Channel8.co.id, Cilacap – Nama Pulau Nusakambangan selama puluhan tahun identik dengan penjara berkeamanan tinggi, tempat para narapidana kasus berat menjalani masa hukuman. Julukan “Alcatraz-nya Indonesia” melekat kuat pada pulau yang berada di selatan Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, tersebut.
Namun, pemandangan berbeda terlihat saat Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto atau Titiek Soeharto, melakukan kunjungan kerja ke Nusakambangan, Sabtu (20/6/2026). Di balik tembok-tembok lembaga pemasyarakatan, kini tumbuh lahan pertanian, peternakan, hingga tambak udang yang produktif.
Didampingi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto, Titiek menyaksikan secara langsung transformasi kawasan pemasyarakatan yang kini berkembang menjadi sentra ketahanan pangan dan pusat pembinaan kemandirian warga binaan.
“Hari ini kami melihat langsung bagaimana lahan yang sebelumnya tidak produktif dapat disulap menjadi lahan yang produktif. Ada padi, anggur, peternakan ayam, budidaya udang hingga sidat. Ini merupakan langkah luar biasa yang patut diapresiasi dan dapat menjadi contoh bagi daerah maupun instansi lain,” ujar Titiek.
Menurutnya, keberhasilan tersebut membuktikan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk mendukung swasembada pangan apabila dikelola secara serius, inovatif, dan melibatkan berbagai pihak.
Berdialog dengan Warga Binaan
Salah satu lokasi yang dikunjungi adalah tambak udang vaname di kawasan Bantar Panjang, Nusakambangan. Di sana, Titiek menyempatkan diri berdialog dengan sejumlah warga binaan yang terlibat dalam budidaya perikanan.
“Yang mengerjakan ini warga binaan ya? Biasanya kalau di dalam ngapain saja?” tanya Titiek kepada salah seorang narapidana.
“Nggak ngapa-ngapain,” jawab warga binaan tersebut.
Titiek kemudian bertanya mengenai perasaan mereka setelah mengikuti program produktif tersebut.
“Sekarang ada kayak gini, ada kesibukan, senang nggak?”
“Senang, Bu,” jawabnya singkat.
Percakapan berlanjut mengenai insentif yang diterima para warga binaan. Salah seorang narapidana mengaku memperoleh premi sebesar Rp25 ribu per hari atau sekitar Rp750 ribu per bulan.
“Alhamdulillah, di samping sibuk nanti dapat preminya juga. Lumayan,” kata Titiek.
Tambak Udang Produktif di Balik Jeruji
Tambak udang vaname menjadi salah satu proyek unggulan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) di Nusakambangan.
Di kawasan Bantar Panjang, lahan seluas 20 hektare dimanfaatkan untuk 20 kolam aktif dengan kapasitas sekitar 11 juta benur. Sementara di kawasan Pasir Putih, terdapat 14 kolam tambak lain yang juga dikembangkan di atas lahan seluas 20 hektare.

Data Kemenimipas menunjukkan, sejak awal 2025 hingga pertengahan 2026, Nusakambangan telah menghasilkan sekitar 165 ton udang vaname pada siklus panen pertamanya.
Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto mengatakan, keterlibatan warga binaan dalam kegiatan produktif tersebut bukan hanya bertujuan menghasilkan komoditas pangan, tetapi juga membekali mereka dengan keterampilan yang dapat dimanfaatkan setelah bebas nanti.
“Nanti kalau hasil produksinya lebih bagus, tentu akan ada bonus,” ujar Agus.
Dari Lahan Tidur Menjadi Lahan Produktif
Transformasi Nusakambangan bermula dari evaluasi terhadap banyaknya aset negara berupa lahan yang belum dimanfaatkan secara optimal atau idle.
Pemerintah kemudian mengubah pendekatan pemasyarakatan dari semata-mata berbasis keamanan menjadi pembinaan yang produktif dan berorientasi pada kemandirian.
Saat ini sekitar 135 hektare lahan produktif di Nusakambangan telah dioptimalkan untuk berbagai kegiatan ekonomi dan ketahanan pangan.
Program yang dikembangkan antara lain:
- Budidaya udang vaname;
- Budidaya ikan nila, lele, dan bawal;
- Budidaya ikan sidat;
- Peternakan sapi, kambing, dan unggas;
- Pertanian hortikultura dan tanaman pangan;
- Produksi pupuk organik;
- Pengolahan sampah;
- Balai latihan kerja (BLK) konveksi;
- Produksi tepung mocaf;
- Budidaya anggrek;
- Workshop pembuatan batako dan paving block berbahan Fly Ash Bottom Ash (FABA).
Ratusan warga binaan dilibatkan dalam berbagai program tersebut sebagai bagian dari pembinaan dan persiapan reintegrasi sosial.
Mendukung Program Ketahanan Pangan Nasional
Pengembangan sektor pangan di lembaga pemasyarakatan sejalan dengan agenda pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.
Data pemerintah menunjukkan bahwa kebutuhan pangan dan protein masyarakat Indonesia terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan peningkatan kesejahteraan. Sementara itu, sektor perikanan budidaya, khususnya udang vaname, menjadi salah satu komoditas unggulan ekspor nasional.
Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), komoditas udang selama beberapa tahun terakhir menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar sektor perikanan Indonesia, dengan nilai ekspor mencapai miliaran dolar Amerika Serikat setiap tahun.
Di sisi lain, Badan Pangan Nasional (Bapanas) juga terus mendorong pemanfaatan lahan-lahan produktif untuk memperkuat ketersediaan pangan nasional. Karena itu, program ketahanan pangan di Nusakambangan dipandang tidak hanya mendukung pembinaan warga binaan, tetapi juga berpotensi memberikan kontribusi terhadap produksi pangan nasional dan perekonomian daerah.
Nusakambangan yang Berubah Wajah
Titiek Soeharto mengaku terkejut melihat perubahan besar yang terjadi di pulau yang selama ini identik dengan penjara berkeamanan tinggi.
“Selama ini Nusakambangan yang kita dengar selalu seram, bayangannya Alcatraz. Ternyata setelah ke sini, sangat ramah dan bisa menghasilkan begitu banyak produk yang bermanfaat untuk kita semuanya,” ujarnya.
Atas nama Komisi IV DPR RI, ia memberikan apresiasi kepada Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan atas keberhasilan mengubah kawasan pemasyarakatan menjadi sentra produksi pangan dan pembinaan kemandirian.
“Mudah-mudahan usaha ini bisa ditiru dan diduplikasi di tempat-tempat lain,” katanya.
Bagi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, transformasi Nusakambangan bukan sekadar soal produksi pangan. Program ini merupakan upaya membangun harapan baru bagi warga binaan agar memiliki keterampilan, pengalaman kerja, dan bekal ekonomi ketika kembali ke masyarakat.
Perlahan namun pasti, Nusakambangan mengubah wajahnya: dari simbol keterasingan dan hukuman menjadi laboratorium pembinaan dan kemandirian, tempat di mana masa depan masih dapat ditanam, dipelihara, dan dipanen kembali.





