CHANNEL8.CO.ID – Bagi Jenderal TNI (Purn.) Wismoyo Arismundar, Presiden Soeharto merupakan pejuang dan sekaligus Bapak Pembangunan. “Saya sangat menghormati Beliau, sebagai pemimpin bangsa,” tutur Wismoyo memulai perbincangan. Wismoyo, yang juga mantan Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (Kopassus) dan Kepala Staf TNI Angkatan Darat itu, mengatakan, banyak mengambil pelajaran atas kepemimpinan Pak Harto. “Beliau pemimpin yang setia kepasa Saptamarga dan Pancasila,” tukas Wismoyo.
Seperti diketahui, Peristiwa Malari 1974 merupakan aksi demonstrasi mahasiswa yang diduga merupakan rekayasa pihak tertentu untuk menurunkan Presiden Soeharto. Namun, aksi tersebut berhasil digagalkan. Banyak ditulis peristiwa Malari merupakan akibat perseteruan antara Jenderal Sumitro dengan Ali Murtopo.

Suatu ketika, Wismoyo pernah bertanya mengapa Pak Harto berani mengambil keputusan untuk bertindak cepat dalam mengatasi pemberontakan PKI dengan Gerakan 30 September 1965? Pak Harto mengatakan, saya ini tentara. Tentara itu pedoman hidupnya Saptamarga. Kami patriot Indonesia, pendukung pembela ideologi negara yang bertanggung jawab dan tidak mengenal menyerah—melihat pemberontak adalah komunis—sedang ideologi adalah Pancasila, ya, saya harus melawan. Kalau saya kalah, berontak saya. “Jadi Pak Harto sampai seperti itu. Jadi Beliau prajurit betul,” tutur Wismoyo.
Presiden Soeharto dalam pandangan Wismoyo, adalah pemimpin yang bisa menganalisa situasi kemudian mengambil keputusan. Sebagai prajurit yang berpedoman pada Saptamarga, Pak Harto melihat PKI menyimpang. Sehingga harus dilawan. “Itu susah. Pak Harto punya nyali, punya keberanian, keberanian yang dilandasi ketentuan, undang-undang dan komitmen sebagai prajurit Saptamarga. Keputusan yang sangat diyakini keberaniannya,” Wismoyo, mengenang.
Dikatakan, falsafah yang disampaikan Pak Harto, “alon-alon asal kelakon”, bukan berarti melaksanakan dengan pelan-pelan. Melainkan, melakukan sesuatu dengan yakin dan berlandaskan kebenaran. “Beliau itu dalam bersikap dan berperilaku secara mantap,” ujar Wismoyo.
Setia Itu Apa?
Ketika peristiwa Malari meletus pada tahun 1974, saya yang masih berpangkat Mayor dan menjadi Wakil Asisten Pengamanan Kopassanda (kini Kopassus), mendapat tugas menyampaikan pesan dari Komandan Kopassanda kepada Presiden Soeharto. Seperti diketahui, Peristiwa Malari 1974 merupakan aksi demonstrasi mahasiswa yang diduga merupakan rekayasa pihak tertentu untuk menurunkan Presiden Soeharto. Namun, aksi tersebut berhasil digagalkan. Banyak ditulis peristiwa Malari merupakan akibat perseteruan antara Jenderal Sumitro dengan Ali Murtopo.
“Aku diminta menyampaikan kepada Presiden, bahwa Kopassanda tetap setia. Ini dimaksudkan agar Pak Harto tidak ragu-ragu, sehingga bisa membaca situasi dengan jelas,” tutur Wismoyo, mengingat.
Wismoyo menemui Pak Harto di Jalan Cendana. Pada saat itu, Pak Harto menerima Wismoyo dengan menggunakan sarung dan kaos oblong. “Bisa dibayangkan Mayor menghadap Presiden, pasti deg-degan,” tutur Wismoyo.
“Ono opo? (Ada apa?)”tanya Pak Harto dalam bahasa Jawa.
Wismoyo pun menyampaikan pesan dari Komandan Jenderal Kopassanda, bahwa Kopassanda tetap setia kepada Presiden.
Presiden Soeharto tampak santai mendengar pesan tersebut. Sejurus kemudian, Presiden Soeharto justru balik bertanya,”Opo setia itu? Apa yang dimaksud setia?”
Pertanyaan itu membuat Wismoyo terhenyak. Wismoyo tidak pernah menduga akan mendapat pertanyaan tentang “kesetiaan” tersebut. Apalagi, dirinya tidak mendapat penjelasan apa-apa mengenai perintah yang harus disampaikan kepada Presiden Soeharto. Namun, Presiden Soeharto langsung mencairkan suasana. “Saya ingat betul, Pak Harto mengatakan, setia itu berarti selalu memegang teguh bersama-sama dalam mencapai cita-cita. Saya pun lega mendengar jawaban tersebut dan mencoba mendalami apa yang Beliau sampaikan,” tutur Wismoyo, sumringah.
Dalam situasi itulah, Pak Harto menyampaikan nasihat. “Kalau kamu ingin jadi pribadi yang maju, kamu harus pandai mengenal apa yang terjadi, pandai melihat, pandai mendengar dan pandai menganalisa. Itu yang selalu saya pelajari. Pak Harto berbicara tidak memandang aku cuma Mayor. Artinya, sangat menghargai siapa pun yang diajak berbicara,” tutur Wismoyo.
Disamping itu, Pak Harto juga menasihati dirinya pada saat menjadi Komandan Jenderal Kopassus. Apa kata Pak Harto? “Jadi orang itu seng sabar, seng sareh, seng sholeh.” Menurut Wismoyo, itulah kepribadian dari Pak Harto, seorang pemimpin Indonesia.
Kisah Menyunting Sang Istri
Cinta Wismoyo memang berlabuh kepada Datit, adik Ibu Tien Soeharto. Wismoyo mengaku dirinya tidak memahami betul tatakrama dalam budaya Jawa. Bahkan, Wismoyo mengatakan dirinya tidak bisa berbahasa Jawa krama (halus). Walaupun sudah mengenal sang calon istri, namun Wismoyo belum pernah sekalipun diperkenalkan kepada kedua orangtuanya. Tibalah pada saat ingin mempersunting Datit, Wismoyo harus melamar kepada Pak Harto dan Ibu Tien Soeharto. Persiapan apa yang dilakukan?
Sehari sebelum menghadap Pak Harto, Wismoyo mempersiapkan diri lahir dan batin. “Sepatu bolak-balik saya bersihkan. Supaya mengkilap sampai-sampai saya kasih air ludah,” kenang Wismoyo, tertawa. Keesokan harinya Wismoyo pun ke Cendana untuk melamar. “Aku nekad saja melamar sendirian,” tutur Wismoyo.
Setiba di kediaman Pak Harto, Wismoyo bingung, apakah harus tetap memakai atau melepas sepatu boot yang dikenakan. Pada saat itu, dirinya melihat banyak sandal dan sepatu yang dilepas di dekat tangga menuju ruang pertemuan di mana Pak Harto dan Bu Tien akan menerimanya. Wismoyo berpandangan, masa melamar tidak memakai sepatu. Dia pun bertanya pada Datit. Tapi, tanpa dinyana sebelum ada jawaban, dirinya sudah diminta naik untuk menyampaikan maksudnya kepada Pak Harto dan Ibu Tien.
“Aku terpaksa masih memakai sepatu pada saat menghadap Pak Harto. Aku melihat, Ibu memperhatikan dari bawah sampai ke atas. Mentalku pun langsung rontok, wah jangan-jangan lamaran ditolak nih,” kenang Wismoyo.
Apalagi kemudian Ibu Tien Soeharto berkata,”Lelaki kok ingah-ingih (tidak tampak gagah/jantan, pen).”
Wismoyo sempat memperhatikan Pak Harto yang hanya tersenyum. Dirinya pun kemudian hanya bisa menunduk, tidak bisa berucap. Apa komentar Pak Harto kemudian?
“Aku yo mbeyen (dulu) ingah-ingih,” kata Pak Harto, sambil tersenyum.
Mendengar perkataan Pak Harto, Wismoyo langsung muncul kembali keberaniannya. “Begitulah Pak Harto. Itu peristiwa kecil, tapi sangat membekas. Pemimpin itu harus berani menyelamatkan bawahannya yang bertujuan baik. Mental saya pun langsung bangkit lagi. Dan, sampai kini mahligai perkawinan saya tetap utuh,” kata Wismoyo, senang.
Sebagai keluarga dekat, Wismoyo mengatakan dirinya tetap menempatkan Pak Harto sebagai Kepala Pemerintahan dan Kepala Negara. Sehingga dirinya tetap menghormati Pak Harto sebagai seorang pejuang dan pemimpin. Lebih-lebih setelah Pak Harto lengser dari kursi kepresidenan, dirinya semakin menghormati Pak Harto. “Pak Harto sudah mengorbankan kehidupan untuk membangun Indonesia dan menjaga keukutuhan NKRI. Kita sebagai bangsa besar harus menghargai jasa-jasanya dan mengambil nilai-nilai positif yang sudah berhasil dicapai. Generasi penerus bangsa harus mengetahui nilai-nilai kejuangan yang Pak Harto lakukan,” tutur Wismoyo. (Bakarudin diambil dari Buku Pak Harto The Untold Stories)
BIODATA
Jenderan TNI (Purn.) Wismoyo Arismunandar, pernah menjabat sebagai Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus, Panglima Kodam IV Diponegoro, Panglima Kostrad, Wakil Kepala Staf TNI AD dan Kepala Staf TNI AD. Selain itu, Wismoyo pernah menjadi Ketua Umum KONI Pusat. Pada masa itu, Indonesia pernah meraih juara umum ASEAN GAMES dengan jumlah medali emas terbanyak sepanjang sejarah pelaksanaan ASEAN GAMES.






