Channel8.co.id, Jakarta. Dalam sejarah Indonesia, nilai budaya, simbol, dan keyakinan spiritual juga kerap memengaruhi cara seorang pemimpin memahami kekuasaan. Perspektif itulah yang ditulis wartawan senior Bambang Wiwoho dalam buku “Laku Spiritual Pak Harto, Indonesia, dan Kejawen: Analisis SWOT Negara ala Jawa”.
Buku tersebut menawarkan cara pandang berbeda dalam membaca sosok Presiden ke-2 Republik Indonesia Jenderal Besar HM. Soeharto.
“Selama ini Pak Harto lebih banyak dibaca dari sisi politik, ekonomi, dan kekuasaan. Padahal ada dimensi lain yang turut membentuk cara pandang, keteguhan sikap, dan ketenangannya dalam menghadapi berbagai persoalan bangsa,” ujar Bambang dalam konferensi pers peluncuran buku “Laku Spiritual Pak Harto, Indonesia dan Kejawen : Analisis SWOT Negara ala Jawa”, di Gedung IASTH, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan UI, Salemba, Jakarta, Senin 8 Juni 2026.

Bambang memilih menelusuri sosok Soeharto dari ruang yang lebih personal dan jarang dibahas. Yakni dunia batin, laku spiritual, serta pengaruh tradisi kejawen terhadap cara pandangnya dalam memimpin negara.
Dalam buku itu, Soeharto tidak semata ditempatkan sebagai figur politik yang berkuasa selama lebih dari tiga dekade. Soeharto digambarkan sebagai seorang manusia Jawa yang tumbuh dalam lingkungan budaya tertentu, menjalani berbagai laku kebatinan, dan meyakini bahwa kepemimpinan tidak hanya dibangun melalui kecakapan politik dan kemampuan mengelola kekuasaan.
Lihat Juga Youtube: https://www.youtube.com/live/mOTFVxA-mFQ
“Tetapi juga melalui pengendalian diri, keselarasan hidup, dan kemampuan membaca perubahan zaman”, jelas Bambang.
Menurutnya, pembahasan mengenai aspek spiritual Soeharto selama ini sering muncul dalam bentuk cerita lisan, kesaksian orang-orang terdekat, maupun kisah yang berkembang di masyarakat. Dan sebagian kalangan memandangnya sebagai fakta budaya, sementara sebagian lain menganggapnya sekadar mitos yang tumbuh di sekitar kekuasaan.
Melalui buku ini, Bambang berupaya menempatkan berbagai kisah tersebut dalam konteks budaya Jawa yang lebih luas. Sebagai penulis, ia memahami perjalanan kepemimpinan Soeharto tidak bisa dilepaskan dari cara pandang masyarakat Jawa terhadap kekuasaan, legitimasi, dan hubungan manusia dengan alam semesta.
“Melalui sosok Pak Harto, saya ingin mengajak pembaca memahami bagaimana tradisi Kejawen memandang kepemimpinan, kekuasaan, dan hubungan manusia dengan zamannya. Ini bukan hanya buku tentang Soeharto, tetapi juga tentang cara pandang budaya Jawa terhadap seorang pemimpin,” kata Bambang.
Politik Tidak Selalu Bergerak Karena Faktor Rasional
Buku tersebut mengangkat sejumlah konsep penting dalam tradisi Jawa seperti wahyu kekuasaan, kebatinan, hingga angon wayah. Dalam pandangan Jawa, jelas Bambang, wahyu kekuasaan dipahami sebagai legitimasi moral dan spiritual yang membuat seseorang memperoleh amanah kepemimpinan. Sementara angon wayah merujuk pada kemampuan seorang pemimpin membaca momentum dan memahami perubahan zaman.
BACA JUGA : 105 Tahun Soeharto: Ketika Indonesia Mengenang Seorang Pemimpin yang Mengabdikan Hidupnya untuk Negeri
Bambang menilai konsep-konsep tersebut masih relevan untuk memahami perjalanan berbagai pemimpin Indonesia. Menurutnya, dalam praktiknya politik tidak selalu bergerak berdasarkan kalkulasi rasional semata. Simbol, nilai budaya, dan keyakinan kolektif masyarakat sering kali memiliki pengaruh yang besar terhadap penerimaan publik terhadap seorang pemimpin.
“Politik tidak selalu bergerak hanya karena faktor-faktor yang rasional. Dalam sejarah Indonesia, simbol, budaya, dan keyakinan kolektif juga memiliki pengaruh yang besar terhadap cara masyarakat memandang seorang pemimpin,” ujar Bambang.
Bambang Wiwoho , Penulis buku Laku Spiritual Pak Harto memberikan sambutan dalam peluncuran buku di Gedung Pasca Sarjana UI Salemba Jakarta, Senin 8/6/2026 ( Foto : Koni Bardianto)
Melalui kisah Soeharto, buku ini juga mengulas hubungan antara kekuasaan dan kesadaran akan batas kekuasaan itu sendiri. Dalam tradisi Jawa, seorang pemimpin dinilai tidak hanya harus mampu memperoleh dan mempertahankan kekuasaan, tetapi juga memahami kapan kekuasaan itu harus dilepaskan.
Pandangan tersebut tercermin dalam berbagai ajaran kepemimpinan Jawa yang menekankan pentingnya keseimbangan, pengendalian diri, serta kemampuan memahami perubahan zaman.
“Seorang pemimpin dianggap ideal ketika mampu menjaga harmoni antara kepentingan pribadi, masyarakat, dan alam semesta,” ungkap Bambang.
“Seorang pemimpin bukan hanya dituntut mampu memimpin, tetapi juga mampu membaca tanda-tanda zaman dan memahami batas kekuasaannya sendiri,” tegasnya.
Buku ini juga mengajak pembaca melihat bahwa sejarah politik Indonesia tidak hanya dibentuk oleh kebijakan negara, pergantian rezim, atau dinamika elite politik. Di balik berbagai peristiwa besar yang tercatat dalam sejarah nasional, terdapat dunia simbolik yang ikut memengaruhi cara para pemimpin memahami dirinya dan peran yang mereka jalankan.
Pak Harto Pemimpin Yang Mampu Mengelola Diri
Dalam ulasannya, Wiwoho menyoroti bagaimana tradisi Kejawen memandang kepemimpinan sebagai proses pengelolaan diri sebelum mengelola orang lain. Seorang pemimpin harus mampu mengendalikan hawa nafsu, menjaga keseimbangan batin, dan memahami posisi dirinya di tengah masyarakat.
Pendekatan tersebut berbeda dengan cara pandang modern yang cenderung menilai kepemimpinan melalui ukuran-ukuran yang lebih terukur seperti pertumbuhan ekonomi, tingkat popularitas, atau efektivitas kebijakan. Namun menurut Bambang, kedua pendekatan itu tidak selalu saling bertentangan. Dalam banyak kasus, keduanya justru berjalan berdampingan dan saling memengaruhi.

Sebagai wartawan yang lama berada di lingkungan kekuasaan pemerintah, Bambang memiliki akses terhadap berbagai sumber dan pengalaman yang memperkaya narasi dalam buku tersebut.
Pengalaman itu membuat sejumlah bagian buku menghadirkan gambaran yang lebih dekat mengenai sisi personal Presiden Soeharto yang jarang muncul dalam buku-buku sejarah politik.
Melalui Laku Spiritual Pak Harto, Indonesia, dan Kejawen Indonesia dan Kejawen : Analisis SWOT Negara ala Jawa”, Bambang tidak mengajak pembaca untuk mempercayai praktik mistik atau menempatkan spiritualitas sebagai penjelasan tunggal atas perjalanan sejarah. Sebaliknya, buku ini mencoba menunjukkan bahwa dalam konteks Indonesia, rasionalitas modern dan tradisi budaya sering kali berjalan berdampingan dalam membentuk cara para pemimpin memandang kekuasaan dan menjalankan pemerintahan.
Buku ini menjadi refleksi mengenai kepemimpinan, budaya, dan sejarah Indonesia. Di tengah dominasi pembahasan politik yang sering berfokus pada perebutan kekuasaan dan pertarungan kepentingan, Wiwoho mengingatkan bahwa terdapat dimensi lain yang turut bekerja di balik layar, yakni nilai-nilai budaya, keyakinan, dan laku batin yang membentuk cara seorang pemimpin memahami dirinya serta arah perjalanan bangsa.
Dalam buku tersebut, Soeharto tidak pertama-tama hadir sebagai kepala negara yang berkuasa selama lebih dari tiga dekade. Ia ditampilkan sebagai manusia Jawa yang menjalani laku spiritual, percaya bahwa kepemimpinan tidak hanya dibangun melalui kecakapan politik dan strategi, tetapi juga melalui pengendalian diri, pengolahan batin, serta kemampuan membaca tanda-tanda zaman.

Bambang menuturkan, berbagai kisah tentang semadi, guru spiritual, tempat-tempat keramat, hingga perjalanan batin Soeharto selama ini lebih sering beredar sebagai cerita dari mulut ke mulut. Sebagian diterima sebagai fakta budaya, sebagian lain dianggap sekadar mitos yang dipelihara oleh kekuasaan.
“Saya berusaha menempatkan semua itu bukan sebagai sensasi, melainkan sebagai bagian dari lanskap kebudayaan yang membentuk cara seorang pemimpin memandang dunia,” kata Bambang
Lebih jauh, buku ini sesungguhnya tidak hanya berbicara mengenai Soeharto. Tokoh besar yang hadir di dalamnya justru Kejawen itu sendiri. Melalui perjalanan hidup Soeharto, pembaca diajak memahami cara pandang yang telah berabad-abad memengaruhi budaya politik Jawa.
Di dalamnya terdapat keyakinan bahwa kekuasaan harus berjalan selaras dengan harmoni semesta, bahwa seorang pemimpin harus mampu mengendalikan dirinya sebelum mengendalikan orang lain, serta bahwa keberhasilan sering kali ditentukan oleh kemampuan memahami momentum dan waktu yang tepat.
Maka itu, Bambang mengangkat sejumlah konsep penting dalam tradisi Jawa seperti wahyu kekuasaan, kebatinan, hingga angon wayah—kemampuan membaca dan memahami zamannya sendiri.
“Dalam pandangan Jawa, seorang pemimpin tidak sekadar hadir karena prosedur politik. Ia hadir karena zamannya menghendaki. Ketika zaman itu berakhir, ia juga harus mampu mengenali tanda-tandanya,” jelas Bambang.
Pendekatan tersebut menjadi menarik di tengah dominasi cara berpikir modern yang cenderung menjelaskan politik melalui angka survei, kekuatan modal, algoritma media sosial, dan manuver elite. Buku ini menawarkan perspektif bahwa sejarah Indonesia juga dibentuk oleh dunia simbolik, keyakinan kolektif, serta nilai-nilai budaya yang bekerja di balik layar kekuasaan.
Sebagai jurnalis yang lama berinteraksi dengan lingkaran kekuasaan, Bambang memiliki akses pada berbagai sumber dan pengalaman yang membuat sejumlah bagian buku terasa hidup. Pembaca tidak hanya diajak melihat seorang presiden yang mengambil keputusan-keputusan besar, tetapi juga seorang manusia yang bergulat dengan keyakinan, keraguan, dan pencarian makna.
Meski demikian, buku ini tidak luput dari kritik. Beberapa bagian bergerak di wilayah interpretasi yang sulit diverifikasi secara akademik. Kedekatan penulis dengan sosok yang dibahas juga membuat sebagian pembaca mungkin mempertanyakan jarak kritis yang digunakan.
Namun justru di situlah posisi buku ini. Ia hadir di antara sejarah, kebudayaan, dan keyakinan. Bukan untuk menghakimi atau memuliakan, melainkan untuk memahami.
Pada akhirnya, Laku Spiritual Pak Harto, Indonesia dan Kejawen menawarkan cara pandang baru terhadap sejarah Indonesia. Buku ini mengingatkan bahwa di balik pidato politik, kebijakan negara, pergantian kabinet, dan dinamika kekuasaan, terdapat dunia batin yang turut memengaruhi cara para pemimpin memahami diri mereka sendiri dan arah bangsa yang dipimpinnya.
Lihat Juga Youtube Channel8.co.id : https://www.youtube.com/watch?v=aACyC5rRCPk
“Membaca sejarah Indonesia tidak cukup hanya melihat apa yang terjadi di ruang depan. Ada ruang belakang yang sering luput diperhatikan, tempat nilai, simbol, dan laku batin ikut bekerja membentuk perjalanan bangsa,” pungkas Bambang.
Melalui buku ini, Bambang mengajak memasuki ruang belakang tersebut. Sebuah ruang yang memperlihatkan bahwa politik bukan semata-mata soal perebutan kekuasaan, melainkan juga tentang pergulatan batin manusia yang menjalaninya.





