CR7, Soeharto, dan Pelajaran tentang Melepaskan Kekuasaan
Oleh: Bakarudin AK
Channel8.co.id – Tidak semua orang mampu menjadi pemenang. Lebih sedikit lagi yang mampu menjadi legenda. Tetapi yang paling langka adalah mereka yang tahu kapan harus berhenti.
Banyak orang sanggup merebut kekuasaan, tetapi gagal melepaskannya. Banyak bintang mampu mencapai puncak kejayaan, namun tidak siap menerima kenyataan bahwa waktu akhirnya menjadi lawan yang tak pernah bisa dikalahkan.
Setiap manusia pada akhirnya akan berhadapan dengan hukum alam yang sama. Usia akan mengikis kekuatan, memperlambat langkah, dan mengurangi daya tahan. Tidak ada yang mampu mengalahkannya.
Itulah yang kini dihadapi Cristiano Ronaldo (CR7).
Di usia 41 tahun, sang kapten Portugal masih memperlihatkan semangat juang yang luar biasa. Namun sepak bola adalah olahraga yang sangat kejam terhadap usia. Pengalaman tetap berharga, tetapi kecepatan, stamina, dan daya ledak perlahan akan diambil oleh waktu.
Ketika Portugal gagal melangkah lebih jauh, air mata CR7 bukanlah air mata seorang pecundang. Itu adalah tangisan seorang legenda yang sadar bahwa sebuah perjalanan agung pada akhirnya akan sampai di ujungnya.
Namun kehidupan tidak selalu mengikuti hukum sepak bola.
Di dunia ilmu pengetahuan justru berlaku kenyataan yang berbeda. Banyak ilmuwan besar melahirkan karya-karya terbaiknya pada usia senja. Pengalaman, ketekunan, dan kebijaksanaan sering kali menjadi modal yang melampaui kekuatan fisik. Dari tangan mereka lahir berbagai penemuan yang hingga kini terus dinikmati umat manusia.
Saat menyaksikan perjuangan CR7, ingatan saya justru melayang kepada sosok Jenderal Besar TNI H.M. Soeharto saat menyampaikan pidato pernyataan berhenti sebagai Kepala Negara dan Presiden Republik Indonesia pada 21 Mei 1998.
Tidak ada air mata.
Tidak ada kemarahan.
Tidak ada pula keinginan menyalahkan siapa pun.
Dengan suara tenang, Pak Harto menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh rakyat Indonesia. Beliau juga memohon maaf apabila selama memimpin bangsa masih terdapat berbagai kekurangan. Bahkan di akhir pidatonya, doa tetap dipanjatkan agar Indonesia terus maju berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Bagi saya, di situlah letak kebesaran seorang negarawan.
Setahun setelah beliau berhenti sebagai Presiden, saya memperoleh kesempatan melakukan wawancara secara khusus.
Saya bertanya mengenai hujatan, caci maki, dan demonstrasi yang begitu keras ditujukan kepada dirinya.
Jawaban Pak Harto hingga kini masih saya ingat.
“Biarkan mereka menghujat. Saya tidak dendam. Itu akan mengurangi dosa saya. Becik ketitik, ala ketara. Mereka yang berdemonstrasi itu adalah anak-anak dan cucu-cucu saya yang belum tahu. Apa yang saya lakukan adalah untuk negara dan bangsa.”
Kalimat itu tidak lahir dari seorang yang sedang mempertahankan kekuasaan. Kalimat itu lahir dari seseorang yang telah selesai dengan dirinya sendiri.
Sejarah kemudian mencatat bahwa secara politik Pak Harto sebenarnya masih memiliki pilihan untuk bertahan. Dukungan ABRI ketika itu masih sangat kuat. Gedung DPR/MPR yang diduduki mahasiswa diyakini dapat dikosongkan.
Namun harga yang harus dibayar diperkirakan sangat mahal. Ratusan nyawa anak bangsa bisa menjadi korban.
Pak Harto memilih jalan lain.
Beliau melepaskan jabatan yang telah diembannya lebih dari tiga dekade.
Keputusan itu menunjukkan bahwa bagi dirinya, kekuasaan tidak pernah lebih mahal daripada darah rakyat.
Sejarah tentu akan terus memperdebatkan berbagai sisi kepemimpinan Pak Harto. Akan selalu ada yang memuji dan ada yang mengkritik.
Seperti pernah dikatakan Yudi Latif, tokoh besar memang selalu melahirkan dua kutub penilaian.
Namun satu kenyataan sulit disangkal. Hingga hari ini, ungkapan “Piye… penak jamanku, to?” masih sering terdengar di tengah masyarakat. Entah sebagai nostalgia, kritik terhadap keadaan sekarang, ataupun bentuk kerinduan terhadap gaya kepemimpinan masa lalu.
Pak Harto sendiri pernah berseloroh ketika kembali dicalonkan menjadi Presiden pada tahun 1997.
“Saya sudah TOP; Tua, Ompong, dan Peot.”
Namun beliau menerima pencalonan itu karena menganggapnya sebagai amanat rakyat yang harus dijalankan oleh seorang prajurit.
Dan ketika waktunya tiba, beliau juga menunjukkan bahwa seorang pemimpin sejati tidak diukur dari lamanya mempertahankan kursi, tetapi dari keberaniannya melepaskan kursi demi kepentingan yang lebih besar.
Kembali kepada CR7.
Air mata yang mengalir di wajahnya bukanlah simbol kegagalan.
Itu adalah harga yang harus dibayar oleh setiap orang yang mencintai pekerjaannya sepenuh hati.
Kelak, dunia mungkin tidak lagi melihat CR7 berlari mengejar bola. Namun dunia akan terus mengenang disiplin, kerja keras, dan dedikasinya sebagai inspirasi bagi jutaan anak muda.
Begitu pula dengan Pak Harto.
Terlepas dari segala perdebatan sejarah yang akan terus berlangsung, beliau telah meninggalkan jejak kepemimpinan yang akan terus dikaji oleh generasi berikutnya.
Pada akhirnya, waktu selalu mengambil segala sesuatu.
Ketenaran akan pudar.
Kekuasaan akan berakhir.
Jabatan akan berganti.
Bahkan tepuk tangan paling meriah pun suatu hari akan berhenti.
Yang tidak pernah benar-benar hilang hanyalah jejak pengabdian yang ditinggalkan seseorang.
Karena itu, sejarah pada akhirnya tidak hanya mengingat siapa yang paling lama berkuasa atau paling banyak mencetak gol.
Sejarah akan lebih lama mengenang mereka yang mampu meninggalkan panggung dengan martabat.
Itulah pelajaran yang, menurut saya, sama-sama diwariskan oleh Cristiano Ronaldo dan Jenderal Besar H.M. Soeharto kepada kita.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima seluruh amal kebajikan Jenderal Besar H.M. Soeharto, mengampuni segala khilafnya, serta menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.






