BeritaHistoria

Siti Hartinah : Perempuan yang Menjaga Indonesia dengan Kelembutan (Tulisan Kedua)

×

Siti Hartinah : Perempuan yang Menjaga Indonesia dengan Kelembutan (Tulisan Kedua)

Sebarkan artikel ini

Ketika Pintu Istana Terbuka

Menjadi Ibu Negara Tanpa Meninggalkan Kesederhanaan 

Memperingati 103 Tahun Kelahiran Ibu Tien Soeharto (23 Agustus 1923–23 Agustus 2026)

Oleh: Koni Bardianto

Tanggal 27 Maret 1968 menjadi salah satu titik balik dalam perjalanan hidup Siti Hartinah.

Hari itu, Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) mengukuhkan Jenderal Soeharto sebagai Presiden Republik Indonesia yang kedua. Bagi bangsa Indonesia, peristiwa tersebut menandai dimulainya babak baru pemerintahan nasional. Namun bagi seorang perempuan bernama Siti Hartinah, hari itu bukan sekadar perubahan status suaminya. Hari itu adalah awal dari pengabdian yang jauh lebih besar, lebih berat, sekaligus lebih sunyi.

Sejak saat itulah masyarakat Indonesia mengenalnya dengan satu panggilan yang penuh hormat: Ibu Tien Soeharto.

Banyak orang membayangkan bahwa menjadi Ibu Negara identik dengan kemewahan, protokoler yang serba megah, dan kehidupan yang jauh dari keseharian rakyat. Namun kesaksian para ajudan, pegawai Istana, hingga sejumlah menteri pada masa itu justru menggambarkan sosok yang berbeda. Ibu Tien tidak pernah berusaha mengubah dirinya menjadi pribadi yang berjarak dengan orang lain.

Ibu Tien Soeharto dan Presiden ke 2 Soeharto memotong pita sebagai penanda meresmikan pabrik PT. Bogasari 1971 (Dok. Foto Perpustakaan Nasional)

Ia tetap berbicara dengan nada lembut.Tetap menyapa para pegawai dengan ramah.Tetap memperhatikan hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian banyak orang.

Bahkan, menurut beberapa orang yang pernah bertugas di lingkungan Istana, beliau hafal nama banyak pegawai rumah tangga, petugas kebersihan, hingga tukang kebun. Ia tidak segan menanyakan keadaan keluarga mereka apabila mengetahui ada yang sedang sakit atau mengalami kesulitan. Baginya, penghormatan kepada seseorang tidak ditentukan oleh pangkat ataupun jabatan.

Kesaksian tentang kelembutan dan perhatian Ibu Tien Soeharto diungkapkan  Tuti Sutiawati  istri wakil Presiden Tri Sutrino tentang perhatian dan perilaku Ibu Tien Soeharto yang tidak membeda- bedakan dan menilai sebagai seseorang dengan pribadi yang hangat dan sederhana.

BACA JUGA :    “Sudah Makan Belum?” Kenangan Tuti Sutiawati tentang Kehangatan Soeharto dan Ibu Tien

Memasuki Istana Merdeka bukan berarti meninggalkan kebiasaan hidup sederhana.

Dalam berbagai catatan biografi, Ibu Tien tetap mengawasi urusan rumah tangga keluarganya sendiri. Ia memperhatikan menu makanan, mengatur kebutuhan keluarga, serta memastikan keenam anaknya tumbuh dalam disiplin dan etika yang sama seperti sebelum keluarga mereka tinggal di Istana.

Ia percaya bahwa anak-anak Presiden pun harus belajar hidup sederhana, menghormati orang yang lebih tua, serta tidak merasa lebih tinggi dibandingkan orang lain.Kedisiplinan itu menjadi bagian dari pendidikan keluarga yang ia bangun bersama Presiden Soeharto.

Di lingkungan Istana, Ibu Tien dikenal memiliki perhatian yang luar biasa terhadap kerapian. Bunga yang layu segera diganti. Tanaman yang kurang terawat diperhatikan.

Penataan ruang selalu diperiksa dengan cermat.Namun semua itu bukanlah semata-mata soal estetika.Bagi Ibu Tien, lingkungan yang bersih dan tertata mencerminkan penghormatan kepada tamu negara sekaligus penghargaan terhadap rumah bangsa Indonesia.

Kecintaannya terhadap taman, pepohonan, bunga, dan lanskap hijau kemudian berkembang menjadi gagasan yang jauh lebih besar: menjadikan ruang publik sebagai tempat belajar budaya dan mencintai Indonesia.

Gagasan itu kelak melahirkan salah satu proyek budaya terbesar dalam sejarah Indonesia, yaitu Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Di tengah padatnya agenda kenegaraan Presiden Soeharto, Ibu Tien menjalankan peran yang sering kali tidak terlihat publik.

Ia mendampingi kunjungan kenegaraan, menerima tamu-tamu negara, mengunjungi daerah-daerah, menghadiri kegiatan sosial, serta menjadi pelindung berbagai yayasan yang bergerak di bidang pendidikan, kesehatan, kesejahteraan keluarga, dan pelestarian budaya.

Namun, mereka yang pernah bekerja bersamanya mengatakan bahwa perhatian terbesar Ibu Tien tetap tertuju pada keluarga. Sesibuk apa pun kegiatan kenegaraan, ia berusaha menyediakan waktu untuk berkumpul bersama anak-anak. Nilai kekeluargaan menjadi prinsip yang selalu dijaga di tengah kehidupan yang penuh tuntutan sebagai keluarga kepala negara.

Peran Ibu Negara pada masa itu bukan hanya bersifat seremonial.

Melalui berbagai organisasi sosial dan yayasan, Ibu Tien aktif mendorong pelestarian kebudayaan Nusantara, peningkatan kesejahteraan keluarga, serta pembangunan fasilitas sosial. Ia juga dikenal memiliki perhatian besar terhadap warisan sejarah bangsa, sehingga pelestarian museum dan peninggalan budaya menjadi salah satu bidang yang mendapat dukungannya.

Di balik layar, banyak gagasan lahir dari diskusi-diskusi sederhana antara Presiden Soeharto dan Ibu Tien.

Tidak semua gagasan itu menjadi kebijakan negara. Namun banyak yang kemudian berkembang menjadi program sosial maupun kebudayaan yang manfaatnya masih dirasakan hingga kini.

Bagi masyarakat Indonesia, Ibu Tien adalah pendamping Presiden.

Namun bagi Presiden Soeharto sendiri, ia adalah tempat bertukar pikirSemua Posan, penyejuk di tengah tekanan politik, dan sahabat perjalanan yang telah menemaninya sejak masa revolusi.

Mereka telah melewati kehidupan sebagai keluarga prajurit, masa-masa sulit setelah kemerdekaan, hingga akhirnya memikul amanah memimpin sebuah negara besar.

Mungkin karena itulah, meskipun pintu Istana telah terbuka lebar untuknya, Ibu Tien tidak pernah benar-benar meninggalkan rumah yang sesungguhnya.  Rumah itu bukanlah bangunan megah dengan tiang-tiang marmer. Rumah itu adalah nilai-nilai kesederhanaan yang telah ditanamkan orang tuanya sejak kecil—nilai yang tetap ia pegang hingga akhir hayat.

Dan dari nilai-nilai itulah lahir sebuah mimpi besar yang kelak dikenal seluruh rakyat Indonesia sebagai “Indonesia dalam Satu Taman.”

(Bersambung ke Bab III: “Mimpi Besar Seorang Ibu: Lahirnya Taman Mini Indonesia Indah”)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Yudi Latif Channel8.co.id – Ada saat ketika manusia…