Channel8.co.id – Sumut. Di tengah puing, lumpur, dan duka yang masih menyelimuti wilayah terdampak bencana, Presiden memilih hadir langsung bersama rakyat. Bukan dari balik meja, melainkan di lokasi yang menyimpan cerita kehilangan dan harapan yang sedang dibangun kembali.
Dengan nada tenang namun tegas, Presiden menyampaikan pesan utama: negara tidak akan meninggalkan rakyatnya. Ia memastikan seluruh kekuatan pemerintah dikerahkan untuk membantu warga bangkit dari musibah, mulai dari pemulihan akses hingga pembangunan kembali rumah yang hilang.
“Kita menghadapi kesulitan dan cobaan, tetapi kita harus tetap kuat dan bergotong royong,” ujar Presiden di hadapan warga. Ia menegaskan, para menteri telah ditugaskan turun langsung ke lapangan untuk memastikan setiap daerah terdampak mendapatkan penanganan yang adil dan cepat.
Hasilnya mulai terlihat. Di Tapanuli Selatan, desa-desa yang sebelumnya terisolasi kini kembali terhubung. Akses jalan dan jembatan darurat berhasil dibangun dalam waktu singkat. Salah satu jembatan bahkan rampung hanya dalam 10 hari—sebuah capaian yang menunjukkan kerja kolektif TNI, Polri, BNPB, Kementerian PUPR, pemerintah daerah, dan masyarakat.

Namun bagi Presiden, pembangunan fisik bukan satu-satunya prioritas. Ia menyampaikan duka mendalam kepada keluarga korban dan memastikan negara hadir dalam pemulihan kehidupan warga. Rumah-rumah yang rusak akan diganti, dan para korban akan diurus sebaik-baiknya.
Di hadapan para petugas yang telah berminggu-minggu berada di lokasi, Presiden menyampaikan apresiasi. Banyak di antara mereka bekerja siang dan malam, jauh dari keluarga, demi satu tujuan: menyelamatkan dan memulihkan kehidupan masyarakat.Dalam pesannya, Presiden juga mengingatkan pentingnya menjaga alam. Ia menegaskan bahwa negara tidak akan ragu menindak pihak-pihak yang melanggar hukum dan merusak lingkungan. Ketegasan, menurutnya, adalah bagian dari perlindungan negara terhadap rakyat.
Menutup kunjungannya, Presiden menegaskan arah kebijakan pemerintah ke depan: ekonomi harus bangkit, lapangan kerja harus bertambah, dan anak-anak Indonesia harus mendapatkan gizi yang layak. “Anak-anak yang sehat dan cerdas adalah masa depan bangsa,” ujarnya.
Di tengah duka dan keterbatasan, pesan itu menjadi penegasan bahwa di saat paling sulit, negara memilih untuk tetap tinggal. Bersama rakyatnya.





