Channel8.co.id, Tanggal 21 Mei 1998 menjadi salah satu titik paling bersejarah dalam perjalanan bangsa Indonesia. Hari itu, Presiden kedua Republik Indonesia, Soeharto resmi menyatakan berhenti dari jabatannya setelah memimpin Indonesia selama lebih dari tiga dekade.
Bagi sebagian masyarakat, peristiwa itu dikenang sebagai kemenangan Reformasi. Namun bagi sebagian lainnya, 21 Mei juga menyisakan rasa kehilangan terhadap sosok pemimpin yang dianggap berhasil membawa Indonesia keluar dari masa sulit dan membangun fondasi pembangunan nasional secara besar-besaran.
Tidak bisa dipungkiri, di masa kepemimpinan Soeharto, Indonesia mengalami perubahan besar di bidang pembangunan fisik dan ekonomi. Pada awal pemerintahannya akhir 1960-an, kondisi Indonesia masih menghadapi inflasi sangat tinggi, instabilitas politik, serta lemahnya infrastruktur nasional pasca pergolakan politik 1965. Pemerintahan Orde Baru kemudian memulai agenda stabilisasi ekonomi dan pembangunan jangka panjang yang dikenal melalui Pelita (Pembangunan Lima Tahun).
Dalam kurun waktu itu, jalan raya, waduk, bendungan, sekolah, puskesmas, hingga jaringan irigasi dibangun di berbagai daerah. Program swasembada beras bahkan pernah membawa Indonesia mendapat penghargaan dari Food and Agriculture Organization pada tahun 1985 karena dinilai berhasil meningkatkan produksi pangan nasional.
Banyak kalangan generasi tua masih mengingat masa ketika harga kebutuhan pokok relatif stabil, keamanan nasional terkendali, dan pembangunan terasa nyata hingga pelosok desa. Program Inpres Desa Tertinggal, pembangunan SD Inpres, serta penguatan sektor pertanian menjadi bagian yang hingga kini masih dikenang masyarakat.
Di bidang ekonomi, Indonesia pada era 1970-an hingga awal 1990-an sempat disebut sebagai salah satu negara berkembang dengan pertumbuhan ekonomi cukup kuat di Asia Tenggara. Bank Dunia pernah mencatat penurunan angka kemiskinan yang signifikan selama periode pembangunan Orde Baru. Kelas menengah mulai tumbuh, industrialisasi berkembang, dan investasi asing mulai masuk lebih besar ke Indonesia.
Karena itu, ketika Soeharto berhenti pada 21 Mei 1998 di tengah krisis moneter dan tekanan politik yang sangat besar, tidak sedikit rakyat yang sebenarnya merasa sedih dan khawatir terhadap masa depan bangsa. Mereka melihat Soeharto bukan sekadar presiden, tetapi simbol stabilitas nasional yang selama puluhan tahun memegang kendali negara.
Pidato berhentinya Soeharto sendiri berlangsung singkat dan tenang. Tidak ada pengerahan kekuatan bersenjata secara terbuka untuk mempertahankan kekuasaan. Ia memilih menyerahkan jabatan kepada Wakil Presiden B. J. Habibie sesuai konstitusi. Sikap itu oleh sebagian pengamat dinilai sebagai langkah untuk mencegah konflik nasional yang lebih besar di tengah situasi Indonesia yang saat itu sangat genting.
Meski demikian, sejarah tentu tidak hanya berisi keberhasilan. Kritik terhadap pemerintahan Orde Baru juga menjadi bagian penting yang tidak bisa diabaikan, mulai dari pembatasan kebebasan politik, sentralisasi kekuasaan, hingga berbagai persoalan HAM dan praktik korupsi yang berkembang di sekitar kekuasaan. Namun dalam konteks sejarah, banyak masyarakat menilai sosok Soeharto tetap layak dikenang sebagai pemimpin yang memiliki jasa besar dalam membangun fondasi modern Indonesia.
Kini, puluhan tahun setelah Reformasi, penilaian terhadap Pak Harto semakin beragam dan lebih terbuka. Ada generasi yang melihatnya sebagai simbol pembangunan dan stabilitas, ada pula yang menilai kejatuhannya sebagai konsekuensi dari tuntutan demokrasi. Tetapi satu hal yang sulit dibantah: nama Soeharto tetap menjadi bagian besar dari sejarah Indonesia modern.
Dan setiap tanggal 21 Mei, sebagian rakyat Indonesia masih mengenang hari itu bukan hanya sebagai akhir sebuah kekuasaan, tetapi juga sebagai berakhirnya satu era yang bagi mereka penuh kenangan tentang pembangunan, ketertiban, dan kepastian hidup. (Koni Bardianto)
Catatan Penulis :

Koni Bardianto. S.IP.
Senior Multimedia Journalist | Former News Anchor | Former Broadcast Journalist & TV Reporter | Content Creator Berbasis Jurnalisme
============





