BeritaOpiniPangan

Soeharto: Dari Desa Kemusuk ke Panggung Sejarah Indonesia

×

Soeharto: Dari Desa Kemusuk ke Panggung Sejarah Indonesia

Sebarkan artikel ini
Siti Hardiyanti Rukmana atau Tutut Soeharto berfoto di samping Foto Jenderal besar TNI HM Soeharto di ruang kaca kediaman Soeharto jalan Cendana Menteng Jakarta. (Foto Koni Bardianto)

Channel8.co.id– Jakarta. Tak banyak yang berubah di Kemusuk, Yogyakarta, sejak 8 Juni 1921. Desa itu tetap sederhana. Namun dari sanalah lahir Soeharto, seorang anak desa yang perjalanan hidupnya kelak bersentuhan langsung dengan arah sejarah Indonesia.

Soeharto tumbuh dalam suasana serba terbatas. Disiplin dan ketekunan membawanya ke dunia militer—jalur yang kemudian mengantarkannya ke pusat peristiwa nasional. Indonesia kala itu masih mencari bentuk, diguncang pergolakan politik dan ekonomi. Di tengah situasi tersebut, nama Soeharto perlahan dikenal sebagai sosok yang tenang dan terukur.

Kediaman Soeharto yang telah kini menjadi Museum Jenderal Besar HM Soeharto di Dusun Kemusuk,di Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. (Foto Drone Istimewa)

Pasca gejolak politik pertengahan 1960-an, Soeharto dipercaya memimpin negara. Pada 1967, ia resmi menjadi Presiden Republik Indonesia. Masa kepemimpinannya kemudian dikenal sebagai era Orde Baru, dengan fokus utama pada stabilitas dan pembangunan.

Putra putri Jendral Besar TNI HM Soeharto . Dari kiri Bambang Trihatmojo , Tutut Soeharto dan Titiek Soeharto foto bersama di Istana Negara Jakarta. Senin – 10/11/ 2025 (Foto Koni Bardianto)

Pemerintah meluncurkan Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) sebagai panduan pembangunan jangka panjang. Jalan-jalan dibangun, bendungan dan irigasi diperluas, sekolah serta fasilitas kesehatan menjangkau daerah-daerah yang sebelumnya sulit diakses. Pembangunan tidak selalu terasa cepat, tetapi berlangsung konsisten.

Salah satu capaian yang kerap dikenang adalah swasembada beras pada 1984. Indonesia, yang sebelumnya bergantung pada impor, berhasil memenuhi kebutuhan pangannya sendiri. Keberhasilan ini mendapat pengakuan internasional dari FAO dan memberi rasa percaya diri bagi bangsa yang sebagian besar penduduknya hidup dari sektor pertanian. Program intensifikasi pertanian, pembangunan irigasi, serta dukungan bagi petani menjadi bagian dari kebijakan yang berdampak luas pada ketahanan pangan nasional.

Di kancah internasional, Indonesia tampil aktif dan stabil. Hubungan regional diperkuat melalui ASEAN, sementara kebijakan luar negeri dijalankan dengan pendekatan seimbang. Pada masanya, Indonesia dikenal sebagai negara berkembang dengan pertumbuhan ekonomi yang relatif terjaga.

Namun waktu terus berjalan, dan tantangan pun datang. Krisis ekonomi 1997–1998 menjadi ujian berat yang mengguncang sendi kehidupan nasional. Perubahan besar pun tak terelakkan. Pada 21 Mei 1998, Soeharto mengakhiri masa jabatannya, menutup satu bab panjang kepemimpinan.

Soeharto wafat pada 27 Januari 2008. Kini, namanya tercatat dalam sejarah sebagai pemimpin yang membangun fondasi penting Indonesia modern. Seiring waktu, kisah kepemimpinannya terus dibaca ulang—sebagai cermin perjalanan bangsa, lengkap dengan capaian, dinamika, dan pelajaran berharga bagi generasi berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *