Channel8.co.id, Hulu Selangor – Malaysia beberapa hari terakhir seakan berhenti sejenak. Di media sosial, grup percakapan keluarga, hingga warung-warung kopi, satu nama terus dibicarakan: Nur Izzati Humaira Azizul, gadis 19 tahun yang hilang di kawasan Bukit Changkat Asa, Hulu Selangor.
Bukan hanya karena ia hilang di tengah hutan. Tetapi karena kisahnya menyentuh hati begitu banyak orang.
Semua bermula dari perjalanan biasa. Nur Izzati pergi mendaki bersama keluarga dan teman-temannya. Tidak ada yang menyangka perjalanan santai di akhir pekan Sabtu, 23 Mei 2026 itu berubah menjadi mimpi buruk yang mengguncang satu negeri.

Saat perjalanan turun dari bukit, Nur Izzati dikabarkan terpisah dari rombongan. Ketika namanya dipanggil, tak ada jawaban. Hutan mulai gelap. Kepanikan keluarga pun dimulai.
Malam itu juga, operasi pencarian dilakukan. Petugas Jabatan Bomba dan Penyelamat Malaysia (JBPM), polisi, relawan, hingga warga sekitar turun ke lokasi. Mereka menyisir lereng, semak, hingga jalur-jalur sempit yang sulit dijangkau.
Di tengah gelapnya hutan Bukit Changkat Asa, suara petugas memanggil nama “Izzati…” terus terdengar berulang-ulang.
Kisah pencarian ini kemudian viral di Malaysia. Ribuan warga mengikuti perkembangan operasi SAR dari menit ke menit melalui media sosial. Banyak yang ikut berdoa meski tidak pernah mengenal Nur Izzati secara pribadi.
Tagar tentang Nur Izzati ramai di TikTok, Facebook, Threads hingga X. Video para petugas SAR berjalan di tengah hutan malam hari membuat publik tersentuh. Banyak netizen mengaku tidak bisa tidur mengikuti perkembangan pencarian gadis muda tersebut.
Yang membuat hati publik semakin tersentuh adalah ketegaran keluarga korban.
Di tengah rasa cemas yang luar biasa, keluarga Nur Izzati masih harus menghadapi berbagai rumor liar yang beredar di media sosial. Ada yang menyebarkan kabar palsu korban sudah ditemukan, ada pula cerita-cerita mistis yang memperkeruh suasana.
Keluarga akhirnya memohon masyarakat menghentikan spekulasi dan hanya mengikuti informasi resmi dari tim SAR dan pihak pemerintah Malaysia.
“Belum bersedia menceritakan apa yang berlaku sepanjang pencarian,” ujar salah satu anggota keluarga dengan nada penuh kesedihan kepada media lokal Malaysia.
Kalimat singkat itu justru membuat publik semakin iba.
Banyak warga Malaysia kemudian datang langsung ke lokasi pencarian membawa makanan dan minuman untuk petugas SAR. Sebagian lain menggelar doa bersama di masjid dan rumah masing-masing demi keselamatan Nur Izzati.
Operasi pencarian pun diperluas hingga radius yang lebih besar. Tim SAR berjibaku melawan medan licin, cuaca panas, dan hutan lebat yang menyulitkan proses evakuasi.
Namun harapan masyarakat Malaysia akhirnya berubah menjadi duka mendalam.
Setelah empat hari pencarian yang menguras emosi publik, Nur Izzati ditemukan hari Selasa, 26 Mei 2026 dalam keadaan meninggal dunia di kawasan hutan Bukit Changkat Asa. Jasadnya ditemukan sekitar 500 meter, tidak jauh dari lokasi saat di laporkan hilang. Kabar itu membuat media sosial Malaysia dipenuhi ucapan belasungkawa dan tangisan virtual dari ribuan warga.

Bagi banyak orang di Malaysia, Nur Izzati bukan lagi sekadar berita kehilangan. Ia menjadi simbol tentang cinta keluarga, harapan yang tak pernah padam, dan rasa kemanusiaan yang menyatukan banyak orang dalam doa.
Di balik lebatnya hutan Bukit Changkat Asa, tersimpan kisah pilu seorang gadis muda yang membuat satu negeri ikut merasa kehilangan.





