Channel8.co.id – Ada banyak cara mengenang seorang pemimpin. Sebagian orang mengingat pidatonya, sebagian lagi mengingat kebijakan-kebijakannya. Namun menjelang ulang tahunnya yang ke-50 pada 8 Juni 1971, sejumlah catatan media justru merekam hal-hal sederhana yang memperlihatkan sisi manusiawi Soeharto: kebiasaannya bangun sebelum fajar, ketelitiannya dalam berpakaian, keengganannya berlama-lama dalam pesta, dan kecintaannya pada ketepatan waktu.
Baca Juga : 105 Tahun Soeharto: Ketika Indonesia Mengenang Seorang Pemimpin yang Mengabdikan Hidupnya untuk Negeri
Saat itu Pak Harto telah berada di puncak kekuasaan sebagai Presiden Republik Indonesia. Namun kehidupan sehari-harinya jauh dari gambaran seorang penguasa yang larut dalam kemewahan. Ketika sebagian besar warga Jakarta masih terlelap, lampu di kediamannya di Jalan Cendana sudah menyala.
Pukul lima pagi ia telah bangun. Hari dimulai dengan salat Subuh bersama putra-putranya, Sigit dan Bambang. Setelah itu tidak ada waktu yang terbuang percuma. Tumpukan koran dibaca satu per satu. Surat-surat diperiksa. Dokumen diberi paraf. Berbagai laporan ditelaah ketika matahari bahkan belum sepenuhnya muncul di ufuk timur.
Di ruang kerja yang tenang itulah terlihat watak yang kelak melekat kuat pada dirinya: bekerja tanpa banyak suara, tetapi hampir tidak pernah berhenti.
Bagi orang-orang yang mengenalnya dari dekat, disiplin Soeharto tidak hanya tampak dalam urusan negara. Ia juga hadir dalam hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian. Cara berpakaian, misalnya.
Setiap lipatan baju harus rapi. Setiap setrika harus sempurna. Tidak boleh ada kerutan yang mengganggu penampilan. Bahkan setelah mengenakan pakaian resmi, ia sering memilih tetap berdiri menjelang keberangkatan agar setelan yang dikenakannya tidak kusut.
Ketelitian itu hampir menyerupai sebuah ritual.
Namun yang menarik, kerapian tersebut berjalan beriringan dengan sikap hidup yang sederhana. Jas yang baru dipakai sekali tidak serta-merta dikirim ke laundry. Pakaian digantung, disetrika kembali, lalu digunakan lagi pada kesempatan berikutnya. Tidak ada kebiasaan menghamburkan sesuatu hanya karena mampu membeli yang baru.
Ada pula kisah ringan yang memperlihatkan suasana hangat di dalam keluarga. Jam tangan yang dikenakannya ternyata tidak selalu menjadi miliknya sendiri. Sesekali ia harus “berbagi” dengan dua putranya yang sedang beranjak remaja. Sebuah cerita kecil yang membuat sosok Presiden tampak lebih dekat dengan keseharian banyak ayah Indonesia.
Meski menjabat sebagai orang nomor satu di negeri ini, Pak Harto juga bukan pribadi yang menyukai keramaian berlebihan. Ia tidak menikmati pesta yang berlangsung terlalu lama. Dalam berbagai kunjungan daerah, ia kerap terlihat kurang betah ketika harus menghadiri hiburan yang berkepanjangan.
Gemerlap pesta tidak pernah menjadi daya tarik utama baginya.
Bahkan ketika menyaksikan pertunjukan seni yang berlangsung berjam-jam, rasa kantuk sering kali datang lebih dulu. Wayang kulit dan sesekali menonton film menjadi hiburan yang lebih sesuai dengan seleranya dibanding kemeriahan yang berlebihan.
Dalam urusan makanan, kesederhanaan itu kembali terlihat. Ia bukan orang yang gemar memilih-milih hidangan. Masakan Jawa yang pedas menjadi favoritnya. Nasi selalu hadir di meja sarapan. Durian termasuk buah yang paling disukainya. Dan satu hal yang konsisten dijaganya adalah menjauhi minuman keras.
Semua kebiasaan itu mungkin terdengar sederhana. Namun justru dari kesederhanaan itulah terpancar sebuah pandangan hidup yang kuat: bahwa kepemimpinan tidak hanya dibentuk oleh keputusan-keputusan besar, tetapi juga oleh kebiasaan-kebiasaan kecil yang dijaga setiap hari.
Buka Link : https://www.facebook.com/share/r/181JxwFqzb/
Menjelang usia setengah abad pada tahun 1971, Pak Harto bukan hanya seorang Presiden yang memimpin negara besar. Ia juga seorang ayah, seorang suami, dan seorang pribadi yang percaya bahwa menghargai waktu adalah bentuk penghormatan terhadap hidup itu sendiri.
Barangkali karena itulah banyak orang yang pernah bekerja bersamanya mengenang satu hal yang sama: jika ada janji pukul delapan, maka ia akan siap sebelum jarum jam menunjuk angka tersebut. Jika ada pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini, maka tidak ada alasan untuk menundanya sampai esok.
Di tengah hiruk-pikuk politik dan kekuasaan, kebiasaan-kebiasaan sederhana itu membentuk citra seorang pemimpin yang hidup dalam disiplin, berjalan dalam keteraturan, dan meyakini bahwa keberhasilan besar sering kali lahir dari hal-hal kecil yang dilakukan secara konsisten sepanjang hidup. (Koni)





