Channel8.co.id, SOLO – Matahari baru saja tenggelam di ufuk barat ketika petikan ukulele membuka malam di Alun-Alun Utara Keraton Kasunanan Surakarta. Suara cak dan cuk menyusul, lalu denting cello dan gitar mengalun pelan, seolah mengajak penonton terlarut dan orang menghentikan langkah. Tak butuh waktu lama, tepuk tangan bergemuruh.
Di hadapan panggung, seorang kakek tampak bersenandung pelan. Di sampingnya, cucunya yang masih duduk di bangku sekolah merekam penampilan penyanyi dengan telepon genggam. Dua generasi yang mungkin berbeda selera musik itu, malam itu larut dalam irama yang sama.Begitulah wajah Solo Keroncong Festival (SKF) 2026.
BUKA LINK : https://www.facebook.com/share/v/1Ft9jpkDFr/
Selama dua hari, 18-19 Juli 2026, Alun-Alun Utara Keraton Surakarta berubah menjadi ruang perjumpaan. Bukan sekadar panggung hiburan, melainkan tempat bertemunya kenangan, budaya, dan harapan agar musik keroncong tetap hidup di tengah derasnya musik modern.
Festival yang tahun ini mengusung tema “Keroncong Pusaka Nusantara” dengan konsep “Keroncong Majestic” dan tagline “Memayu Hayuning Keroncong” seakan ingin menegaskan satu pesan sederhana: keroncong bukan milik masa lalu. Ia masih bernapas, masih dicintai, dan masih mampu menyentuh hati siapa pun yang mendengarnya.
Suasana semakin hangat ketika satu per satu penyanyi tampil di atas panggung.
Penampilan Diva Keroncong Tuti Maryati menjadi salah satu momen yang paling dinanti. Dengan karakter vokalnya yang khas, ia membawakan Langgam “Sendja di Soerabaja”, karya Agus Subagioatau Gustav Subagio, tokoh keroncong yang selama ini dikenal sebagai pembina Orkes Keroncong Impresif Riang Gembira (OK IRG). Lagu yang sarat nuansa romantik itu mengalir lembut, mengajak penonton larut dalam kenangan, sekaligus menunjukkan bahwa karya-karya baru keroncong tetap mampu memikat hati penikmat musik.

Namun festival ini bukan hanya tentang nostalgia.
Ketika Ika Kurniawati naik ke atas panggung, suasana berubah lebih dinamis. Penonton diajak bernyanyi bersama. Lagu tradional jawa “Tak Lelo Ledung” ciptaan Markasan dipadu dengan Irama keroncong terdengar lebih segar, membuktikan bahwa musik tradisional mampu beradaptasi tanpa kehilangan ruhnya.

BACA JUGA : Dari Solo Gustav Subagio Menjaga Nada, Merawat Warisan
Malam semakin semarak saat Iga Mawarni tampil. Penyanyi berbagai genre jazz dan bosaz serta pelantun lagu Kasmaran. Iga mawarni memberi warna baru pada panggung Solo Keroncong Festival. Kolaborasinya bersama orkes keroncong menjadi bukti bahwa musik warisan Nusantara tetap relevan jika terus diberi ruang untuk berinovasi.

Tepuk tangan panjang tak hanya diberikan kepada para penyanyi. Apresiasi juga mengalir kepada para musisi yang setia menjaga denyut keroncong tetap hidup. Di tangan mereka, musik yang lahir lebih dari seabad lalu itu terdengar tetap segar.
Di luar arena pertunjukan, kehidupan ekonomi warga Solo berjalan dengan iramanya sendiri.
Deretan pedagang kuliner khas Solo dipenuhi pembeli. Aroma sate buntel, tengkleng, wedang ronde, hingga serabi bercampur dengan semilir angin malam. Di sisi lain, pelaku UMKM menawarkan batik, kerajinan tangan, dan berbagai produk lokal. Festival ini bukan hanya menghidupkan panggung seni, tetapi juga menggerakkan ekonomi rakyat.

Itulah sebabnya Solo Keroncong Festival selalu memiliki makna lebih. Sejak pertama kali digelar pada 2009, festival ini bukan sekadar agenda tahunan. Ia telah menjadi ruang pelestarian budaya, tempat lahirnya kolaborasi antargenerasi, sekaligus panggung bagi musisi muda untuk mengenal akar musik bangsanya.
Di tengah gempuran musik digital yang datang silih berganti, Solo memilih jalan berbeda. Kota ini tidak melawan perubahan, tetapi mengajak tradisi berjalan berdampingan dengan zaman.
Malam pun semakin larut. Lampu panggung perlahan mulai redup. Namun para penonton masih enggan beranjak. Mereka ingin menikmati setiap nada terakhir yang mengalun dari panggung. Barangkali di situlah letak keistimewaan keroncong.
Ia tidak pernah berteriak untuk didengar. Ia hanya mengalun pelan, lalu diam-diam menemukan jalannya menuju hati.
Dan selama Kota Solo terus merawatnya, keroncong akan selalu memiliki rumah. Bukan sekadar sebagai warisan budaya, tetapi sebagai musik yang terus menyatukan generasi dalam harmoni Nusantara. (Koni)






