BeritaFotoHistoria

Saat Presiden Soeharto Menyapa Korban Gempa Kerinci 1995: Negara Hadir di Tengah Lumpur dan Duka

×

Saat Presiden Soeharto Menyapa Korban Gempa Kerinci 1995: Negara Hadir di Tengah Lumpur dan Duka

Sebarkan artikel ini
Presiden Soeharto (kiri) berjabat tangan dengan warga setempat yang tinggal di hunian sementara pada 11 Oktober 1995, dalam kunjungan singkatnya untuk meninjau langsung dampak gempa bumi yang mengguncang wilayah pegunungan Sumatra Barat pada 7 Oktober1995

Channel8.co.id – Sungai Penuh. Sebuah foto lama merekam momen yang hingga kini tetap berbicara tentang empati dan kehadiran negara. Presiden Soeharto tampak menjulurkan tangan, menjabat warga yang berdiri di ambang hunian sementara. Lumpur masih menggenang di bawah kaki, dinding kayu menjadi saksi keterbatasan, sementara wajah-wajah lelah menatap penuh harap.

Momen tersebut terjadi saat Presiden Soeharto melakukan kunjungan singkat ke Sungai Penuh, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, pada 11 Oktober 1995. Kunjungan itu dilakukan hanya beberapa hari setelah gempa bumi besar mengguncang wilayah Kerinci dan sekitarnya pada 7 Oktober 1995, tepat pukul 01.18 WIB.

Gempa bumi Kerinci 1995 tercatat berkekuatan 6,8 Mw dan 6,9–7,0 Ms. Bencana ini menimbulkan dampak luas dan memilukan. Sedikitnya 84 orang meninggal dunia, dengan laporan internasional menyebut jumlah korban jiwa bahkan bisa mencapai 100 orang. Ratusan warga mengalami luka berat dan ringan, sementara puluhan ribu lainnya kehilangan tempat tinggal.

Dalam foto tersebut, Presiden tidak berdiri di balik podium atau pagar pengamanan. Ia turun langsung ke lokasi terdampak, menyapa satu per satu warga yang bertahan di hunian darurat. Genggaman tangan, tatapan mata, dan senyum tipis menjadi bahasa empati yang melampaui kata-kata resmi.

Secara geologis, gempa Kerinci 1995 dipicu oleh aktivitas patahan geser dangkal di sepanjang Sesar Besar Sumatra, tepatnya pada segmen Siulak. Segmen patahan ini diketahui telah lama tidak aktif sejak gempa besar tahun 1909. Aktivitas kembali patahan tersebut menyebabkan kerusakan hebat, terutama di lembah-lembah yang sejajar dengan jalur sesar, termasuk wilayah di sekitar Danau Kerinci.

Data mencatat, sekitar 7.137 rumah serta berbagai fasilitas umum—mulai dari sarana transportasi, irigasi, tempat ibadah, pasar, hingga pertokoan—mengalami kerusakan. Secara keseluruhan, lebih dari 17.600 bangunan terdampak, dengan sekitar 4.000 bangunan hancur atau rusak parah. Akibatnya, sedikitnya 65.000 warga terpaksa mengungsi.

Gempa juga memicu tanah longsor besar di sejumlah wilayah perbukitan, mengubur permukiman dan menambah jumlah korban. Getaran gempa bahkan dirasakan hingga Singapura, sekitar 470 kilometer dari pusat gempa, memicu kepanikan dan membuat warga keluar dari gedung-gedung tinggi.

Di tengah situasi darurat tersebut, kehadiran Presiden Soeharto di Sungai Penuh dipandang sebagai simbol kehadiran negara di saat rakyat menghadapi krisis. Selain menyapa korban, Presiden juga meninjau langsung penanganan darurat, termasuk kondisi pengungsian, pelayanan kesehatan, serta distribusi bantuan logistik.

Kini, puluhan tahun berselang, foto Presiden Soeharto yang menjabat tangan korban gempa Kerinci 1995 menjadi bagian dari arsip visual sejarah bangsa. Ia tidak hanya merekam sebuah peristiwa bencana, tetapi juga merefleksikan relasi antara pemimpin dan rakyat, empati negara, serta semangat untuk bangkit dari duka.

Bagi para korban, ingatan tentang uluran tangan di tengah lumpur itu tetap hidup—sebagai simbol perhatian, harapan, dan awal dari proses pemulihan setelah salah satu bencana besar di Sumatra pada dekade 1990-an.


Kalau mau, saya bisa:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *