejolak harga barang-barang tertentu.
Kita tentu tidak mengharapkan, konflik Timur Tengah yang dipicu Zionis Israel-AS, berimplikasi timbulnya instabilitas di Indonesia. Perjalanan negara dan bangsa Indonesia sudah memberikan pelajaran berharga, setiap gejolak yang terjadi justru merugikan kemajuan yang sedang diperjuangkan pada saat ini dan akan datang. Masyarakat pun hendaknya selalu melakukan cross check terhadap informasi yang beredar, sehingga tidak terperangkap hoax, yang bisa jadi sengaja disebarkan untuk kepentingan tertentu. (BAKARUDIN AK)
Catatan Penulis :

Bakarudin AK
Penulis dan Pengamat, dikenal melalui karya-karya di bidang biografi, ekonomi desa, dan opini terkait isu energi
============





