CHANNEL8.CO.ID – Hari itu merupakan pertama dari serangkaian pertemuan—hampir selalu “empat mata”—di mana kami bertukar jaminan tentang niat baik dan keinginan untuk Asia Tenggara yang stabil dan makmur, kemudian pada pertemuan selanjutnya di tingkat yang lebih akrab membahas isu-isu penting. Waktu demi waktu, kami membangun hubungan dan persahabatan yang erat dan bertahan hingga lebih dari 30 tahun. Itu menjadi landasan kerja sama erat antara Indonesia dan Singapura di tahun-tahun selanjutnya.
Tidak seperti pendahulunya, Soekarno, dalam bertindak Soeharto selalu penuh pertimbangan dan pemikiran. Namun, di balik sikap diamnya, dia adalah seorang yang tegas dan mempunyai keteguhan untuk menyatukan dan mengangkat 120 juta rakyat Indonesia dari impian perekonomian yang terjadi setelah 20 tahun terabaikan. Pada pertemuan kami selama tahun-tahun itu, Soeharto telah membuktikan bahwa dirinya adalah seorang yang dapat dipercaya. Dia membuat sedikit janji, namun ketika dia melakukannya, dia tetap memegangnya. Kekuatannya adalah konsistensi diri, yang juga diwujudkan dengan mengejar serangkaian kebijakan rasional untuk membuka ekonomi Indonesia terhadap perdagangan dan modal asing.
Soeharto adalah orang yang berpikiran lurus dalam memberikan jaminan kalau rakyatnya cukup untuk sandang dan pangan. Demikian, dia telah banyak mencapai pertumbuhan yang stabil untuk Indonesia tahun demi tahun.
Soeharto merupakan orang yang objektif dan pragmatis. Dirinya bukanlah seorang intelektual, namun Soeharto memiliki ketajaman untuk menunjuk sebuah tim yang terdiri atas para ekonom dan penyelenggara pemerintahan yang mampu membuat kebangkitan Indonesia menjadi salah satu Macan Asia di era 90-an. Dengan kejernihan pikirannya juga, Soeharto memilih untuk memandu jalan baru untuk hubungan Indonesia dengan Singapura. Soeharto mengakui bahwa Singapura memiliki kekuatan tertentu yang dapat membantu perkembangan ekonomi Indonesia.
Ketika dia mengunjungi Singapura pada Agustus 1974, dia mengumumkan bahwa pemerintah Indonesia akan mengundang bantuan-bantuan teknis asing dan para penanam modal asing ke Indonesia, termasuk dari Singapura. Hal ini merupakan perubahan yang sangat fundamental dalam kebijakannya terhadap Singapura, dibandingkan dengan sikap agresif Indonesia dalam era Konfrontasi. Dua tahun kemudian, Soeharto meminta saya untuk membantu Indonesia mengembangkan Batam untuk tumbuh bersama Singapura.
Di luar isu-isu bilateral, Soeharto dan saya juga bekerja sama dengan erat dalam banyak hal. Ketika Phnom Penh dan Saigon jatuh pada tahun 1975, kelihatannya gelombang komunis akan menyapu dan menelan seluruh Asia Tenggara. Beberapa negara regional buru-buru mengakui Indochina (yaitu pemerintahan komunis Vietnam dan Khmer Merah di Kamboja) dan membuat penawaran terhadap Beijing untuk menghadapi prospek ini. Namun, saya ingat, Soeharto memberitahu saya di Bali pada tahun 1975 bahwa jika ASEAN melanjutkan kebijakan yang berbeda terhadap persoalan Indochina, kita tidak akan mampu menentang komunis akan meremuk. Indonesia dan Singapura memegang teguh dan berdiri erat bersama dalam masalah ini.
Soeharto menciptakan suatu era stabilitas dan kemajuan di Indonesia. Hal ini membangkitkan kembali keyakinan internasional di wilayah kita, dan membuatnya menjadi atraktif untuk investasi asing serta mendorong kegiatan ekonomi. Pada saat itu, perkembangan ekonomi penting untuk menjaga wilayah ini dari ketidakpuasan dalam negeri yang dapat mendorong terciptanya pro-komunis. Soeharto juga berperan penting dalam kesuksesan ASEAN. Sebagai negara terbesar di Asia Tenggara, Indonesia secara alamiah mempunyai makna strategis.
Di bawah Soeharto, Indonesia tidak bersikap seperti sebuah negara hegemoni. Indonesia tidak bersikeras terhadap pandangan dirinya, tetapi juga mempertimbangkan kepentingan-kepentingan negara lain dalam ASEAN. Sikap ini membuat Indonesia diterima oleh anggota ASEAN lain sebagai first among equals, atau terutama di antara yang sederajat, dan memungkinkan ASEAN berkonsolidasi di tengah saat-saat yang tidak menentu dan bergejolak.
Hanya tinggal beberapa orang yang masih segenerasi dengan saya, yang dapat mengingat kacaunya perekonomian Indonesia ketika Soeharto memulai tugasnya sebagai pemimpin Indonesia. Soeharto telah merubah Indonesia yang miskin menjadi macan ekonomi baru, mendidik rakyatnya, dan membangun infrastruktur yang memperlancar pembangunan Indonesia yang berkesinambungan. Tindakan Soeharto merupakan sumbangan yang signifikan untuk menuju stabilitas dan pembangunan regional. Saya memutuskan mengunjungi Soeharto di rumah sakit beberapa saat sebelum beliau meninggal dunia pada Januari 2008. Saya ingin menghormatinya sebagai seorang sahabat lama dan rekan yang tangguh. Soeharto layak mendapatkan pengakuan atas kontribusi hidupnya terhadap Indonesia dan dunia luar.
Pada akhirnya, sejarah akan menilai Soeharto secara adil. Beliau harus diberi tempat yang terhormat dalam sejarah Indonesia. Dalam usaha menceritakan untold stories atas Soeharto, buku ini akan menjadi catatan atas tindakannya sebagai Bapak Pembangunan Indonesia. (Bkr – Tulisan ini diambil dari Buku Pak Harto The Untold Stories yang diterbitkan Gramedia. Lee Kuan Yew diwawancarai dalam rangka penulisan buku Pak Harto The Untold Stories)
Profil Singkat Lee Kuan Yew
Lahir di Singapura, 16 September 1923, menjadi Perdana Menteri Singapura tahun 1959–1990. Ia bersekolah di SD Telok Kurau, Raffles Institution dan Raffles College. Lee yang sejak 1942 belajar bahasa Mandarin dan bahasa Jepang bekerja sebagai penulis laporan kilat Sekutu bagi Jepang serta menjadi editor bahasa Inggris untuk koran Jepang Hobodu pada 1943–1944. Kemudian Lee belajar hukum di Fitzwilliam College, Inggris. Kembali ke Singapura pada 1949 ia menjadi pengacara di Biro Hukum Laycock & Ong.






