BeritaDelapanPagiOpini

Mengapa Letnan Kolonel Soeharto yang Dipilih Jenderal Soedirman?

×

Mengapa Letnan Kolonel Soeharto yang Dipilih Jenderal Soedirman?

Sebarkan artikel ini
Pak Dirman, Pak Harto, Pak Rosihan Anwar, Pak Frans Mendur, di Desa Ponjong 8 Juli 1949 (foto: Ipphos)

Oleh : Noor Johan Nuh 

Channel8.co.id

Keberhasilan Serangan Umum 1 Maret 1949 yang dipimpin Letnan Kolonel Soeharto antara lain memaksa Belanda kembali ke meja perundingan. Dalam Perundingan Roem-Royen kemudian dihasilkan sejumlah keputusan penting: Belanda harus meninggalkan Yogyakarta paling lambat 30 Juni 1949, dan para pemimpin Indonesia yang ditawan di Pulau Bangka dipulangkan ke Yogyakarta.

Pada 6 Juli 1949, Bung Karno, Bung Hatta, serta sejumlah pemimpin Indonesia lainnya yang sebelumnya ditawan di Pulau Bangka kembali ke Yogyakarta. Mereka tiba di Lapangan Terbang Maguwo dan disambut oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Saat menunggu kedatangan pesawat, Sri Sultan mengingatkan wartawan Rosihan Anwar, yang juga berada di Maguwo, agar esok lusa bersama Komandan Brigade X, Letnan Kolonel Soeharto, menemui Jenderal Soedirman di markas gerilyanya.

Sejak Yogyakarta kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi pada 29 Juni 1949, Sri Sultan dan Kolonel Gatot Subroto sebenarnya telah mengirim surat kepada Jenderal Soedirman agar segera kembali ke Yogyakarta. Namun, Jenderal Soedirman tetap bergeming.

Sampai akhirnya datang surat Pak Dirman kepada Sri Sultan yang isinya meminta Letnan Kolonel Soeharto datang menemuinya ke markas gerilya.

Esok lusanya, 8 Juli 1949, pukul 07.00, Letnan Kolonel Soeharto bersama wartawan Rosihan Anwar dan wartawan foto Frans Mendur berangkat dari Kantor Pos di ujung Jalan Malioboro menuju Desa Pojong, tempat markas gerilya Pak Dirman.

Mereka menggunakan sebuah Jeep yang dikemudikan Pak Harto sendiri.

Perjalanan yang seharusnya dapat ditempuh dalam beberapa jam itu ternyata berlangsung sangat lama. Baru sekitar pukul 21.00 mereka tiba di Desa Pojong. Hampir empat belas jam perjalanan.

Ketiganya kemudian diterima di beranda sebuah rumah yang dijadikan markas gerilya. Setelah berbincang-bincang di beranda, Pak Dirman mengajak Pak Harto masuk ke sebuah kamar untuk berbicara empat mata.

Dalam pembicaraan empat mata itu, Pak Dirman mengungkapkan alasan mengapa dirinya belum bersedia kembali ke Yogyakarta.

Pertama, Pak Dirman ingin tetap bersama prajurit-prajuritnya yang masih berjuang di luar kota.

Kedua, Pak Dirman khawatir akan tipu daya Belanda, seperti yang pernah dilakukan terhadap Pangeran Diponegoro.

Ketiga, Pak Dirman tidak setuju dengan rencana Konferensi Meja Bundar. Ia menginginkan kemerdekaan Indonesia seratus persen tanpa perundingan.

Pak Harto kemudian menjelaskan pandangannya.

Pertama, Yogyakarta sudah kembali menjadi wilayah Indonesia dan sepenuhnya berada di bawah penguasaan TNI. Yogyakarta juga telah kembali menjadi pusat pemerintahan. Pasukan-pasukan yang sebelumnya berada di kantong-kantong gerilya telah kembali ke Yogyakarta.

Kedua, seluruh daerah Republik sudah berada dalam penguasaan TNI dan seluruh prajurit TNI akan menjaga keselamatan Pak Dirman.

Ketiga, kehadiran Pak Dirman sebagai Panglima Besar sangat dibutuhkan untuk melakukan konsolidasi perjuangan sampai Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia. Kehadiran Pak Dirman di Yogyakarta juga menjadi simbol bahwa perjuangan TNI dan para pemimpin politik tetap bersatu padu.

Sedangkan mengenai KMB, menurut Pak Harto, Pak Dirman harus membicarakannya langsung dengan Presiden dan Perdana Menteri.

Setelah berdiskusi hampir satu jam, akhirnya Pak Dirman luluh. Ia bersedia kembali ke Yogyakarta.

Mengapa Soeharto?

Di sinilah muncul sebuah pertanyaan penting: mengapa Letnan Kolonel Soeharto yang diminta menemui Jenderal Soedirman sebelum sang Panglima Besar memutuskan kembali ke Yogyakarta atau tetap berada di markas gerilya?

Padahal, masih ada sejumlah perwira yang lebih senior daripada Pak Harto, antara lain:

  • Wakil Kepala Staf Angkatan Perang Kolonel T.B. Simatupang;
  • Panglima Komando Jawa Kolonel A.H. Nasution;
  • Panglima Divisi IV Kolonel Gatot Subroto;
  • Panglima Divisi III Kolonel Bambang Sugeng.

Mengapa justru Letnan Kolonel Soeharto yang dipilih untuk menemui Pak Dirman?

Sangat mungkin, salah satu pertimbangan Pak Dirman adalah keberhasilan Pak Harto memimpin Serangan Umum 1 Maret 1949.

Serangan tersebut tidak hanya memiliki dampak militer, tetapi juga dampak politik yang sangat besar. Secara militer, serangan berhasil melumpuhkan kekuatan Belanda di Yogyakarta dan menunjukkan bahwa TNI masih memiliki kekuatan untuk menyerang dan menguasai kota. Secara politis, keberhasilan tersebut memperlihatkan kepada dunia internasional bahwa Republik Indonesia dan TNI masih ada dan terus melakukan perlawanan.

Dampak politik itu ikut mendorong Belanda kembali ke meja perundingan.

Atas keberhasilan tersebut, dalam surat Pak Dirman kepada Panglima Komando Jawa Kolonel A.H. Nasution, Letnan Kolonel Soeharto disebut sebagai “bunga pertempuran.”

Karena itu, sangat mungkin pemilihan Letnan Kolonel Soeharto bukan semata-mata karena pangkat atau kedudukannya. Ada pertimbangan lain: rekam jejaknya di medan pertempuran, keberhasilannya memimpin Serangan Umum 1 Maret, serta kemampuannya menjelaskan situasi secara langsung kepada Panglima Besar.

Pak Dirman membutuhkan seseorang yang bukan hanya mampu menyampaikan pesan, tetapi juga dapat meyakinkannya bahwa kembali ke Yogyakarta merupakan bagian dari kelanjutan perjuangan.

Dan orang itu adalah Letnan Kolonel Soeharto.

Pertemuan di Desa Pojong pada 8 Juli 1949 akhirnya menjadi salah satu episode penting dalam sejarah perjuangan Republik Indonesia. Dari pertemuan empat mata antara dua prajurit itu, Panglima Besar Jenderal Soedirman akhirnya bersedia kembali ke Yogyakarta.

Sebuah keputusan yang kemudian mempertemukan kembali Panglima Besar dengan para pemimpin Republik dan pasukan TNI di Yogyakarta, setelah berbulan-bulan bergerilya di tengah tekanan dan ancaman Belanda. (NJN)

note :

Menjadi pertanyaan, mengapa Komandan Brigade X/Wehrkreise III Letnan Kolonel Soeharto yang diminta datang menemui Pak Dirman sementara masih banyak senior-senior TNI seperti Kepala Staf Angkatan Perang Kolonel TB Simatupang, Panglima Komando Djawa Kolonel AH Nasution, Gubernur Militer/Panglima Divisi IV Kolonel Gatot Subroto, Gubernur Militer/ Panglima Divisi III Kolonel Bambang Sugeng?

Tentu hanya Pak Dirman yang dapat menjawabnya. Namun jika disimak di memoir Jenderal AH Nasution, Memenuhi Panggilan Tugas, jilid 2, hal 135, mungkin ini sebagai petunjuk, yaitu; “Waktu Komandan Brigade X berkunjung ke posko saya, saya tidak menduga bahwa sekian besar pasukan yang bisa dikerahkan sekaligus. Pak Dirman puas sekali dengan keadaan daerah Yogya. Dalam satu  surat beliau kepada saya, disebutkan bahwa Letnan Kolonel Soeharto adalah “Bunga Pertempuran.”

Catatan Penulis : 

Nur Johan Nuh 

Penulis dan Pemerhati Sejarah 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *