BeritaHistoria

Siti Hartinah : Mimpi Besar Seorang Ibu (Tulisan ketiga)

×

Siti Hartinah : Mimpi Besar Seorang Ibu (Tulisan ketiga)

Sebarkan artikel ini

BAB III

Mimpi Besar Seorang Ibu

Ketika Indonesia Dipersatukan dalam Sebuah Taman

Channel8.co.id – Ada sebuah pertanyaan sederhana yang konon sering mengusik pikiran Ibu Tien Soeharto pada awal dekade 1970-an.

“Mengapa rakyat Indonesia harus mengelilingi ribuan pulau hanya untuk mengenal kebudayaannya sendiri?”

Indonesia adalah negeri kepulauan terbesar di dunia. Dari Sabang sampai Merauke, terbentang lebih dari 17.000 pulau dengan ratusan kelompok etnis, bahasa daerah, rumah adat, kesenian, pakaian tradisional, dan adat istiadat yang berbeda-beda. Kekayaan itu merupakan anugerah, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan: tidak semua rakyat Indonesia memiliki kesempatan melihat langsung keragaman bangsanya sendiri.

Dari kegelisahan itulah lahir sebuah gagasan yang pada masa itu dianggap sangat berani.

Bagaimana jika seluruh wajah Indonesia dapat diperkenalkan dalam satu kawasan?

Gagasan tersebut mulai berkembang sekitar tahun 1970 ketika Ibu Tien berdiskusi dengan sejumlah arsitek, budayawan, dan pejabat pemerintah. Ia membayangkan sebuah taman budaya yang tidak sekadar menjadi tempat rekreasi, melainkan ruang belajar tentang Indonesia. Di sana, setiap provinsi memiliki anjungan yang menampilkan rumah adat, pakaian tradisional, kesenian, kerajinan, hingga kekhasan budayanya.

Bagi Ibu Tien, taman itu bukan sekadar kumpulan bangunan.

Ia ingin menghadirkan rasa memiliki terhadap Indonesia.

“Kalau anak-anak Indonesia belum bisa berkeliling Nusantara, biarlah Nusantara yang datang kepada mereka.”

Gagasan tersebut kemudian diwujudkan melalui pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di Jakarta. Pembangunan dimulai pada tahun 1972 dan TMII diresmikan pada 20 April 1975 oleh Presiden Soeharto. Sejak awal, pengelolaannya berada di bawah Yayasan Harapan Kita, yayasan yang dipimpin oleh Ibu Tien Soeharto. Data mengenai sejarah pembangunan dan peresmian TMII terdokumentasi dalam arsip pengelola TMII dan berbagai publikasi resmi pemerintah.

Tidak semua orang langsung menerima gagasan itu.

Sebagaimana proyek-proyek besar lainnya, pembangunan TMII juga memunculkan kritik dari sejumlah kalangan yang mempertanyakan prioritas pembangunan serta penggunaan sumber daya pada masa itu. Kritik tersebut menjadi bagian dari dinamika publik yang tercatat dalam berbagai kajian sejarah mengenai era Orde Baru.

Namun di sisi lain, banyak budayawan dan pemerhati kebudayaan melihat TMII sebagai upaya memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada masyarakat luas, terutama generasi muda.

Lima puluh tahun kemudian, sejarah menunjukkan bahwa TMII berkembang menjadi salah satu pusat pelestarian budaya terbesar di Indonesia. Kawasan ini menjadi rumah bagi puluhan anjungan daerah, museum, teater, taman flora-fauna, tempat ibadah berbagai agama, serta berbagai ruang edukasi yang setiap tahunnya dikunjungi jutaan wisatawan, pelajar, dan peneliti.

Bagi Ibu Tien, kebudayaan bukanlah benda mati yang hanya disimpan di museum.

Budaya harus hidup.

Budaya harus dipelajari.

Budaya harus diwariskan.

Karena itulah, selain membangun anjungan daerah, TMII juga dirancang sebagai ruang pertunjukan seni tradisional. Tari-tarian, musik daerah, kerajinan tangan, hingga permainan rakyat mendapat tempat untuk tampil di hadapan masyarakat.

Ia percaya bahwa bangsa yang besar tidak hanya diukur dari gedung-gedung tinggi atau kemajuan ekonominya, tetapi juga dari kemampuannya menjaga akar budayanya sendiri.

Sambutan secara adat untuk Ibu Tien Soeharto pada acara peresmian paviliun Sulawesi Selatan di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta,  April 1975

Kecintaan Ibu Tien terhadap sejarah juga terlihat dari dukungannya terhadap pembangunan dan pengembangan berbagai museum di lingkungan TMII. Museum Indonesia, misalnya, dirancang untuk memperkenalkan kekayaan etnografi Nusantara melalui koleksi busana adat, benda budaya, seni kriya, dan tradisi dari berbagai daerah.

Di tempat itu, seorang anak dari Aceh dapat mengenal budaya Papua.

Seorang pelajar dari Kalimantan dapat mempelajari rumah adat Minangkabau.

Seorang wisatawan asing dapat memahami bahwa Indonesia bukan hanya Bali, melainkan sebuah mosaik besar yang terdiri atas ratusan budaya yang hidup berdampingan.

Mereka yang mengenal Ibu Tien mengatakan bahwa setiap kali mengunjungi TMII, beliau tidak hanya melihat bangunan-bangunan yang berdiri megah.

Perhatiannya justru sering tertuju pada hal-hal kecil.

Apakah taman-taman terawat.

Apakah bunga-bunga bermekaran.

Apakah rumah adat tetap bersih.

Apakah para pengunjung merasa nyaman.

Baginya, taman itu ibarat rumah besar Indonesia. Dan sebagaimana seorang ibu menjaga rumahnya, ia ingin TMII selalu menjadi tempat yang menyenangkan bagi siapa pun yang datang.

Kini, setelah lebih dari lima dekade berdiri, Taman Mini Indonesia Indah telah mengalami berbagai pembaruan dan revitalisasi. Pemerintah melakukan penataan kawasan agar lebih ramah lingkungan, lebih modern, dan lebih relevan sebagai pusat edukasi budaya. Namun ruh yang menjadi dasar pembangunannya tetap dipertahankan: memperkenalkan Indonesia kepada bangsa Indonesia.

Mungkin itulah warisan terbesar Ibu Tien Soeharto.

Ia tidak mewariskan pidato-pidato panjang.

Ia tidak meninggalkan buku filsafat.

Tetapi ia meninggalkan sebuah ruang tempat jutaan anak Indonesia belajar mencintai negerinya sendiri.

Dan setiap kali anak-anak itu berlari di antara anjungan-anjungan daerah, menyaksikan tari tradisional, atau pertama kali melihat miniatur kepulauan Indonesia dari atas kereta gantung, sesungguhnya mereka sedang menikmati buah dari mimpi seorang perempuan yang percaya bahwa persatuan bangsa dapat tumbuh dari pengenalan terhadap budayanya. (koni)

(Bersambung ke Bab IV: “Ibu bagi Enam Anak, Ibu bagi Jutaan Rakyat: Kehidupan Keluarga di Balik Tembok Istana”)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Oleh : Yudi Latif (Dipersembahkan untuk mensyukuri 60…

Berita

Yudi Latif Channel8.co.id – Ada saat ketika manusia…