Oleh : Bakarudin AK.
Channel8.co.id -PRESIDEN AMERIKA SERIKAT Donald John Trump benar-benar terantuk batu. Sikap pongahnya akan dengan mudah menaklukan Iran bersama Israel merupakan pepesan kosong. Sampai batas waktu ijin perang selama 60 hari telah berakhir, AS-Israel harus menerima kenyataan, Iran bukannya mengibarkan bendera putih, justru sebaliknya berani memamerkan kekuatan perangnya. Selain itu, para petinggi Iran bergantian mengejek Donald Trump sebagai Pemimpin AS yang tidak konsisten dan “mencla-mencle”. Pada awal invasi ke Iran, menyebut adanya ancaman senjata nuklir yang dapat diproduksi Iran. Setelah gagal membuktikan, mengalihkan aksi militernya berkaitan dengan penguasaan Selat Hormuz.
Aksi-aksi militer AS-Israel selalu mendapat reaksi setimpal dari Iran. Pangkalan-pangkalan militer AS di negara-negara Timur Tengah pun berhasil dilumpuhkan oleh rudal dan drone kamikaze milik Iran. Tidak kalah mengejutkan, pertahanan udara Iran berhasil merontokkan sejumlah pesawat tempur canggih AS. Kapal-kapal perang AS yang memblokade pintu masuk ke pelabuhan-pelabuhan Iran pun “mati kutu” tak berani mendekat. Angkatan Laut AS pun mengalihkan aksinya di perairan Internasionl untuk mencegah tanker dan kapal kargo yang berhubungan dengan kepentingan Iran.
Donald Trump kali ini memang menjadi “kesepian”. Negara-negara sekutunya di NATO menolak membantu AS-Israel dalam memerangi Iran. Beberapa negara NATO sampai menolak wilayah udaranya dilalui pesawat tempur AS. Sedangkan dari dalam negeri, tekanan ekonomi membuat rakyat AS meluapkan kemarahannya pada Donald Trump. Tidak sampai di situ, Kongres AS pun “menyerang” habis-habisan kebijakan Donald Trump memulai perang di Iran. Namun Donald Trump menampik, jika AS telah kalah dalam konflik melawan Iran.
Dikatakannya, jika ada yang menganggap AS tidak memenangkan perang dengan Iran, maka orang itu disebut melakukan pengkhianatan. “Kita mendapat pernyataan dari kelompok kiri radikal, ‘Kita tidak menang, kita tidak menang.’ Mereka tidak memiliki kekuatan militer lagi. Sungguh luar biasa. Sebenarnya, saya percaya itu adalah pengkhianatan, oke. Anda ingin tahu yang sebenarnya – itu adalah pengkhianatan,” kata Trump dalam pidatonya di The Villages, Florida, dilansir CNN, Sabtu (2/5/2026).
Begitulah Donald Trump. Tidak hanya “mencla-mencle” tapi juga “keras kepala”. Donald Trump ingin menunjukkan hegemoninya kepada dunia, bahkan kepada negara-negara sekutunya. Ia mulai menebar ancaman akan memberikan ancaman dagang kepada negara-negara NATO yang tidak mendukung invasi AS ke Iran. Seperti diketahui Donald Trump telah mengeluarkan kebijakan tarif dagang secara sepihak kepada seluruh negara-negara di dunia. Kebijakan tersebut sontak mendapat penolakan dari negara-negara lain, termasuk Indonesia yang memilih bernegosiasi untuk mendapatkan tarif dagang yang rendah.
Donald Trump memang harus mempertahankan citra kepemimpinannya. Hal itu disebabkan Pemilu AS akan melaksanakan Pemilu Paruh Waktu (midterm elections) yang akan diadakan pada bulan November 2026. Pemilu ini akan menentukan seluruh 435 kursi di Dewan Perwakilan Rakyat dan 33 posisi di Senat, sedangkan pemilihan presiden berikutnya (Pilpres AS) baru akan diadakan kembali pada tahun 2028. Pemilu paruh waktu biasanya diadakan dua tahun setelah pemilihan presiden untuk memilih anggota Kongres, yang dapat berdampak signifikan pada kebijakan presiden petahana. Pada pidatonya Rabu (25/3) lalu, Donald Trump meyakini Partai Republik akan meraih suara mayoritas di Kongres yang lebih besar saat pemilu sela. Donald Trump berjanji akan berkampanye untuk setiap kandidat Republikan.
Kebijakan luar negeri AS di era Donald Trump sering menimbulkan kekisruhan geopolitik dan ekonomi. AS dan Donald Trump tidak memiliki konsistensi, hanya konsisten dalam membela kepentingan Zionis Israel dalam memerangi Palestina. Ingat saja bagaimana perintah Donald Trump menangkap Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, dilaporkan ditangkap oleh Amerika Serikat dalam operasi militer pada 3 Januari 2026, bersama istrinya, Cilia Flores. Maduro dibawa ke New York untuk menghadapi dakwaan terorisme narkoba. Penangkapan ini memicu kontroversi terkait legalitas internasional. Penangkapan ini dianggap kontroversial dan memicu perdebatan hukum internasional, dengan beberapa pihak menganggapnya sebagai tindakan sah melawan diktator, sementara yang lain menganggapnya melanggar kedaulatan negara Tapi, sejatinya AS hanya ingin menguasai pengelolaan bisnis Bahan Bakar Minyak.
Kontroversi Donald Trump sesungguhnya telah memicu kesadaran negara-negara Eropa. Sejumlah negara telah berpikir untuk keluar dari NATO, melepaskan diri dari ketergantungan militer dan ekonomi terhadap AS. Bagaimana akhir dari hubungan AS dan negara-negara dunia masih harus ditunggu? Setidaknya sampai pelaksanaan Pemilu Paruh Waktu, apabila Partai Republik rontok, bisa jadi akan mampu “mengerem” kesombongan Donald Trump? Lebih dari itu, tidak menutup kemungkinan pemakzulannya, yang dibarengi dengan tekanan publik melalui demonstrasi besar-besaran.
Kita tunggu bagaimana kondisi AS dalam beberapa waktu mendatang. Patut dicermati berkali-kali menyampaikan dalam berbagai kesempatan memberikan ancaman akan menyerang Kuba. Hubungan AS-Kuba sempat membaik pada era kepemimpinan Barack Obama. Tapi Donald Trump mengumumkan pembatalan pengenduran yang diinisiasi Barack Obama, mengatakan dirinya membatalkan “kesepakatan yang buruk dan menyesatkan” dengan Havana.
Dikatakan akan mengambil alih Kuba dalam waktu sekejap, serta menyiratkan kemungkinan pengerahan kapal induk di lepas pantai untuk memaksa negara pulau tersebut menyerah. “Kuba akan kami ambil alih dalam waktu sangat cepat. Donald Trump mengeklaim bahwa rakyat Kuba menghadapi berbagai masalah. Donald Trump mengindikasikan langkah tersebut akan menyusul perang AS-Israel terhadap Iran, dengan menyebut Washington akan mengerahkan kapal angkatan laut dalam perjalanan kembali ke AS. Pemerintah Spanyol, Jerman, Prancis, Italia dan Brasil mengecam rencana Donal Trump. Sementara itu Rusia menggelontor Kuba dengan bantuan BBM untuk Kuba.
Pemerintah Kuba sebaliknya mengecam kebijakan baru Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk memperketat blokade terhadap pulau itu, menyebutnya sebagai kemunduran dalam hubungan AS-Kuba, namun mengatakan tetap bersedia melanjutkan “dialog penuh hormat”. Dalam sebuah pernyataan dibacakan di berita malam, pemerintah komunis itu mengatakan bahwa Trump beralih ke “metode pemaksaan masa lalu” yang melukai rakyat Kuba dan menghambat pembangunan ekonomi namun itu tidak akan melemahkan revolusi.
Gonjang-ganjing dunia boleh jadi akan tetap berlangsung sepanjang kepemimpinan Donald Trump. Belum lagi masalah perang dagang AS dan China, kemudian konflik Rusia melawan Ukraina yang tak kunjung padam. Bagaimana posisi Indonesia? Presiden Prabawo Subianto seperti kita ketahui kerapkali melakukan kunjungan ke berbagai negara, termasuk telah menandatangani Board of Piece (BOP) berkaitan dengan invasi Zionis Israel ke Palestina. Presiden Prabowo Subianto meyakini keterlibatan di dalam BOP sebagai bagian strategis politik internasional dalam penyelesaian masalah kemerdakaan Palestina.
Berbagai langkah strategis dilakukan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Hubungan diplomatik diperkuat dengan negara-negara di Kawasan Asia dan Eropa. Kerjasama ekonomi dan energi terus ditingkatkan. Hal itu berulangkali dikemukakan dengan melihat realitas geopolitik dan geoekonomi yang dapat berubah dengan sangat cepat, akibat setiap negara memiliki kepentingan masing-masing. Pada sisi lain, kondisi Indonesia pun masih rentan “mengalami guncangan” finansial, ekonomi dan kebutuhan energi, jika terjadi konflik di kawasan apalagi jika Perang Dunia III sampai meletus.
Secara geografis, Indonesia memang memiliki posisi strategis bagi banyak negara dunia. Tidak hanya kekayaaan Sumber Daya Alam (SDA) dan besarnya jumlah penduduk sebesar 285 juta lebih, tapi sebagai negara kepulauan, Indonesia dipandang memiliki wilayah strategis untuk kepentingan operasional militer. Sejauh ini Indonesia dapat mempertahankan diri tidak mengikuti pakta pertahanan apa pun, walaupun kerjasama militer tetap dilakukan dalam memperkuat pertahanan dan keamanan untuk menjaga kedaulatan negara. Kita tentu saja berharap, perdamaian dunia dapat tercapai walaupun Presiden AS Donald Trump kerapkali mengambil langkah gegabah dalam upaya mempertahankan hegemoninya untuk membangun citra diri sebagai pemimpin yang berhasil menempatkan AS sebagai negara adidaya. Itulah mimpi Donald Trump, tanpa bercermin bahwa dunia pada saat ini telah berubah. Oleh sebab itu, sekali lagi “janganlah kita tertipu” dengan serta-merta mendukung kebijakan gegabah Donald Trump. (BAKARUDIN AK)
Catatan Penulis :

Penulis dan Pengamat sosial, biografi, ekonomi desa, dan opini terkait isu energi
============





