Berita

Gen Z Berburu Buku Soeharto di IIBF 2026: Bukan Nostalgia, Mereka Sedang Mencari Jawaban

×

Gen Z Berburu Buku Soeharto di IIBF 2026: Bukan Nostalgia, Mereka Sedang Mencari Jawaban

Sebarkan artikel ini
Mencari jawaban dari masa lalu. Generasi muda mengunjungi stan Yayasan Harapan Kita yang memamerkan koleksi buku tentang Presiden ke-2 RI Soeharto di IIBF 2026, JCC, Jakarta. Buku sejarah menjadi ruang bagi mereka untuk memahami kepemimpinan masa lalu dan mencari pelajaran bagi masa depan Indonesia. (Foto: Koni Bardianto)

Channel8.co.id, Jakarta — Ada pemandangan menarik di International Book Fair (IBF) 2026 di JCC Senayan. Di tengah derasnya konten digital, pelajar SMA dan mahasiswa justru ramai berburu buku sejarah tentang Presiden ke-2 RI Soeharto.

Stan Pameran Yayasan Harapan Kita yang menghadirkan koleksi buku tentang Soeharto menjadi salah satu titik yang menarik perhatian pengunjung muda.

Bukan sekadar melihat-lihat. Sebagian pengunjung bahkan rela mengeluarkan uang saku untuk membeli buku, termasuk buku edisi deluxe seperti Untold Story Pak Harto. 

Antusias pengunjung generasi muda yang mencari referensi dan keinginan memahami Soeharto di Stan Pameran Yayasan Harapan Kita di IIBF JCC Senayan -(04/10/26) (Foto : Koni Bardianto)

Fenomena ini menarik. Sebab, bagi generasi yang lahir jauh setelah era Soeharto berakhir, sosok tersebut lebih banyak dikenal melalui buku, cerita orang tua, dokumenter, media sosial, dan pelajaran sejarah. Kini mereka mulai mencari sendiri jawabannya.

83 Judul Buku, Banyak yang Jadi Arsip

Koleksi yang ditampilkan Yayasan Harapan Kita mencapai sekitar 83 hingga 84 judul buku yang membahas berbagai sisi kehidupan dan perjalanan Soeharto.

Isinya beragam. Ada biografi, sejarah militer, politik, pembangunan, perjalanan kepresidenan hingga berbagai peristiwa penting dalam sejarah Indonesia.

Namun, tidak semua buku bisa langsung dibeli.  Sebagian merupakan koleksi arsip dan penerbit aslinya sudah tidak lagi mencetak ulang. Kondisi ini justru membuat minat pengunjung semakin besar.

Sekretaris Yayasan Harapan Kita, Prof. Dr. Tria Sasangka Putra, S.H., LL.M., CFE., CLA. mengaku cukup terkejut melihat antusiasme masyarakat.

“Sangat mengejutkan ya, banyak sekali yang datang ke sini, banyak yang membeli buku, yang memborong buku.”

Antusiasme tersebut, menurutnya, jauh lebih terasa dibandingkan pameran sebelumnya pada 2021.

Sekretaris Yayasan Harapan Kita, Prof. Dr. Tria Sasangka Putra, S.H., LL.M., CFE., CLA. mengaku terkejut melihat antusiasme masyarakat, khususnya generasi muda, yang mengunjungi stan Yayasan Harapan Kita di Indonesia International Book Fair (IIBF) 2026, JCC, Jakarta, Senin (5/10/2026). Pengunjung tampak tertarik mencari referensi dan menggali sosok serta gagasan kepemimpinan Presiden Kedua RI Soeharto melalui berbagai buku yang dipamerkan. (Foto: Koni Bardianto)

Dari Rak Buku ke Soeharto Library

Tingginya minat pengunjung membuat Yayasan Harapan Kita mulai mempertimbangkan langkah berikutnya.

Buku-buku yang selama ini tersimpan sebagai arsip akan diupayakan untuk dicetak kembali sehingga bisa diakses lebih luas.

Tak hanya itu, muncul pula gagasan menghadirkan Soeharto Library.

Perpustakaan tersebut diharapkan menjadi ruang bagi masyarakat, terutama generasi muda, untuk membaca dan mempelajari sejarah melalui sumber literatur yang lebih lengkap.

Dengan begitu, sejarah tidak hanya berhenti sebagai cerita di media sosial, tetapi bisa ditelusuri melalui buku dan dokumen.

Kenapa Gen Z Mulai Tertarik?

Pertanyaan menariknya: mengapa anak muda sekarang justru tertarik membaca sejarah tokoh masa lalu?

Prof. Tria Sasangka melihat banyak pemikiran dan kebijakan Soeharto yang masih bisa dikaji dari perspektif kekinian.

Misalnya, isu globalisasi, pembangunan, pendidikan, ekonomi hingga gagasan mengenai regulasi untuk mencegah praktik monopoli.

“Pak Harto sebagai pemimpin negara, sebagai tokoh internasional, literaturnya sangat banyak yang bisa digali, sangat banyak yang bisa dijadikan sebagai bekal generasi muda ke depan.”

Menurutnya, relevan atau tidaknya pemikiran masa lalu sangat bergantung pada bagaimana generasi sekarang membaca dan memberikan perspektif terhadapnya.

Artinya, buku sejarah tidak harus dibaca untuk sekadar mengagumi atau menolak seorang tokoh.

Yang lebih penting adalah memahami konteksnya.

Sejarah Bukan untuk Mengkultuskan

Bagi Gen Z, membaca sejarah bisa menjadi cara untuk memahami mengapa sebuah kebijakan pernah dibuat, apa dampaknya, dan apakah masih bisa diterapkan pada situasi sekarang.

Di sinilah literatur tentang Soeharto menjadi menarik.

Ada sisi pembangunan yang bisa dipelajari. Ada pula kontroversi dan kritik terhadap masa pemerintahannya yang perlu dipahami secara objektif.

Stan Soeharto YHK di Sekretaris Yayasan Harapan Kita, di Indonesia International Book Fair (IIBF) 2026, JCC, Jakarta,MInggu (4/10/2026). Pengunjung tertarik mencari referensi dan menggali sosok serta gagasan kepemimpinan Presiden Kedua RI Soeharto melalui berbagai buku yang dipamerkan. (Foto: Koni Bardianto)

Dengan membaca lebih banyak sumber, generasi muda memiliki kesempatan untuk membentuk penilaiannya sendiri.

Bukan hanya berdasarkan potongan video berdurasi satu menit di media sosial.

Ketika Anak Muda Mencari Sosok Teladan

Prof. Tria juga melihat ada kebutuhan lain yang tidak kalah penting: keteladanan kepemimpinan.

Menurutnya, masyarakat membutuhkan pemimpin yang bukan hanya pandai berbicara, tetapi juga mampu memberikan contoh.

“Seorang pemimpin itu harus memberikan teladan kepada rakyatnya.”

Di tengah derasnya informasi dan banyaknya figur publik yang muncul setiap hari, kebutuhan terhadap sosok panutan menjadi semakin terasa. Dan jawabannya, menurut Prof. Tria, bisa ditemukan melalui sejarah.

“Padahal ada contohnya. Tinggal buka bukunya.”

Bukan Sekadar Buku Soeharto

Fenomena di IBF 2026 ini pada akhirnya bukan hanya soal buku Soeharto. Ini tentang bagaimana generasi muda mulai kembali bertanya kepada masa lalu.

Di tengah era TikTok, Instagram, YouTube dan kecerdasan buatan, buku ternyata belum kehilangan daya tariknya.

Justru ketika sejarah menjadi perdebatan di ruang digital, anak muda membutuhkan lebih banyak sumber untuk memeriksa informasi.

Mereka tidak hanya ingin diberi tahu siapa Soeharto. Mereka ingin mencari tahu sendiri siapa Soeharto.

Dan mungkin, dari situlah sejarah kembali menemukan pembacanya.

Channel8.co.id — News that feels human.  

(koni)

Views: 18

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *