Channel8.co.id – Jakarta. Di usia yang tak lagi muda, ibadah haji menjadi perjalanan fisik dan batin yang penuh tantangan. Bagi banyak jemaah lansia Indonesia, sepiring makanan yang akrab di lidah kerap menjadi penopang tenaga sekaligus penguat rindu pada rumah. Inilah yang kini menjadi perhatian pemerintah.
Kementerian Haji dan Umrah menyiapkan sajian bercita rasa Nusantara untuk jemaah haji Indonesia pada musim haji 2026. Kamis (8/1/2026), Menteri Haji dan Umrah RI, KH Mochammad Irfan Yusuf atau Gus Irfan, bersama jajaran Kemenhaj, menguji dan mencicipi langsung menu makanan yang akan disajikan kepada jemaah di Tanah Suci.
Uji cita rasa dilakukan di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur. Beragam aneka menu dari perusahaan penyedia Ready to Eat (RTE) tersaji, mulai dari nasi dengan bumbu khas Indonesia hingga makanan praktis yang mudah dikonsumsi jemaah lanjut usia.
Di hadapan para vendor, Gus Irfan menyusuri satu per satu meja sajian. Nasi hangat dengan bumbu khas Indonesia, lauk bercita rasa rumahan, hingga menu siap saji yang praktis namun tetap akrab di lidah, menjadi fokus penilaian.
“Kami ingin memastikan jemaah tetap bisa makan dengan lahap. Ada nasi, ada bumbu, seperti yang biasa dikonsumsi sehari-hari di Tanah Air,” ujar Gus Irfan.

Menurutnya, masukan dari jemaah dan berbagai pihak menunjukkan satu kebutuhan yang sama: rasa Indonesia tidak boleh hilang meski berada ribuan kilometer dari rumah. Banyak jemaah, terutama lansia, kesulitan menyesuaikan diri dengan kuliner asing selama di Saudi Arabia.
“Harapan jemaah jelas, mereka ingin masakan Nusantara tetap tersaji. Karena itu, hari ini kita hadirkan cita rasa Indonesia untuk jamaah kita,” katanya.
Gus Irfan menegaskan, kehadiran makanan bercita rasa Nusantara bukan sekadar soal selera, melainkan bagian dari ikhtiar menjaga kesehatan jemaah. Ibadah haji menuntut fisik yang kuat, sementara tubuh tidak bisa bekerja optimal tanpa asupan yang sesuai.
“Kami sadar, makanan adalah penunjang utama kesehatan jemaah. Kalau makannya cocok, insyaallah fisik juga lebih terjaga, sehingga ibadah bisa dijalankan dengan lebih khusyuk,” ujarnya.
Tak hanya rasa, standar gizi juga menjadi perhatian serius. Setiap menu harus memenuhi ukuran porsi, kandungan nutrisi, dan kualitas bahan yang memadai. Pemerintah bahkan berupaya keras agar bahan makanan, termasuk beras dari Indonesia, bisa digunakan untuk konsumsi jemaah di Tanah Suci.
“Itu tidak mudah, tetapi terus kami upayakan. Ini bagian dari perlindungan negara kepada jamaahnya,” tegas Gus Irfan.
Proses uji makanan ini melibatkan sejumlah institusi, seperti IBP Pangan, NHI Bandung, dan Sahid Jakarta, guna memastikan makanan yang disajikan benar-benar layak, aman, dan bergizi.
Seiring peningkatan kualitas layanan, kebutuhan bumbu masak khas Indonesia juga diproyeksikan meningkat. Jika tahun lalu mencapai sekitar 400 ton, pada musim haji 2026 jumlahnya diperkirakan naik menjadi sekitar 600 ton.
Belasan perusahaan akan menangani layanan konsumsi haji tahun ini, termasuk penyedia makanan siap saji untuk jemaah di Arafah dan Mina. Menu ramah lansia seperti bubur dan kacang hijau turut disiapkan, agar setiap jemaah—tanpa terkecuali—tetap kuat melangkah menuntaskan ibadah sucinya.





