BeritaFeatureHistoria

Sebungkus Terasi dan Makna “Semedulur” dari Ibu Tien Soeharto

×

Sebungkus Terasi dan Makna “Semedulur” dari Ibu Tien Soeharto

Sebarkan artikel ini
Susrinah Sanyoto Satrowardoyo istri dari Ir. Sanyoto Sastrowardoyo, mantan Menteri Negara Investasi/Kepala BKPM Republik Indonesia pertama pada periode 1993-1998 saat bercerita mengenang almarhum Ibu Tien Soeharto, di kediaman Jakarta, Minggu, 26/07/2026 (Foto : Koni Bardianto)

Channel8.co.id, Jakarta- Ada orang yang dikenang karena jabatan. Ada pula yang tetap hidup dalam ingatan karena kebaikan-kebaikan kecil yang tak pernah dibuat-buat. Bagi Susrinah Sanyoto Sastrowardoyo,  Ibu Tien Soeharto adalah sosok yang termasuk dalam golongan kedua.

Di usia 88 tahun, mantan Ketua Umum Yayasan Seni Rupa Indonesia dan pendiri Mitra Seni Indonesia (MSI) serta penggagas Yayasan Seni Jelenglong itu masih mengingat dengan sangat jelas kehangatan Ibu Tien. Bukan tentang kemegahan Istana, melainkan tentang perhatian sederhana yang justru meninggalkan kesan paling dalam.

“Ibu Tien itu halus, lembut, dan semedulur,” tutur Susrinah.

Dalam falsafah Jawa, semedulur bukan sekadar bersaudara, tetapi memperlakukan orang lain layaknya keluarga sendiri. Itulah sifat yang menurutnya begitu melekat pada diri Ibu Tien. Cara bicaranya lembut, sikapnya bersahaja, rendah hati, dan setiap orang merasa diterima tanpa sekat.

Ketika mendampingi Ibu Tien Soeharto saat membuka ASEAN Art Awards 1995 Philip Morris Group Companies  di Gedung ASEAN Jakarta, 28/08/1995 (Foto : Buku Rangkaian Melati Ibu Tien)

Kenangan yang paling membekas justru berawal dari hal yang sangat sederhana.

Suaminya, Ir. Sanyoto Sastrowardoyo, pernah mengungkapkan keinginannya mencicipi sambal buatan Ibu Tien yang dikenal gemar memasak. Tak lama kemudian, ke rumah mereka datang kiriman terasi dari Cirebon. Setelah menyampaikan bahwa terasi itu sangat enak, mereka justru kembali menerima kiriman berikutnya.

“Bagi beliau mungkin itu hal kecil, tetapi bagi kami itu perhatian yang luar biasa,” kenang Susrinah.

Begitulah Ibu Tien. Tidak banyak bicara, tetapi mengingat apa yang disukai orang lain dan menunjukkannya lewat tindakan sederhana.

Kerendahan hatinya pun tampak dalam peristiwa lain. Saat diminta menjadi pelindung sebuah yayasan seni, Ibu Tien menjawab sambil berseloroh, “Kalau cari saya susah. Yang sekamar saja.” Yang dimaksud ternyata adalah suami Susrinah sendiri. Candaan ringan itu mencairkan suasana sekaligus memperlihatkan betapa beliau tidak pernah menempatkan dirinya di atas orang lain.

Susrinah juga mengenang bagaimana Ibu Tien selalu mendorong para istri pejabat untuk mendampingi suami dalam menjalankan tugas negara. Bukan sebagai pelengkap, melainkan sebagai pasangan yang memberi ketenangan, menjaga keharmonisan, dan menjadi penopang di balik tanggung jawab besar yang dipikul seorang suami.

“Ada satu kata Jawa yang paling tepat menggambarkan Ibu Tien: ngangeni. Bukan sekadar berarti ‘dirindukan’, melainkan sosok yang kehadirannya meninggalkan kehangatan di hati sehingga siapa pun yang pernah mengenalnya akan selalu mengenangnya dengan rasa rindu. Itulah kesan yang hingga kini masih disimpan Susrinah Sanyoto Sastrowardoyo.”

Susrinah dan Almarhum suami Ir. Sanyoto Sastrowardoyo berfoto sebelum peresmian Galeri Kemuning, Pasar Pondok Indah Jakarta (07/06/2015) (Dokumentasi Galeri Kemuning)

Sementara itu, tentang Presiden Soeharto, Susrinah mengingat cerita suaminya yang menyebut beliau sebagai pribadi yang sangat hemat kata. “Pak Harto itu kalau berbicara tidak pernah bertele-tele. Bahkan ketika marah pun tetap tersenyum. Tetapi orang Jawa tahu kapan beliau sedang marah.”

Bagi Susrinah, Pak Harto dan Ibu Tien adalah pasangan yang saling melengkapi. Pak Harto menghadirkan ketegasan dalam kesunyian, sementara Ibu Tien menghadirkan kehangatan dalam kesederhanaan.

Puluhan tahun telah berlalu, tetapi kenangan itu tetap hidup. Sebab pada akhirnya, yang paling lama tinggal dalam ingatan bukanlah kebesaran jabatan, melainkan ketulusan hati. Dan pada diri Ibu Tien Soeharto, ketulusan itu hadir melalui perhatian-perhatian kecil yang membuat setiap orang merasa menjadi “sedulur”—(seperti sebagai keluarga/saudara – red) keluarga yang diterima dengan kasih dan kerendahan hati. (koni)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Oleh: Yudi Latif Channel8.co.id ,  Saudaraku, hingga dekade…