BeritaFeature

Dari Hutan Gunung Tua, Cahaya Iman Menyala untuk Suku Tau Taa Wana

×

Dari Hutan Gunung Tua, Cahaya Iman Menyala untuk Suku Tau Taa Wana

Sebarkan artikel ini

Channel8.co.id – Morowali Utara. Kabut pagi masih menggantung di perbukitan Gunung Tua Tokala ketika ratusan pasang mata berkumpul di sebuah balai sederhana. Bangunan itu baru selesai beberapa hari sebelumnya, berdiri di tengah hutan dan ladang berpindah yang selama ini menjadi rumah Suku Tau Taa Wana. Jumat (26/12/2025) pagi itu, sejarah pun ditulis—sunyi, khidmat, dan penuh haru.

Pukul 10.00 WITA, ratusan warga Tau Taa Wana, dari anak-anak hingga orang tua, mengangkat telunjuk tangan kanan mereka ke langit. Dengan suara yang bergetar namun mantap, dua kalimat syahadat terucap serempak. Dari pedalaman Sulawesi Tengah, sebuah babak kehidupan baru dimulai.

Prosesi sakral itu dipandu oleh Ustadz Sigit, Ketua Dewan Dakwah Morowali Utara, bersama Koh Dondy Tan—aktivis mualaf yang dikenal luas dalam dakwah lintas iman—serta Tim LAZNAS Dewan Dakwah yang menempuh perjalanan panjang demi mengawal pensyahadatan akbar tersebut.

200 orang suku Tau Tana Wana bersyahadat masuk Islam di pedalaman Gunung Tua, Morowali Utara. Foto : Istimewa.

Menariknya, ikrar suci itu tidak hanya diucapkan dalam bahasa Arab dan Indonesia, tetapi juga dalam bahasa Ta’a—bahasa ibu Tau Taa Wana. Kepala suku pun turut menuntun pengucapan syahadat dalam bahasa leluhur mereka, menjadikan momen tersebut terasa sangat dekat dengan identitas dan jiwa komunitas adat itu.

Aku mengento’o tare epu’e tayusa data manyomba engkita ojopu’e Allah…,” ucap sang kepala suku, diikuti ratusan suara yang menyatu dalam satu keyakinan.

Mereka yang bersyahadat adalah masyarakat Tau Taa Wana asli Gunung Tua dan dusun-dusun sekitarnya. Selama puluhan tahun, mereka hidup nomaden, berladang di hutan dan perbukitan, serta memegang kepercayaan animisme. Beberapa hari sebelum prosesi, mereka berjalan dari dusun-dusun terpencil untuk berkumpul di Gunung Tua—sebuah tanda kesiapan batin dan tekad yang bulat.

Tak sedikit dari mereka yang belum fasih berbahasa Indonesia. Namun keterbatasan bahasa tak menghalangi ketulusan niat. Para dai Dewan Dakwah yang telah lama mengabdi di pedalaman menjadi jembatan pembinaan, mengajarkan Islam dengan pendekatan budaya dan kesabaran.

Syahadat massal ini bukanlah akhir, melainkan awal. Usai prosesi, kegiatan dilanjutkan dengan khitanan massal, layanan kesehatan gratis, peresmian masjid, hingga makan bersama. Semua dilakukan sebagai bentuk syukur dan penguatan ukhuwah bagi para mualaf yang baru memulai perjalanan iman.

Peristiwa ini diselenggarakan oleh Dewan Dakwah Morowali Utara bersama LAZNAS Dewan Dakwah. Bukan yang pertama, namun selalu bermakna. Pada 2020 lalu, sekitar 300 warga Tau Taa Wana juga mengikrarkan syahadat di Masjid Jami’ Al Furqon, Desa Tanasumpu, Kecamatan Mamosalato.

Sejumlah tokoh nasional turut memberikan dukungan, di antaranya Ustadz Abdul Somad, serta Koh Dondy Tan yang hadir langsung membersamai masyarakat Gunung Tua dalam momen bersejarah tersebut.

Gunung Tua sendiri masih terus berbenah. Masjid dan sekolah menjadi agenda berikutnya—sebagai pusat ibadah dan pendidikan bagi generasi Tau Taa Wana yang kini tumbuh dalam cahaya Islam.

Jumat terakhir di penghujung 2025 itu menjadi penanda penting. Sebuah perjalanan panjang dakwah yang telah dirintis sejak 2004 akhirnya berbuah. Sejak awal pengabdian Ustadz Sigit di Morowali Utara, kelompok-kelompok Tau Taa Wana kerap datang dengan satu harapan sederhana namun mendalam: mengenal Islam.

Kini, mereka menetap dan dibina secara berkelanjutan di kampung-kampung mualaf seperti Lambentana, Ngoyo, dan Uwemalingku. Dari pedalaman hutan, cahaya iman itu terus menyala—pelan, namun pasti, menerangi masa depan Tau Taa Wana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *