Channel8.co.id,Jakarta – Bagi Tubagus Dedy Suwandi Gumelar atau yang lebih dikenal sebagai Miing Bagito, sosok Presiden ke-2 RI HM Soeharto meninggalkan kesan yang cukup kuat, bukan semata sebagai tokoh politik, tetapi sebagai pemimpin yang bekerja dengan pendekatan yang sangat praktis: menempatkan orang yang tepat di posisi yang tepat.
Miing dikenal publik sebagai salah satu pendiri grup lawak legendaris Bagito yang populer di era 1990-an. Namun di luar panggung hiburan, ia juga memiliki latar belakang pendidikan teknik, berkecimpung di dunia konstruksi dan industri baja, termasuk di PT Mas Baja Indonesia. Ia juga pernah menjadi anggota DPR RI periode 2009–2014. Kombinasi pengalaman di dunia seni, bisnis, dan politik inilah yang membuat cara pandangnya terhadap kepemimpinan cenderung realistis—berbasis kerja, hasil, dan efektivitas.
Dari sudut pandang itu, Miing menilai salah satu kekuatan utama Soeharto adalah kemampuannya dalam memilih dan menempatkan orang-orang yang dianggap kompeten di bidangnya masing-masing.
“Pak Harto itu pandai menempatkan orang sesuai bidang keahliannya,” ujar Miing saat mengenang masa kepemimpinan Soeharto.
Ia mencontohkan sejumlah nama yang menurutnya mencerminkan pola tersebut. Di bidang diplomasi, ada Ali Alatas yang dikenal luas sebagai Menteri Luar Negeri Indonesia paling lama menjabat (1988–1999) dan berperan penting dalam berbagai perundingan internasional, termasuk penyelesaian konflik Kamboja. Di bidang hukum internasional, Mochtar Kusumaatmadja—yang juga dikenal sebagai pencetus Wawasan Nusantara dalam hukum laut—dinilai Miing sebagai sosok akademisi yang benar-benar ditempatkan sesuai keahliannya. Sementara di sektor pendidikan, Fuad Hasan, seorang akademisi dan psikolog, dipercaya memimpin Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 1985–1993.
Bagi Miing, komposisi kabinet seperti itu menunjukkan bahwa pertimbangan Soeharto tidak semata-mata politik, tetapi juga mempertimbangkan kapasitas dan rekam jejak profesional.
Selain soal sumber daya manusia, Miing juga menyoroti kebijakan Soeharto di sektor pertanian yang menurutnya sangat terstruktur. Ia menilai, latar belakang Soeharto yang tumbuh di lingkungan pedesaan ikut membentuk sensitivitasnya terhadap persoalan petani.
Pada era Orde Baru, pemerintah memang menjalankan berbagai program pertanian terpadu, mulai dari pembangunan jaringan irigasi, distribusi pupuk bersubsidi, penyediaan benih unggul melalui program Bimas dan Inmas, hingga penyuluhan pertanian. Upaya ini, menurut catatan berbagai sumber sejarah pembangunan Indonesia, turut berkontribusi pada capaian swasembada beras pada 1984 yang bahkan mendapat pengakuan dari FAO (Food and Agriculture Organization).
“Bukan hanya mengajarkan cara bertani, tapi juga memastikan petani bisa hidup lebih baik,” kata Miing menggambarkan pendekatan kebijakan saat itu.
Di bidang pendidikan, ia juga melihat adanya lompatan besar melalui program SD Inpres yang dimulai sejak awal 1970-an. Program ini membangun puluhan ribu sekolah dasar di seluruh Indonesia, terutama di daerah terpencil. Selain itu, kebijakan Wajib Belajar 6 Tahun yang kemudian berkembang menjadi 9 tahun pada era berikutnya, dinilai sebagai fondasi penting dalam memperluas akses pendidikan dasar bagi masyarakat.
Menurut Miing, pembangunan sekolah secara masif pada masa itu menunjukkan bahwa pendidikan ditempatkan sebagai bagian penting dari strategi pembangunan nasional, bukan sekadar pelengkap.
Meski demikian, ia tidak menutup mata bahwa era Orde Baru juga menyisakan berbagai catatan dan kritik dalam sejarah politik Indonesia. Namun, dari sisi kepemimpinan, ia menilai ada beberapa pelajaran yang bisa diambil, terutama dalam hal konsistensi pembangunan, efektivitas birokrasi, dan kemampuan membangun tim kerja berbasis kompetensi.
“Pada akhirnya, keberhasilan sebuah pemerintahan sangat ditentukan oleh kemampuan pemimpin memilih orang-orang terbaik untuk bekerja,” ujar Miing.
Bagi Miing, pengalaman masa lalu itu menjadi refleksi bahwa kepemimpinan bukan hanya soal figur di puncak kekuasaan, tetapi juga tentang bagaimana sebuah sistem dijalankan oleh orang-orang yang tepat di tempat yang tepat.






