Dedy Miing Gumelar Ajak Bangsa Indonesia Mengkaji Kembali Pemikiran Soeharto
Channel8.co.id, JAKARTA – Nama Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto, masih menjadi salah satu tokoh yang paling banyak diperdebatkan dalam sejarah Indonesia. Ada yang mengingatnya sebagai Bapak Pembangunan, ada pula yang menyoroti berbagai persoalan politik dan hak asasi manusia pada masa pemerintahannya.
Namun bagi mantan anggota DPR RI sekaligus komedian senior Dedy Gumelar atau Miing Bagito, sudah saatnya bangsa Indonesia melihat kepemimpinan Soeharto secara lebih jernih dan objektif.
Dalam wawancara panjang di tengah mempersiapkan buku autobiografinya menjelang usia 70 tahun, Miing mengaku pandangannya terhadap Soeharto berubah seiring perjalanan waktu.
“Kita harus objektif. Mungkin waktu Reformasi kita semua sedang emosional. Tapi sekarang mari kita lihat kembali mana kebijakan yang memang berhasil untuk bangsa ini,” ujar Miing.
Pernyataan itu menarik karena datang dari sosok yang dikenal sebagai pelawak kritis. Bersama grup Bagito, Miing pernah beberapa kali tampil di hadapan Presiden Soeharto dan Ibu Tien Soeharto. Ia bahkan pernah menceritakan bahwa Bagito dikenal dengan humor satir yang berani mengkritik kondisi sosial pada masa Orde Baru, namun tetap mendapat kesempatan tampil di hadapan Presiden.
Dari Anak Petani hingga Memahami Persoalan Sawah
Menurut Miing, salah satu kelebihan Soeharto adalah memahami persoalan pertanian bukan hanya dari teori, tetapi juga dari pengalaman hidup.
“Pak Harto itu tahu pertanian. Beliau mengerti petani karena memang berasal dari lingkungan desa. Dulu petani tidak bingung pupuk. Ada KUD yang mengatur pupuk, bibit sampai pemasaran hasil panen,” katanya.
Secara historis, pada era Orde Baru pemerintah memang menjalankan berbagai program intensifikasi pertanian melalui BIMAS, pembangunan irigasi, penyediaan benih unggul, subsidi pupuk, dan penguatan kelembagaan pedesaan. Kebijakan tersebut mengantarkan Indonesia memperoleh pengakuan FAO pada 1984 atas keberhasilan mencapai swasembada beras.
Bagi Miing, keberhasilan itu layak dipelajari kembali di tengah tantangan ketahanan pangan saat ini.
SD Inpres: Warisan yang Masih Berdiri
Hal lain yang selalu diingat Miing adalah pembangunan pendidikan dasar.
“SD Inpres itu zaman Pak Harto. Hampir di mana-mana sekolah berdiri. Itu fakta yang masih bisa kita lihat sampai sekarang.”
Data Museum Kepresidenan Republik Indonesia Balai Kirti menunjukkan Program Sekolah Dasar Instruksi Presiden (SD Inpres) menjadi salah satu proyek pembangunan pendidikan terbesar pada dekade 1970-an dan 1980-an untuk memperluas akses pendidikan dasar di berbagai daerah.
Hingga kini, tidak sedikit gedung SD Inpres yang masih digunakan masyarakat, meski telah mengalami renovasi atau perubahan nama.
Memilih Orang Berdasarkan Kompetensi
Miing juga menilai Soeharto memiliki kemampuan memilih pembantu-pembantunya.
Menurutnya, Indonesia pernah memiliki jajaran menteri yang diakui dunia.
Ia menyebut nama Menteri Luar Negeri Ali Alatas, ekonom Ali Wardhana, hingga Menteri Pendidikan Fuad Hasan sebagai contoh tokoh yang ditempatkan sesuai keahlian masing-masing.
Pandangan tersebut sejalan dengan berbagai kajian sejarah yang mencatat besarnya peran teknokrat dalam pemerintahan Orde Baru, terutama dalam stabilisasi ekonomi dan pembangunan nasional.
“Jangan Lihat Hanya Hitam atau Putih”
Meski memberikan apresiasi terhadap sejumlah kebijakan pembangunan, Miing menegaskan dirinya tidak mengajak masyarakat melupakan kritik terhadap era Orde Baru.
“Kita jangan melihat sejarah hanya hitam atau putih. Yang baik kita ambil, yang salah kita jadikan pelajaran.”
Pandangan itu sejalan dengan pendekatan para sejarawan yang menilai bahwa warisan pemerintahan Soeharto perlu dipahami secara utuh: di satu sisi terdapat keberhasilan pembangunan ekonomi, pendidikan, dan infrastruktur, sementara di sisi lain terdapat berbagai persoalan serius seperti pembatasan kebebasan politik, sentralisasi kekuasaan, serta praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme yang juga menjadi bagian dari catatan sejarah Indonesia.
Saatnya Dibahas di Kampus
Di penghujung wawancara, Miing menyampaikan gagasan yang menurutnya lebih penting daripada sekadar memperdebatkan masa lalu. Ia mengusulkan agar pemikiran Soeharto dikaji secara ilmiah melalui seminar, penelitian, dan buku.
“Kita bedah saja pikiran Pak Harto. Misalnya tentang pertanian, pendidikan, diplomasi. Kita lihat, apakah masih relevan untuk Indonesia sekarang. Jangan karena suka lalu semua dianggap benar. Jangan juga karena benci lalu semua dianggap salah.”
Bagi Miing, bangsa yang besar bukanlah bangsa yang menghapus sejarahnya, melainkan bangsa yang berani mempelajarinya secara objektif.Dan mungkin, di situlah letak pelajaran terbesar dari sosok Soeharto: bukan sekadar untuk dikenang atau diperdebatkan, tetapi untuk dipahami secara utuh—agar pengalaman masa lalu dapat menjadi bekal menghadapi tantangan Indonesia di masa depan. (Koni Bardianto)






