Berita

Lobang Buaya: Ketika Horor, Sejarah, dan Dendam Bertemu di Satu Desa

×

Lobang Buaya: Ketika Horor, Sejarah, dan Dendam Bertemu di Satu Desa

Sebarkan artikel ini

Oleh: Thowaf Zuharon

Channel8.co.id

Ada lubang pada punggung seorang perempuan.

Namun, bagi saya, lubang yang paling mengusik dalam Lobang Buaya justru bukan yang terlihat di tubuh Ningsih. Yang lebih mengganggu adalah lubang dalam bangunan moral ceritanya.

Siapa yang diberi kesempatan menjadi manusia? Siapa yang sejak awal ditempatkan sebagai sumber kebusukan? Dan siapa yang akhirnya membawa kemenangan keluar dari cerita?

Pertanyaan-pertanyaan itu justru tertinggal setelah layar gelap.

Film karya Hanung Bramantyo ini membawa penonton ke sebuah desa yang dihantui pembunuhan berantai. Sosok perempuan berpunggung bolong hadir sebagai hantu yang mengikuti kematian sejumlah orang berpengaruh. Seorang perwira kemudian mencoba mengungkap rangkaian kejadian tersebut.

Cerita ditempatkan pada 1964. Pembunuhan terjadi berulang setiap tanggal 30. Sejak awal, film ini sudah mempertemukan tiga dunia sekaligus: horor supernatural, kekuasaan desa, dan ingatan politik Indonesia.

Di tengah cerita muncul istilah “Tujuh Setan Desa”—sebuah istilah yang dikaitkan film dengan propaganda politik PKI pada awal 1960-an.

Para tokohnya antara lain digambarkan sebagai hansip, aparat desa, tuan tanah, tengkulak, lintah darat, hingga orang-orang yang dianggap mengeksploitasi kehidupan rakyat kecil.

Masalahnya, ketika label seperti itu diberikan kepada tokoh-tokoh tertentu, penonton seolah sudah diarahkan untuk menentukan siapa yang harus dibenci sebelum mengenal manusia di balik tokoh tersebut.

Di sinilah saya mulai bertanya: apakah film sedang mengkritik propaganda masa lalu, atau justru menghidupkan kembali logika pengelompokan musuh itu dalam bentuk baru?

Ini tentu merupakan pembacaan saya terhadap struktur cerita, bukan pengetahuan tentang keyakinan pribadi sang sutradara.

Ketika Kejahatan Menjadi Terlalu Mudah

Pusat kebusukan desa berada pada sosok Sukarya.

Ia digambarkan sebagai pemerkosa dan pembunuh Ningsih, seorang ronggeng yang kemudian hadir sebagai hantu berpunggung bolong. Sukarya juga digambarkan sebagai bandar kejahatan sekaligus pelaku kekerasan terhadap Suraji, kekasih Ningsih.

Hubungan keluarga di antara para tokoh kemudian membuat konflik semakin rumit.

Sukarya bukan hanya ayah Arum Wangi, tetapi juga memiliki hubungan keluarga dengan Soegeng. Di sinilah film mencoba memainkan kejutan: rumah yang semestinya menjadi tempat perlindungan justru menjadi tempat lahirnya kekerasan.

Secara dramatik, gagasan tersebut sebenarnya menarik.

Tetapi bagi saya, plot twist tidak otomatis membuat sebuah cerita menjadi lebih dalam.

Kejutan tetap membutuhkan sebab-akibat yang kuat. Kalau semua tokoh ditumpuk dengan kejahatan hanya untuk menghasilkan kejutan berikutnya, penonton akhirnya bukan lagi diajak memahami manusia, melainkan sekadar menyaksikan siapa yang lebih jahat dari siapa.

Kyai, Santri, dan Tentara

Kegelisahan terbesar saya muncul ketika kyai, santri, dan tentara ditempatkan dalam lingkaran yang ikut menopang kebusukan Sukarya.

Dalam pembacaan saya, kyai digambarkan sebagai pemuka agama yang mudah dibungkam uang dan bersedia melindungi kepentingan tuan tanah. Santri ikut terseret dalam lingkungan tersebut. Sementara tentara digambarkan kehilangan daya menghadapi kekuatan perdukunan.

Di titik ini saya bertanya:

Apakah memang sesederhana itu?

Seorang kyai tentu bisa melakukan kesalahan. Seorang santri bisa terjerumus. Seorang tentara juga bisa menyalahgunakan kekuasaan.

Tetapi ketika identitas agama dan institusi negara sekaligus ditempatkan dalam barisan keburukan, persoalannya menjadi lebih besar daripada sekadar karakter fiksi.

Sebab kyai bukan hanya nama tokoh.

Santri bukan sekadar figuran.

Tentara juga bukan sekadar seragam.

Ketiganya membawa ingatan sosial dan sejarah yang jauh lebih panjang.

Karena itu, ketika mereka digambarkan begitu mudah tunduk kepada uang atau kekuatan gelap, saya merasa cerita membutuhkan alasan yang lebih kuat.

Apa yang membuat mereka diam?

Ketakutan?

Kepentingan?

Keterlibatan?

Atau memang sejak awal mereka adalah bagian dari kejahatan?

Film perlu membawa penonton masuk ke pertanyaan itu.

Gudang Beras dan Tubuh Perempuan

Salah satu bagian yang menurut saya paling kuat sekaligus paling problematis adalah ketika kekerasan terhadap Ningsih berlangsung di gudang beras.

Di sana terdapat dua bentuk penguasaan: penguasaan terhadap pangan dan penguasaan terhadap tubuh perempuan.

Beras adalah simbol kehidupan.

Tetapi di tempat yang seharusnya menyimpan kehidupan itu, justru berlangsung penghancuran kehidupan.

Ningsih sebagai korban kekerasan seksual jelas layak memperoleh simpati. Sukarya sebagai pelaku harus bertanggung jawab atas kejahatannya.

Tetapi film kemudian membawa kita kepada pertanyaan yang jauh lebih rumit:

Kapan pembalasan berhenti menjadi keadilan?

Dan kapan korban berubah menjadi bagian dari kekerasan baru?

Pertanyaan inilah yang menurut saya seharusnya menjadi salah satu kekuatan terbesar film.

Ketika Dendam Mengambil Alih Tubuh Manusia

Pada bagian akhir, kekuatan supernatural semakin mengambil alih cerita.

Suraji memasuki tubuh Soegeng, sementara arwah Ningsih merasuki Arum Wangi. Arum kemudian membunuh Sukarya dengan menusukkan pisau berkali-kali ke tubuh ayahnya sendiri.

Kemudian Arum dan Soegeng—dalam kondisi tubuh yang telah dikuasai kekuatan lain—menari ronggeng bersama.

Adegan ini menyimpan ironi.

Tubuh anak digunakan untuk membunuh ayah.

Tubuh seorang penyelidik justru diambil alih oleh kekuatan yang seharusnya ia ungkap.

Dan manusia kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri.

Di sinilah dendam memperoleh kendaraan baru.

Pertanyaannya kemudian bukan lagi sekadar siapa yang benar dan siapa yang salah.

Tetapi:

Apakah Ningsih dan Suraji benar-benar memperoleh kebebasan, atau justru meneruskan kekerasan yang pernah mereka alami?

Si Mata Satu dan Dajjal

Yang paling mengganggu saya justru datang pada ending.

Arum dan Soegeng menaiki sebuah jip dengan ancaman untuk melenyapkan seluruh penduduk Desa Lobang Buaya.

Namun mereka tidak sendirian.

Di jok belakang muncul seorang lelaki tua gondrong dengan satu mata di tengah wajah.

Dalam pembacaan saya, sosok tersebut merupakan simbol yang mengarah pada Dajjal.

Tentu simbol harus dibaca dengan hati-hati. Ciri bermata satu tidak otomatis membuktikan bahwa sebuah tokoh fiksi adalah Dajjal. Dalam tradisi Islam, Dajjal memang dikenal melalui hadis sebagai sosok fitnah besar dengan ciri fisik tertentu.

Karena itu, saya menggunakan istilah Dajjal di sini sebagai tafsir simbolik terhadap adegan film, bukan sebagai klaim tentang maksud pribadi Hanung Bramantyo.

Namun simbol itu tetap menarik untuk dipertanyakan.

Sukarya memang telah mati.

Tetapi kejahatan ternyata belum selesai.

Dendam yang semula lahir dari penderitaan korban justru berkembang menjadi ancaman bagi seluruh penduduk desa.

Di sinilah batas antara keadilan dan kebinasaan menjadi kabur.

Siapa yang Sebenarnya Menang?

Bagi saya, persoalan terbesar Lobang Buaya bukan apakah film ini berhasil menakutkan penonton.

Horor memang boleh membuat kita takut.

Film juga boleh membuat kejahatan menang.

Tetapi ketika sebuah cerita menggunakan latar sejarah 1964, nama Lobang Buaya, istilah politik, identitas agama, tentara, serta konflik sosial, maka beban ceritanya menjadi jauh lebih besar.

Penonton berhak bertanya:

Untuk apa semua simbol sejarah itu digunakan?

Apakah sejarah benar-benar menjadi bagian penting dari cerita?

Atau sejarah hanya menjadi latar untuk membungkus sebuah kisah horor tentang dendam dan kekuatan gaib?

Hanung sendiri membawa perhatian pada persoalan penindasan masyarakat kecil dan pola kekuasaan yang melindungi kelompok kuat. Gagasan tersebut menarik untuk diperbincangkan.

Namun sebuah gagasan pada akhirnya harus diuji melalui apa yang tampak di layar.

Bagaimana manusia digambarkan.

Bagaimana kejahatan diberi sebab.

Bagaimana korban diposisikan.

Dan bagaimana kekerasan akhirnya diselesaikan.

Ketika Dendam Belum Selesai

Ending yang menggantung justru meninggalkan persoalan paling besar.

Jip bergerak.

Arum dan Soegeng berada di dalamnya.

Sosok bermata satu berada di belakang mereka.

Dan seluruh penduduk desa berada dalam ancaman.

Di titik itu, kemenangan korban berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap.

Sukarya memang telah mati.

Tetapi dendam tidak ikut mati.

Bahkan ia seperti menemukan kendaraan baru untuk bergerak lebih jauh.

Itulah yang membuat saya bertanya:

Apakah ini memang pesan yang ingin ditinggalkan film?

Saya tidak tahu apa yang ada dalam pikiran pembuatnya.

Yang bisa kita baca adalah apa yang ditampilkan di layar.

Dan yang saya lihat adalah sebuah ironi besar: seorang perempuan yang mengalami kekerasan memperoleh jalan pembalasan, tetapi jalan itu justru berpotensi membawa kekerasan kepada manusia lain yang tidak terlibat.

Di sinilah film Lobang Buaya menurut saya menarik untuk diperdebatkan.

Bukan hanya karena hantunya.

Bukan hanya karena darah dan terornya.

Tetapi karena film ini memaksa kita bertanya tentang sesuatu yang jauh lebih dekat dengan kehidupan manusia:

Ketika seseorang menjadi korban kejahatan, apakah dendam selalu bisa disebut keadilan?

Dan ketika kekuatan gelap akhirnya ikut menentukan arah perjalanan, siapa sebenarnya yang sedang menang?

Pertanyaan itu mungkin lebih menyeramkan daripada hantu berpunggung bolong itu sendiri.

Na’udzu billahi min dzalik.

Catatan Penulis  :

 

Thowaf Zuharon S.IP

Penulis dan Pemerhati Masalah Sosial

=================

Channel8.co.id adalah platform digital media on line.  Konten ini menjadi tanggung jawab penulis/bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi.

Views: 14

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *