Berita

Bukan Politik atau Ekonomi, Buku “Laku Spiritual Pak Harto” Mengungkap Sisi Lain Sang Presiden yang Jarang Diketahui Publik

×

Bukan Politik atau Ekonomi, Buku “Laku Spiritual Pak Harto” Mengungkap Sisi Lain Sang Presiden yang Jarang Diketahui Publik

Sebarkan artikel ini
Jenderal Besar TNI H.M Soeharto

JAKARTA, Channel8.co.id Peringatan 105 tahun kelahiran Presiden ke-2 Republik Indonesia, Jenderal Besar HM Soeharto, menjadi momentum peluncuran sebuah buku yang mengangkat sisi lain perjalanan hidup dan kepemimpinan tokoh yang memimpin Indonesia selama 32 tahun tersebut.

Buku berjudul Laku Spiritual Pak Harto, Indonesia dan Kejawen: Analisis SWOT Negara ala Jawa karya wartawan senior Bambang Wiwoho resmi diperkenalkan kepada publik dalam acara Peluncuran Buku dan Saresehan Ketahanan Nasional yang digelar di Gedung IASTH, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta, Senin (8/6/2026).

Panji Adhikumoro Trihatmodjo mewakili keluarga Soeharto menerima buku Laku Spiritual Pak Harto dari penulis Bambang Wiwoho saat peluncuran buku dalam rangka peringatan 105 tahun kelahiran Soeharto di Kampus Pascasarjana Universitas Indonesia, Jakarta, Senin (8/6/2026). (Foto: Koni Bardianto)

Peluncuran buku ini menjadi bagian dari rangkaian refleksi kebangsaan dalam mengenang perjalanan sejarah Indonesia sekaligus menelaah kembali nilai-nilai kepemimpinan yang pernah mewarnai pembangunan nasional pada era Presiden Soeharto.

Baca Juga  : 105 Tahun Soeharto: Ketika Indonesia Mengenang Seorang Pemimpin yang Mengabdikan Hidupnya untuk Negeri

Buku setebal 106 halaman yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas tersebut diluncurkan secara simbolis melalui penyerahan buku dari Wakil Pemimpin Umum Harian Kompas dan Kompas.id, Paulus Tri Agung Kristanto, kepada Bambang Wiwoho sebagai penulis. Selanjutnya, Bambang menyerahkan buku tersebut kepada Panji Trihatmodjo yang merupakan cucu Presiden Soeharto.

Mengupas Sisi Spiritual Soeharto

Berbeda dengan berbagai buku yang selama ini lebih banyak membahas Soeharto dari perspektif politik, ekonomi, pembangunan, maupun dinamika kekuasaan, buku terbaru Bambang Wiwoho mencoba menghadirkan sudut pandang yang berbeda, yakni menelusuri aspek spiritualitas dan kebudayaan Jawa yang diyakini turut membentuk karakter kepemimpinan Presiden Soeharto.

“Buku ini menelusuri bagaimana nilai-nilai kejawen, laku tirakat, tradisi kebatinan Jawa, serta hubungan dengan tokoh-tokoh spiritual diyakini turut membentuk karakter, cara berpikir, dan gaya kepemimpinan Soeharto selama memimpin Indonesia,” ujar Bambang Wiwoho dalam konferensi pers peluncuran buku.

Bambang Wiwoho (tengah) didampingi Prof Dr. Ir. Arissetyanto Nugroho, MM, IPU, CMA, MSS, Wakil Pemimpin Redaksi Harian Kompas, Tri Agung Kristanto, Ketua Yayasan Kajian Citra Bangsa Mayjen (Purn) Lukman R Boer dan moderator Thowaf Zufaron saat konferensi pers peluncuran buku Laku Spiritual Pak Harto, Indonesia dan Kejawen di Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta, Senin (8/6/2026). (Foto: Koni Bardianto).

Menurut Bambang, pemahaman terhadap dimensi spiritual tersebut penting karena budaya Jawa telah menjadi salah satu unsur yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan sejarah kepemimpinan di Nusantara. Dalam konteks Soeharto, nilai-nilai seperti kesabaran, pengendalian diri, keteguhan sikap, dan orientasi pada harmoni sosial menjadi bagian yang kerap dikaitkan dengan gaya kepemimpinannya.

Perpaduan Jurnalisme, Sejarah, dan Refleksi Budaya

Sebagai wartawan senior yang mengikuti perkembangan politik nasional sejak awal dekade 1970-an, Bambang Wiwoho menyusun buku ini berdasarkan berbagai wawancara, dokumentasi sejarah, catatan jurnalistik, serta referensi yang relevan.

Melalui pendekatan jurnalistik, sejarah, dan refleksi budaya, buku ini mengajak pembaca memahami perjalanan bangsa Indonesia dari sudut pandang yang lebih luas, yakni pertemuan antara kekuasaan, kebudayaan, spiritualitas, dan kepemimpinan nasional.

Link Youtube :https://www.youtube.com/live/mOTFVxA-mFQ

Penulis menegaskan bahwa buku ini tidak disusun untuk mengagungkan maupun menghakimi sosok Soeharto. Sebaliknya, buku tersebut berupaya menghadirkan ruang pemahaman yang lebih utuh mengenai dimensi kemanusiaan seorang pemimpin yang pernah menjadi pusat kekuasaan Indonesia selama lebih dari tiga dekade.

Dalam perjalanan sejarah Indonesia, Soeharto dikenal sebagai tokoh sentral yang memimpin berbagai program pembangunan nasional, swasembada pangan, pembangunan infrastruktur, stabilitas politik, hingga transformasi ekonomi yang menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara berkembang yang diperhitungkan pada masanya.

Di sisi lain, era kepemimpinannya juga menjadi bagian penting dari perjalanan demokrasi Indonesia yang terus menjadi bahan kajian akademik, politik, dan sejarah hingga saat ini.

Analisis SWOT Indonesia dari Perspektif Budaya Jawa

Salah satu keunikan buku ini terletak pada pendekatan yang digunakan penulis dalam membaca kondisi Indonesia masa kini.

Tidak hanya membahas sosok Soeharto, Bambang Wiwoho juga menawarkan analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) terhadap kondisi bangsa Indonesia yang dipadukan dengan perspektif budaya Jawa.

Melalui pendekatan tersebut, penulis mengulas berbagai kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang dihadapi Indonesia di tengah perubahan global yang berlangsung cepat, mulai dari tantangan ekonomi, transformasi teknologi, ketahanan pangan, geopolitik internasional, hingga kualitas kepemimpinan nasional.

Buku ini juga menelaah karakter kepemimpinan para presiden Indonesia dari masa ke masa, mulai dari Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono, Joko Widodo, hingga Presiden Prabowo Subianto.

Melalui pembahasan tersebut, pembaca diajak melihat bagaimana setiap pemimpin memiliki pendekatan, karakter, dan tantangan yang berbeda dalam mengelola bangsa Indonesia sesuai konteks zamannya.

Diperkuat Kata Pengantar Paulus Tri Agung Kristanto

Nilai akademik buku semakin kuat dengan hadirnya kata pengantar dari Paulus Tri Agung Kristanto, Wakil Pemimpin Umum Harian Kompas dan Kompas.id, yang berjudul Mistik Kejawen dalam Negara Pascakolonialisme Jawa.

Tulisan tersebut memberikan perspektif mengenai posisi tradisi kejawen dalam perkembangan negara modern Indonesia sekaligus menjadi pengantar penting untuk memahami hubungan antara budaya lokal dan praktik kepemimpinan nasional.

Kehadiran kata pengantar tersebut memperkaya diskursus mengenai bagaimana nilai-nilai tradisional dapat tetap relevan dalam memahami perjalanan bangsa di era modern.

Ruang Refleksi Kebangsaan

Menurut Bambang Wiwoho, peluncuran buku ini diharapkan tidak hanya menjadi peristiwa literasi semata, tetapi juga menjadi ruang refleksi bersama mengenai hubungan antara kepemimpinan, budaya, spiritualitas, dan masa depan Indonesia.

“Melalui pemahaman yang lebih mendalam terhadap pengalaman sejarah bangsa, masyarakat diharapkan dapat memperoleh pelajaran berharga untuk memperkuat ketahanan nasional dan memperkaya khazanah pemikiran kebangsaan Indonesia,” ujarnya.

Youtube link : https://www.youtube.com/watch?v=aACyC5rRCPk

Kegiatan peluncuran buku ini terselenggara atas kerja sama Yayasan Kajian Citra Bangsa (YKCB), Yayasan Pengembangan Pendidikan Indonesia Jakarta (Universitas Trilogi), Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia, dan Penerbit Buku Kompas dan media partner Channel8.co.id.

Selain menjadi momentum peluncuran buku, acara tersebut juga menjadi forum dialog publik yang menghadirkan berbagai kalangan akademisi, tokoh masyarakat, pemerhati sejarah, serta pegiat kebudayaan untuk membahas ketahanan nasional dari perspektif sejarah, budaya, dan kepemimpinan bangsa.

Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi Indonesia saat ini, buku Laku Spiritual Pak Harto, Indonesia dan Kejawen: Analisis SWOT Negara ala Jawa hadir sebagai ajakan untuk melihat kembali pengalaman sejarah bangsa, memahami nilai-nilai budaya yang membentuk karakter kepemimpinan nasional, sekaligus menjadikannya sebagai bahan refleksi dalam membangun Indonesia yang lebih kuat di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *