Terkini

Fadli Zon Terima Incognito Pak Harto, 83 Buku Soeharto Dipamerkan di IIBF 2026

×

Fadli Zon Terima Incognito Pak Harto, 83 Buku Soeharto Dipamerkan di IIBF 2026

Sebarkan artikel ini
Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon menerima buku Incognito Pak Harto karya Mahpudi dari Sekretaris Yayasan Harapan Kita Prof. Dr. Tria Sasangka Putra, S.H., LL.M., CFE., CLA., didampingi Bendahara YHK Muhammad Jarman, di stan YHK pada IIBF 2026 di JCC, Senayan, Jakarta. Stan YHK menampilkan 83 buku tentang Presiden Kedua RI Soeharto. (Foto: Koni Bardianto/Channel8.co.id)

Channel8.co.id,JAKARTA —Ada momen menarik di tengah kemeriahan Indonesia International Book Fair (IIBF) 2026 di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, Rabu (30/9/2026).

Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon menerima buku Incognito Pak Harto: Perjalanan Diam-Diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya, karya Mahpudi, saat mengunjungi stan pameran Yayasan Harapan Kita (YHK).

Buku tersebut diserahkan langsung oleh Sekretaris Yayasan Harapan Kita Prof. Dr. Tria Sasangka Putra, S.H., LL.M., CFE., CLA.,  didampingi Bendahara Yayasan Harapan Kita Muhammad Jarman.

Momen penyerahan berlangsung di stan YHK yang secara khusus menampilkan koleksi buku mengenai Presiden Kedua RI Soeharto.

Sebanyak 83 buku dipamerkan di stan tersebut. Koleksi itu diterbitkan dan didukung Yayasan Harapan Kita, serta sebagian lainnya diterbitkan bekerja sama dengan sejumlah penerbit lain, termasuk Gramedia.

Incognito Pak Harto menjadi salah satu buku yang menarik perhatian karena mengangkat sisi lain perjalanan Soeharto saat menemui masyarakat secara langsung, termasuk kunjungan yang dilakukan secara diam-diam tanpa suasana protokoler resmi.

Penyerahan buku ini berlangsung dalam momentum pembukaan Indonesia International Book Fair (IIBF) 2026  yang mengusung tema “Read Today, Lead Tomorrow.”

Saat membuka pameran, Fadli Zon menegaskan bahwa buku bukan sekadar komoditas. Buku, menurutnya, menjadi ruang untuk menyimpan sejarah, pengetahuan dan kekayaan budaya sekaligus menjembatani generasi.

“Buku adalah utusan yang tidak pernah lelah berjalan dari satu generasi ke generasi lain, dari satu bangsa ke bangsa lain,” ujar Fadli.

Pesan tersebut terasa relevan dengan kehadiran stan YHK. Delapan puluh tiga buku tentang Soeharto menjadi jendela untuk melihat kembali perjalanan sejarah Indonesia dari berbagai tulisan, dokumentasi dan perspektif.

Bagi generasi muda, buku-buku sejarah bukan sekadar cerita masa lalu. Dari sana, mereka bisa mengenal, mencari tahu, membandingkan, lalu membentuk pandangan sendiri tentang perjalanan bangsa.

Di tengah derasnya informasi digital, momen Fadli Zon menerima Incognito Pak Harto menjadi pengingat sederhana bahwa sejarah masih punya tempat—dan buku menjadi salah satu cara untuk membuatnya tetap hidup.

(Koni Bardianto/Channel8.co.id)

Views: 10

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *