Oleh : Bakarudin AK
Channel8.co.id –Sebuah bangsa tidak menjadi besar karena kekayaan alamnya, tetapi karena kualitas manusianya. Pendidikan adalah fondasi kemajuan. Dari ruang-ruang kelas hari ini, masa depan Indonesia sedang dibangun.
Karena itu, kabar bahwa sekitar 2,92 juta anak Indonesia usia 16–18 tahun tidak bersekolah patut menjadi perhatian serius. Data yang disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, menunjukkan sebagian besar dari mereka tidak melanjutkan pendidikan setelah lulus SMP. Penyebabnya beragam, mulai dari kemiskinan, perkawinan usia dini, kondisi geografis, hingga faktor sosial dan budaya.
Angka itu bukan sekadar statistik. Di baliknya ada jutaan mimpi yang terancam kandas. Ada anak-anak yang kehilangan kesempatan memperbaiki masa depan karena keadaan yang tidak mereka pilih.
Persoalan putus sekolah juga tidak semata-mata soal biaya pendidikan. Di berbagai daerah, masih ada anak yang harus menempuh perjalanan jauh, menyeberangi sungai, atau melewati jembatan gantung demi sampai ke sekolah. Di sisi lain, rendahnya pendidikan orang tua dan tekanan ekonomi membuat sebagian anak terpaksa bekerja atau menikah pada usia muda.
Pemerintah patut diapresiasi karena meluncurkan Gerakan 1.000 Anak Putus Sekolah (APS) SMK Berdaya melalui Program Pendidikan Kecakapan Kerja (PKK) dan Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW). Program ini membuka peluang bagi anak-anak putus sekolah untuk memperoleh keterampilan dan kembali memiliki harapan memasuki dunia kerja atau membangun usaha.
Namun, kita juga harus jujur bahwa tantangannya jauh lebih besar. Ketika jutaan anak berada di luar sistem pendidikan, dibutuhkan gerakan nasional yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, hingga keluarga.
Di sinilah sesungguhnya masa depan Indonesia Emas 2045 dipertaruhkan. Bonus demografi hanya akan menjadi kekuatan jika diisi oleh sumber daya manusia yang berkualitas. Sebaliknya, jika jutaan anak kehilangan kesempatan belajar, bonus demografi bisa berubah menjadi beban pembangunan.
Karena itu, pendidikan harus ditempatkan sebagai prioritas utama. Anggaran pendidikan harus tepat sasaran, akses sekolah harus semakin merata, pelatihan keterampilan diperluas, dan korupsi yang menggerus hak rakyat harus diberantas tanpa kompromi.
Membangun Indonesia Emas bukan hanya soal pertumbuhan ekonomi atau pembangunan infrastruktur. Yang lebih penting adalah memastikan setiap anak Indonesia, tanpa memandang latar belakangnya, memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, berkembang, dan menggapai cita-citanya.
Sebab pada akhirnya, sejarah tidak akan mencatat berapa banyak slogan tentang Indonesia Emas yang pernah diucapkan. Sejarah hanya akan bertanya: apakah kita berhasil menyelamatkan jutaan anak Indonesia dari kebodohan, atau justru membiarkan mereka kehilangan masa depannya?
Semoga kita masih memiliki keberanian untuk memilih jalan yang benar.
(Bakarudin AK)
Catatan Penulis :

Penulis dan Pengamat sosial, biografi, ekonomi desa, dan opini terkait isu energi
============
Channel8.co.id adalah platform digital media on line. Konten ini menjadi tanggung jawab penulis/bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi.






