Oleh: Dr. Ir. Wachyu Hari Haji, S.Kom., MM
Perang itu jauh dari Indonesia, tetapi tidak pernah benar-benar jauh dari pikiran kita. Setiap hari, layar gawai menayangkan potongan konflik yang datang tanpa jeda. Rudal, ledakan, dan ketegangan geopolitik hadir sebagai konsumsi harian. Tanpa disadari, paparan ini tidak berhenti sebagai informasi ia berubah menjadi kecemasan yang ikut duduk di meja kerja.
Di ruang kerja, dampaknya mulai terasa. Pekerja datang seperti biasa, tetapi tidak sepenuhnya hadir. Pikiran terpecah, energi cepat habis, dan fokus mudah buyar. Produktivitas SDM tidak runtuh secara tiba-tiba, melainkan melemah perlahan—seperti fondasi yang retak dari dalam.
Fenomena ini tidak berhenti pada rasa cemas yang datang lalu hilang. Dalam kajian psikologi kerja, paparan berulang terhadap konten konflik dapat memicu trauma tidak langsung yang diam-diam mengubah cara seseorang berpikir dan bekerja. Penelitian dalam Journal of Traumatic Stress menunjukkan peningkatan kecemasan dan gangguan fungsi kognitif akibat paparan tersebut. Pada level SDM, dampaknya jelas: fokus terpecah, daya tahan mental melemah, dan keputusan kerja tidak lagi diambil dengan kejernihan penuh.
Tekanan ini kemudian bertemu dengan kondisi ekonomi global yang tidak stabil. Ketegangan geopolitik mendorong ketidakpastian kebijakan ekonomi atau Economic Policy Uncertainty (Baker, Bloom, & Davis, 2016). Dunia usaha merespons dengan menahan diri ekspansi ditunda, perekrutan melambat, dan efisiensi diperketat.
Bagi pekerja, situasi ini menciptakan tekanan berlapis. Rencana hidup terasa menggantung. Harga kebutuhan naik, biaya hidup meningkat, sementara peluang terasa makin sempit. Bekerja tidak lagi menjadi ruang untuk berkembang, tetapi sekadar cara untuk bertahan.
Ketika rasa aman terganggu, orientasi kerja ikut berubah. Kreativitas menyusut, inisiatif melemah, dan banyak pekerja masuk ke pola kerja minimal. Ini bukan karena tidak mampu, tetapi karena kapasitas mental yang terus terkikis oleh tekanan yang datang dari berbagai arah.
Dampak yang paling berbahaya justru tidak terlihat. Bukan absensi yang meningkat, melainkan kehadiran tanpa keterlibatan. Penelitian dalam Journal of Occupational and Environmental Medicine menunjukkan bahwa penurunan produktivitas akibat kondisi ini dapat melampaui dampak absensi.
Di meja kerja, gejalanya tampak sederhana: sulit fokus, cepat lelah, dan keputusan diambil sekadarnya. Namun dalam jangka panjang, kondisi ini menggerus kualitas SDM secara sistematis. Jika dibiarkan, bonus demografi bukan lagi peluang, tetapi bisa berubah menjadi beban.
Situasi ini menuntut respons yang lebih serius. Perusahaan tidak cukup hanya menjaga kinerja, tetapi juga perlu menjaga kondisi mental pekerja. Kepemimpinan perlu hadir bukan hanya sebagai pengarah target, tetapi sebagai penopang stabilitas tim. Ruang kerja harus menjadi tempat yang memberi rasa aman, bukan menambah tekanan.
Pada level kebijakan, kesehatan mental tidak bisa lagi dipinggirkan. Stabilitas ekonomi penting, tetapi tanpa manusia yang mampu berpikir jernih dan bekerja optimal, angka pertumbuhan tidak akan berarti banyak. Ketahanan nasional juga bergantung pada ketahanan psikologis SDM-nya.
Viktor Frankl pernah menulis bahwa manusia bisa bertahan dalam situasi paling berat, selama masih memiliki harapan. Namun harapan tidak tumbuh dengan sendirinya ia perlu dijaga.
Jika kecemasan terus dibiarkan mengisi ruang kerja, maka yang runtuh bukan hanya produktivitas, tetapi masa depan kualitas manusia itu sendiri.
Catatan Penulis :

Dr. Ir. Wachyu Hari Haji, S.Kom.,MM.
Human Capital Strategist, HR Digital & People Analytics, Researcher ,Lecturer, Head of Research and Community Service Trilogi University
============





