Oleh : Koni Bardianto
8 Juni 1921 – 8 Juni 2026
Ada nama-nama yang tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan sebuah bangsa. Waktu boleh berlalu, generasi boleh berganti, tetapi jejak pengabdian mereka tetap hidup dalam kenangan rakyat. Nama itu adalah Jenderal Besar TNI H.M. Soeharto.
Hari ini, Senin, 8 Juni 2026, genap 105 tahun sejak kelahiran Presiden Kedua Republik Indonesia tersebut. Bagi jutaan rakyat Indonesia, peringatan ini bukan sekadar mengenang seorang mantan presiden, melainkan mengenang sebuah masa ketika pembangunan menjadi gerakan besar yang dirasakan hingga pelosok negeri.
Soeharto lahir dari keluarga sederhana di Kemusuk, Yogyakarta. Ia bukan anak bangsawan, bukan pula keturunan orang kaya. Ia tumbuh di tengah kehidupan rakyat biasa, merasakan kesulitan hidup, memahami perjuangan petani, dan mengenal kerasnya kehidupan desa sejak kecil.
Mungkin karena itulah, ketika takdir membawanya menjadi pemimpin bangsa, ia tidak melupakan rakyat kecil.

Selama lebih dari tiga dekade memimpin Indonesia, Soeharto menempatkan pembangunan sebagai prioritas utama. Ia memahami bahwa kemerdekaan tidak cukup hanya dipertahankan, tetapi harus diisi dengan kerja nyata yang dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Di bawah kepemimpinannya, ribuan sekolah dasar dibangun melalui program SD Inpres. Jutaan anak Indonesia yang sebelumnya sulit memperoleh pendidikan akhirnya bisa belajar di sekolah yang layak. Dari sekolah-sekolah sederhana itulah lahir generasi dokter, guru, insinyur, tentara, pengusaha, dan pemimpin bangsa yang kini meneruskan pembangunan Indonesia.
Banyak orang mungkin tidak menyadari bahwa gedung sekolah yang pernah mereka tempati semasa kecil adalah bagian dari warisan pembangunan yang dimulai pada masa itu.
Tidak sedikit pula yang masih mengingat bagaimana listrik mulai masuk ke desa-desa, jalan-jalan dibangun hingga pelosok, puskesmas berdiri lebih dekat dengan masyarakat, dan irigasi mengalirkan air ke sawah-sawah petani.
Bagi para petani, masa itu menyimpan kenangan tersendiri. Indonesia yang pernah bergantung pada impor beras berhasil mencapai swasembada pangan pada tahun 1984. Dunia memberikan pengakuan, tetapi yang lebih penting adalah kebanggaan yang dirasakan rakyat Indonesia ketika negeri ini mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri.
Di mata rakyat kecil, keberhasilan itu bukan sekadar angka statistik.
Itu adalah sawah yang panennya lebih baik.
Itu adalah dapur yang tetap mengepul.
Itu adalah harapan yang tumbuh di tengah kehidupan yang sederhana.
Soeharto juga meyakini bahwa pembangunan harus dirasakan seluruh rakyat. Karena itu lahirlah berbagai program pemerataan pembangunan yang menjangkau desa-desa terpencil. Jalan raya menghubungkan daerah yang sebelumnya terisolasi. Bendungan dan jaringan irigasi memperkuat ketahanan pangan. Pelabuhan dan bandara membuka akses ekonomi yang lebih luas.
Banyak infrastruktur yang dibangun puluhan tahun lalu masih digunakan hingga hari ini, menjadi saksi bisu dari sebuah masa ketika pembangunan dilakukan secara masif dan berkelanjutan.
Namun mungkin yang paling dikenang bukan hanya bangunan fisiknya.
Yang paling dikenang adalah rasa optimisme yang tumbuh di tengah masyarakat.
Sebuah keyakinan bahwa hari esok akan lebih baik daripada hari ini.
Bahwa anak-anak mereka akan memiliki kehidupan yang lebih baik dibanding orang tuanya.
Bahwa Indonesia mampu berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia.
Soeharto dikenal sebagai pribadi yang sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Ia lebih banyak bekerja daripada berbicara. Ia percaya bahwa hasil pembangunan harus menjadi bukti nyata dari kepemimpinan.
Kini, 105 tahun setelah kelahirannya, sosok Soeharto telah menjadi bagian dari sejarah Indonesia. Namun sejarah bukan hanya tentang masa lalu. Sejarah juga tentang warisan yang terus hidup dan memberi manfaat bagi generasi berikutnya.
Ketika seorang petani menikmati air dari bendungan yang dibangun puluhan tahun lalu, ketika seorang anak belajar di sekolah yang berdiri sejak era pembangunan nasional, ketika masyarakat melintasi jalan yang menghubungkan desa dan kota, di sana terdapat jejak pengabdian yang masih berbicara tanpa kata-kata.
Pada akhirnya, seorang pemimpin tidak dikenang karena kekuasaannya.
Ia dikenang karena karya dan manfaat yang ditinggalkannya bagi rakyat.
Dan bagi banyak rakyat Indonesia, Jenderal Besar TNI H.M. Soeharto akan selalu dikenang sebagai pemimpin yang mendedikasikan hidupnya untuk membangun negeri, menjaga stabilitas, dan meletakkan fondasi bagi kemajuan Indonesia.
Mengenang 105 Tahun Kelahiran Jenderal Besar TNI H.M. Soeharto. Seorang anak desa yang mengabdikan hidupnya untuk Indonesia.Seorang pemimpin yang telah pergi, tetapi jejak pengabdiannya tetap hidup di hati jutaan rakyat Indonesia. (Koni Bardianto)
Catatan Penulis :

Koni Bardianto. S.IP.
Senior Multimedia Journalist | Former News Anchor | Former Broadcast Journalist & TV Reporter | Content Creator Berbasis Jurnalisme
============





