Berita

Fadli Zon: Kepemimpinan Pak Harto Masih Sangat Relevan Menjadi Teladan bagi Generasi Z

×

Fadli Zon: Kepemimpinan Pak Harto Masih Sangat Relevan Menjadi Teladan bagi Generasi Z

Sebarkan artikel ini
Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon menilai sejumlah kebijakan yang dijalankan Presiden Ke-2 RI, Soeharto masih memiliki relevansi untuk menjawab tantangan pembangunan Indonesia saat ini. Ungkapnya dalam sambutan Seminar Nasional Kepemimpinan Soeharto di Auditorium Universitas Trilogi Jakarta, Rabu 24/06/26 (Foto : Koni Bardianto)

Channel8.co.id, Jakarta. – Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, menilai karakter kepemimpinan Presiden ke-2 Republik Indonesia, Jenderal Besar TNI HM Soeharto, masih sangat relevan untuk dipelajari dan diteladani oleh generasi muda, khususnya Generasi Z (Gen Z).

Hal tersebut disampaikan Fadli saat menjadi pembicara dalam Seminar Nasional Kepemimpinan Jenderal Besar TNI HM Soeharto yang digelar di Auditorium Universitas Trilogi, Jakarta Selatan, Rabu (24/6/2026), dalam rangka memperingati 105 tahun kelahiran Presiden Soeharto.

Lihat versi video kegiatan seminar dan sketsa wajah di Trilogi  buka dan  klik  link Youtube : https://www.youtube.com/live/S_3UrRyx9es

Menurut Fadli, banyak nilai kepemimpinan Pak Harto yang tetap relevan hingga saat ini, mulai dari kemampuan memahami realitas masyarakat, menghargai ilmu pengetahuan, membangun sistem kerja yang efektif, hingga keberanian mengambil keputusan dan bertanggung jawab atas segala risikonya.

“Sangat relevan untuk dicontoh Gen Z. Pak Harto adalah sosok yang rendah hati, bertanggung jawab, berani mengambil keputusan, dan siap menanggung segala risikonya,” ujar Fadli.

Ia menambahkan, kekuatan kepemimpinan Presiden Soeharto juga terletak pada filosofi hidup yang berakar kuat pada budaya Indonesia.

“Banyak contoh yang bisa dipelajari, termasuk filosofi yang berakar dari budaya. Nilai-nilai budaya itulah yang membuat Pak Harto memiliki jejak kepemimpinan yang begitu kuat,” katanya.

Perlu Peningkatan Literasi tentang Sosok Soeharto

Fadli menilai pemahaman generasi muda terhadap sosok Presiden Soeharto masih perlu diperkuat melalui peningkatan literasi dan ketersediaan buku-buku sejarah yang lebih mudah diakses.

Menurutnya, digitalisasi dan penyebarluasan berbagai literatur mengenai Presiden Soeharto akan membantu generasi muda memahami karakter, kepemimpinan, dan jasa-jasanya bagi bangsa.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon mendapat Piagam dan Penghargaan dari Universitas Trilogi Jakarta, Rabu 254/06/26 (Foto : Koni Bardianto)

“Saya yakin nanti akan semakin banyak informasi tentang Pak Harto yang bisa diperoleh Gen Z, apalagi jika buku-buku tentang beliau semakin banyak didigitalisasi, didiseminasi, dan didistribusikan,” ujarnya.

Fadli menjelaskan, kepemimpinan Presiden Soeharto berkembang dalam situasi yang penuh tantangan. Berbagai kebijakan pembangunan yang dijalankan pada masanya menunjukkan pentingnya kemampuan seorang pemimpin dalam memahami persoalan bangsa, mengelola sumber daya yang ada, serta mengambil keputusan strategis demi kepentingan masyarakat luas.

“Kepemimpinan Pak Harto di tengah berbagai tantangan pada masanya merupakan bagian dari perjalanan sejarah bangsa yang dapat menjadi sumber pembelajaran bagi generasi penerus dalam membangun Indonesia ke depan,” katanya.

Jasa Besar Pak Harto di Bidang Pertanian

Dalam kesempatan tersebut, Fadli juga menyoroti keberhasilan Presiden Soeharto membawa Indonesia mencapai swasembada pangan pada tahun 1984.

Menurutnya, keberhasilan tersebut merupakan salah satu pencapaian besar bangsa Indonesia yang patut dipelajari dan dijadikan inspirasi di tengah upaya pemerintah mewujudkan kembali kemandirian pangan nasional.

Baca Juga : Ketika Ibu Tien Tiada, Mbak Tutut Menjadi Tempat Pulang Pak Harto

“Sebagaimana diketahui, Indonesia berhasil mencapai swasembada pangan pada tahun 1984. Yang sebelumnya mengalami kekurangan pangan, kemudian mampu menjadi negara swasembada. Itu adalah prestasi yang luar biasa,” ujarnya.

Keberhasilan tersebut, kata Fadli, tidak terlepas dari kebijakan Revolusi Hijau yang digagas Presiden Soeharto, yakni transformasi sistem pertanian tradisional menjadi pertanian modern dengan fokus pada peningkatan produksi pangan, khususnya padi.

“Pak Harto menggerakkan Koperasi Unit Desa (KUD) dengan fokus pada sektor pertanian. Di bidang ekonomi juga banyak capaian lain, mulai dari investasi, industrialisasi, hingga tumbuhnya berbagai sentra ekonomi di daerah,” jelasnya.

Koperasi Desa Merah Putih Dinilai Memiliki Semangat yang Sama dengan KUD

Fadli menilai keberadaan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang saat ini dikembangkan pemerintah memiliki semangat yang hampir serupa dengan KUD pada era Presiden Soeharto.

Menurutnya, KDMP bahkan memiliki cakupan yang lebih luas karena menyentuh berbagai aspek perekonomian desa.

“KDMP ditujukan untuk menggerakkan perekonomian desa dengan membuka akses bagi petani, nelayan, pekebun, dan pedagang kecil agar mereka memperoleh harga yang layak atas produk yang dihasilkan. Kekuatan koperasi adalah kebersamaan, sehingga para anggotanya memiliki posisi tawar yang lebih baik,” katanya.

Ia mencontohkan keberhasilan koperasi pertanian di Jepang, seperti JA Zen-Noh, yang memiliki peran besar dalam memperkuat sektor pertanian dan kesejahteraan petani.

“Awalnya pasti ada penyesuaian dan berbagai tantangan, tetapi semuanya bisa diselesaikan dengan baik,” ujarnya.

Pak Harto Berperan sebagai Mediator Konflik Internasional

Selain keberhasilannya di bidang pembangunan, Fadli juga menyoroti peran Presiden Soeharto di tingkat internasional.

Menurutnya, Pak Harto tercatat aktif dalam berbagai forum dunia seperti ASEAN, APEC, dan Gerakan Non-Blok. Bahkan, Presiden Soeharto juga berperan sebagai mediator dalam sejumlah konflik di kawasan, termasuk di Kamboja dan Filipina.

“Kita bisa melihat keterlibatan Pak Harto di ASEAN, APEC, maupun Gerakan Non-Blok. Bahkan beliau juga tercatat sebagai mediator dalam berbagai konflik di Kamboja maupun Filipina,” tegasnya.

Fadli berharap generasi muda terus mempelajari sejarah bangsa secara utuh agar nilai-nilai kepemimpinan, pengabdian, dan kebangsaan yang diwariskan para tokoh nasional tidak hilang ditelan zaman.

Rangkaian Peringatan 105 Tahun Kelahiran Presiden Soeharto

Seminar Nasional Kepemimpinan Jenderal Besar TNI HM Soeharto merupakan bagian dari rangkaian peringatan 105 tahun kelahiran Presiden Soeharto yang diselenggarakan oleh Universitas Trilogi bersama Yayasan Dana Sejahtera Mandiri dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

Selain Fadli Zon, seminar juga menghadirkan sejumlah tokoh nasional, di antaranya Dekan Fakultas Strategi Pertahanan Universitas Pertahanan Mayjen TNI Dr. Oktaheroe Ramsi, mantan Menteri Keuangan Fuad Bawazier yang juga menjabat sebagai Pengawas Yayasan Damandiri, serta Ketua Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Indonesia, Yudi Latif.

Dalam rangkaian kegiatan yang sama, panitia juga menggelar lomba sketsa wajah Presiden Soeharto bertajuk “Seribu Goresan Sejarah” yang diikuti oleh 1.126 peserta dari kalangan pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum.

Atas jumlah peserta tersebut, Museum Rekor Indonesia (MURI) menetapkan kegiatan itu sebagai rekor untuk kategori lomba sketsa wajah Presiden Soeharto dengan peserta terbanyak di Indonesia. (sri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *