Channel8.co.id ,Jakarta — Indonesia International Book Fair atau IIBF 2026 bukan hanya menjadi tempat berburu buku. Pameran buku internasional yang berlangsung di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, ini juga menjadi ruang untuk melihat kembali berbagai gagasan dan perjalanan sejarah Indonesia melalui buku.
Salah satu yang menarik perhatian adalah kehadiran booth Yayasan Harapan Kita.
Di booth tersebut, pengunjung dapat menemukan berbagai buku yang berkaitan dengan perjalanan hidup, pemikiran, kebijakan dan warisan sejarah Presiden kedua Republik Indonesia, Soeharto atau yang akrab disapa Pak Harto.
Kehadiran Yayasan Harapan Kita memberikan warna tersendiri dalam IIBF 2026. Buku-buku yang ditampilkan tidak hanya menjadi koleksi, tetapi juga menjadi bahan untuk melihat kembali berbagai catatan sejarah dari perspektif yang beragam.
Membaca Kembali Legacy Pak Harto
Salah satu agenda yang menjadi perhatian adalah diskusi dan Launching Buku Legacy Pak Harto.
Forum ini menghadirkan Mahpudi, penulis buku Legacy Pak Harto, sebagai salah satu narasumber.
Turut hadir Prof. Dr. Anthony Budiawan, yang menjadi salah satu narasumber dalam diskusi tersebut.
Diskusi dipandu Prof. Tria Sasangka, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Yayasan Harapan Kita.
Forum ini menjadi ruang untuk membicarakan kembali sosok Soeharto dan berbagai warisan yang ditinggalkannya melalui perspektif buku dan kajian.
Bagi generasi muda, pembahasan semacam ini menarik karena sejarah tidak hanya berbicara tentang masa lalu.
Sejarah juga bisa menjadi bahan untuk memahami bagaimana sebuah bangsa mengambil keputusan, membangun kebijakan dan menghadapi berbagai tantangan pada zamannya.
Buku Sebagai Ruang Dialog
Kehadiran buku-buku tentang Pak Harto di IIBF juga memperlihatkan bahwa sejarah terus memiliki ruang untuk dibicarakan.
Terlepas dari berbagai pandangan mengenai era pemerintahan Soeharto, buku memberikan kesempatan kepada pembaca untuk melihat dokumen, pemikiran dan berbagai catatan dari sumber yang tersedia.
Di sinilah pentingnya membaca. Bukan sekadar untuk mencari siapa yang benar atau salah, tetapi untuk memahami konteks sebuah zaman.
Bagi Gen Z yang sebagian besar mengenal sejarah melalui media digital, buku dapat menjadi pintu untuk masuk lebih dalam ke sebuah peristiwa.
Dari Buku ke Generasi Berikutnya
IIBF 2026 mengusung tema “Read Today, Lead Tomorrow.”
Tema ini terasa relevan dengan kehadiran koleksi buku sejarah di booth Yayasan Harapan Kita.
Sebab, membaca sejarah bukan berarti harus kembali ke masa lalu.
Justru dari sejarah, generasi hari ini bisa belajar memahami perjalanan bangsa dan melihat bagaimana berbagai keputusan pada masa lalu membentuk Indonesia hari ini.
Di tengah derasnya informasi di media sosial, buku menawarkan sesuatu yang berbeda: ruang untuk membaca lebih pelan, membandingkan sumber, lalu membentuk pandangan sendiri.
Dan mungkin, itulah salah satu alasan mengapa cerita tentang Pak Harto masih terus ditulis, dibaca dan didiskusikan.
Karena setiap generasi akan selalu memiliki cara berbeda dalam membaca sejarah.
Dari IIBF 2026, buku bukan hanya menyimpan cerita tentang masa lalu. Buku juga membuka percakapan tentang bagaimana kita memahami masa depan.
Channel8.co.id — News that feels human.
(koni)
Views: 0






