Oleh : Bakarudin AK
Channel8.co.id. PRESIDEN Amerika Serikat Donald John Trump boleh jadi pusing tujuh keliling berhadapan dengan Iran. Trump dari Partai Republik kelahiran Queens, New York City pada 14 Juni 1946, telah menebar kontroversi sepanjang kepemimpinannya. Menghadapi Iran yang sesungguhnya sudah mendapat sangsi ekonomi bertahun-tahun, Trump bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, tidak pernah menduga, walaupun berhasil menewaskan Ayatollah Ali Khamenei melalui serangan 28 Februari 2026, justru memicu eskalasi konflik semakin membara.
Kematian Ali Khamenei mendorong Iran melakukan pembalasan yang tidak kalah mematikan. Penggantinya Ayatollah Mojtaba Khamenei pun bersikap sangat keras. Akibatnya konflik yang direncanakan hanya berlangsung beberapa hari, ternyata tidak menunjukkan berakhir setelah satu bulan lebih.
Balasan Iran ke titik-titik strategis, menyasar pangkalan militer AS di beberapa negara tengah, menyebabkan lumpuhnya sebagian kekuatan militer untuk menghabisi perlawanan Iran. Menggunakan rudal-rudal dan drone khamikaze, Israel pun digempur Iran. Trump pun disebut petinggi Iran sebagai pembohong.
Selain itu, Iran menolak tawaran AS-Israel untuk mengakhiri perang dengan beberapa persyaratan. Sebaliknya, Iran akan mengakhiri konflik apabila AS-Israel tidak lagi melakukan aksi militer secara permanen.
Kerugian materi dan nyawa memang tidak hanya diderita Iran, Informasi-informasi tentang balasan Iran juga menyebabkan banyak kematian di pihak Israel-AS, dan hancurnya persenjataan yang dimiliki keduanya. Lebih dari itu, AS yang biasanya selalu mendapat dukungan NATO, kali ini gigit jari.
Permintaan Pentagon (Trump) untuk menggunakan pangkalan militer milik negara-negara NATO, ditolak mentah-mentah. Inggris, Italia, Turkie, Polandia, Spanyol dan sejumlah negara lain, menolak terlibat dalam peperangan dengan Iran. Negara-negara tersebut dengan lantang menolak wilayah udaranya dilalui pesawat tempur AS.
Sedangkan negara-negara Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Qatar, dan Bahrain, walaupun mendapat “kiriman” rudal, bersikap menunggu. Walaupun menyesalkan karena mendapat serangan dari Iran, namun tidak menunjukkan sikap agresifnya. Lebih dari itu dengan hancurnya pangkalan militer AS di negara masing-masing justru memberikan rasa aman, karena Iran pun menghentikan serangan. Cukup menarik, pemerintah Irak pun mengijinkan proksi Iran di negaranya untuk ikut memerangi Israel-AS.
Melihat situasi mutakhir, kita dapat menyebut Donald Trump adalah Presiden AS yang tengah menderita, akibat tidak mendapat dukungan dari negara-negara lain. Kendati begitu, Trump mengingatkan akan membalas ketiadaan dukungan negara-negara Barat. Trump memang “bermulut besar”. Apa yang dikatakannya banyak tidak menjadi kenyataan. Berkali-kali memberikan ultimatum agar Iran angkat tangan, mengibarkan bendera putih, justru menuai malu. Bahkan serangan darat yang direncanakan, boleh jadi, tidak akan dilaksanakan.
Iran menyatakan, para tentara AS akan menjadi santapan ikan hiu di Selat Hormust. Mengerikan. Dipublikasikan Iran menyiapkan 1 juta tentara untuk menghadapi tentara AS apabila berani menjejakkan kaki di wilayah Iran. Perang Iran dinilai para pengamat militer akan lebih dahasyat dibandingkan perang Vietnam (1957-1975)—yang berakhir dengan kekalahan AS. Jumlah tentara AS yang tewas mencapai 58.318 jiwa dan 300.000 lebih menderita luka-luka. Kondisi wilayah Iran yang berbukit dan terdiri dari gunung-gunung, akan menjadi kuburan massal tentara AS. Bisa dibayangkan, pastilah Iran telah menyiapkan bunker-bunker persembunyian, yang tidak diketahui militer AS walaupun dilengkapi dengan peralatan canggih sekalipun.
Rakyat AS sendiri sudah mulai turun ke jalan-jalan dalam jumlah jutaan orang. Poster-poster, spanduk-spanduk, orasi-orasi mencerca Donald Trump. Poster besar bergambar kartu King dengan kepala Trump, diberi tanda silang dan kata-kata No King. Tidak ada raja. Trump bukan berperang untuk rakyat AS, melainkan berperang untuk Benjamin Netanyahu dan Israel. Mereka pun menyuarakan pemakzulan Trump sebagai Presiden AS. Demonstrasi damai pun berubah menjadi anarkis. Aparat keamanan AS mulai melakukan tindakan keras untuk membubarkan demonstrasi mendapat perlawanan keras. Tidak hanya di kota-kota AS, demonstrasi juga berlangsung di beberapa negara Eropa. Mereka tidak hanya mengutuk Trump dan Netanyahu, sebaliknya membela Iran.
Donald Trump kali ini benar-benar “kena batunya”. Setelah kebijakan kenaikan tarif yang dilakukan Trump, boleh jadi banyak negara di belahan dunia, menyebabkan trauma dengan eksistensi kekuasaan Trump. Alhasil, Trump akhirnya menjadi kepala negara yang kesepian. Trump telah dikucilkan. Disebutkan pula Netanyahu yang telah dijatuhi sebagai penjahat perang, kecewa dengan Trump yang tidak sepenuh hati melakukan aksi militer ke Iran, walaupun telah ikut melakukan serangan udara dan menggelar kekuatan militernya di laut untuk menaklukan Iran. Mungkinkah Presiden Donald John Trump akhirnya dimakzulkan dan jatuh dari kekuasaannya? Saat ini Donald Trump tengah dikucilkan. (BAKARUDIN AK)
Catatan Penulis :

Bakarudin AK
Penulis dan Pengamat, dikenal melalui karya-karya di bidang biografi, ekonomi desa, dan opini terkait isu energi
============






