Channel8.co.id – Jakarta. Hujan belum sepenuhnya berhenti, dan duka masih menyelimuti ribuan keluarga di Sumatera. Satu per satu kabar kehilangan kembali datang. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, jumlah korban meninggal akibat bencana ekologis di Sumatera kembali bertambah. Hingga Ahad sore, 4 Januari 2026, total korban jiwa mencapai1.177 orang.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyampaikan bahwa tambahan korban berasal dari beberapa daerah yang masih berjuang di tengah lumpur dan puing-puing.
“Terdapat tambahan korban meninggal dunia di Aceh Utara sebanyak tiga jiwa, Tapanuli Selatan lima jiwa, dan Sumatera Barat dua jiwa,” ujarnya dalam jumpa pers di Graha BNPB Jakarta, Minggu, 4 Januari 2025.
Di balik angka-angka itu, Aceh kembali menjadi wilayah dengan luka terdalam. Dari total korban jiwa, 543 orang berasal dari Aceh, menjadikannya provinsi dengan jumlah korban meninggal terbanyak. Banjir dan tanah longsor menerjang 18 kabupaten dan kota, memaksa ratusan ribu warga meninggalkan rumah yang kini tak lagi utuh.
Di tenda-tenda pengungsian, kehidupan berjalan dalam keterbatasan. Meski jumlah pengungsi berkurang 15.606 orang, hingga kini masih ada 242.174 jiwa yang menggantungkan hidup pada bantuan darurat. Anak-anak, lansia, dan perempuan menjadi kelompok paling rentan di tengah kondisi tersebut.
Sumatera Utara mencatat 370 korban meninggal, dengan 43 orang lainnya masih belum ditemukan. Sementara di Sumatera Barat, 264 jiwa meregang nyawa akibat banjir dan longsor, dengan 74 orang yag masih hilang serta lebih dari 10 ribu warga di provinsi itu masih bertahan di pengungsian, menunggu kepastian kapan bisa kembali ke rumah.
Bencana ini tak hanya merenggut nyawa, tetapi juga memporak-porandakan kehidupan. BNPB mencatat 178.479 rumah rusak, ratusan fasilitas kesehatan, ribuan sekolah, dan ratusan rumah ibadah hancur atau tak bisa digunakan. Jalan terputus, jembatan roboh, dan akses bantuan pun kerap terhambat.
Di tengah keterbatasan, harapan masih dijaga. Pemerintah bersama BNPB dan relawan terus berpacu dengan waktu—mencari yang hilang, merawat yang selamat, dan memulihkan kehidupan yang tersisa. Namun bagi ribuan keluarga, bencana ini telah meninggalkan luka yang tak mudah sembuh.





