BeritaOpini

Indonesia dan Modal Sejarah yang Tercampakkan

×

Indonesia dan Modal Sejarah yang Tercampakkan

Sebarkan artikel ini

Oleh: Yudi Latif

Channel8.co.id – Ada bangsa yang miskin sumber daya, tetapi kaya ingatan. Ada pula bangsa yang kaya sejarah, tetapi hidup seolah tak pernah belajar dari sejarahnya sendiri. Indonesia, sayangnya, terlalu sering menunjukkan gejala yang kedua.

Sebuah bangsa tidak hanya berdiri di atas kekuatan ekonomi, teknologi, atau militer. Ada kekuatan lain yang kerap luput diperhitungkan: reputasi, kepercayaan, dan warisan sejarah. Dalam hubungan antarbangsa, itulah historical capital—modal sejarah yang memberi daya pengaruh jauh melampaui kekuatan material.

Indonesia sesungguhnya memiliki modal sejarah yang sangat besar. Negeri ini pernah menjadi pelopor dekolonisasi, tuan rumah Konferensi Asia-Afrika, penggagas Gerakan Non-Blok, serta pengukuh kedaulatan maritim melalui Deklarasi Djuanda. Warisan itu membangun reputasi Indonesia sebagai suara penting Dunia Selatan.

Namun sejarah tidak bekerja secara otomatis. Ia hanya menjadi kekuatan jika dirawat, diterjemahkan ke dalam diplomasi yang cerdas, dan diwujudkan dalam tindakan pada saat yang tepat. Sayangnya, Indonesia sering gagal mengubah kekayaan sejarah itu menjadi daya pengaruh.

Pelajaran dari Afrika Selatan

Ketika Nelson Mandela wafat, para pemimpin dunia hadir memberikan penghormatan. Indonesia, yang memiliki ikatan historis kuat dengan perjuangan anti-apartheid, hanya mengutus pejabat setingkat menteri.

Persoalannya bukan sekadar siapa yang hadir, melainkan pesan diplomatik yang disampaikan. Dalam diplomasi, simbol memiliki arti. Kehadiran kepala negara mencerminkan penghargaan terhadap hubungan sejarah.

Hubungan Indonesia dan Afrika Selatan dibangun oleh solidaritas panjang melawan kolonialisme. Jejak itu bahkan telah dimulai sejak abad ke-17 melalui Syekh Yusuf al-Makassari yang diasingkan ke Afrika Selatan dan dikenang sebagai simbol perlawanan terhadap penindasan.

Ikatan tersebut diperkuat oleh semangat Konferensi Asia-Afrika 1955. Indonesia secara konsisten menentang apartheid sebagai bagian dari identitasnya sebagai bangsa yang lahir dari pengalaman kolonialisme. Karena itu, penghormatan kepada Mandela semestinya juga merupakan penghormatan terhadap sejarah solidaritas yang pernah dibangun Indonesia.

Pelajaran dari Iran

Gejala serupa muncul ketika dunia memberikan penghormatan menjelang prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran. Indonesia semula hanya berencana mengirim duta besar, sebelum akhirnya mengutus pejabat setingkat menteri.

Padahal Indonesia dan Iran memiliki hubungan historis yang panjang. Keduanya bertemu dalam Konferensi Asia-Afrika, bersama-sama berada dalam Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), serta memiliki kedekatan dalam semangat Gerakan Non-Blok.

Hubungan itu bukan sekadar hubungan bilateral, melainkan bagian dari sejarah bangsa-bangsa yang memperjuangkan kedaulatan dan keadilan internasional.

Sebagai negara berpenduduk Muslim Sunni terbesar di dunia, Indonesia memiliki peluang menjadi jembatan dialog dengan Iran sebagai pusat penting dunia Syiah. Hubungan yang baik di antara keduanya dapat memperkuat harmoni dunia Islam sekaligus meningkatkan peran Indonesia dalam diplomasi global.

Ketika Modal Sejarah Menjadi Penentu

Indonesia pernah membuktikan nilai modal sejarah tersebut.

Saat hasil Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) Papua dibahas di Majelis Umum PBB pada 1969, Indonesia menghadapi tekanan diplomatik yang berat. Namun dukungan dari negara-negara Asia-Afrika, termasuk Aljazair, lahir karena mereka mengingat rekam jejak Indonesia dalam perjuangan antikolonialisme.

Hasilnya, 84 negara mendukung pencatatan hasil Pepera, 30 abstain, dan tidak ada satu pun yang menolak.

Kemenangan itu bukan hanya hasil argumentasi hukum, tetapi juga buah dari kepercayaan yang dibangun melalui sejarah.

Itulah historical capital.

Jangan Menyia-nyiakan Modal Sejarah

Bangsa besar bukan hanya bangsa yang memiliki sejarah panjang, melainkan bangsa yang mampu mengubah sejarahnya menjadi kekuatan.

Indonesia tidak kekurangan modal sejarah. Yang sering kurang adalah kesadaran untuk merawatnya.

Reputasi sebagai pelopor solidaritas Asia-Afrika dan suara moral Dunia Selatan tidak diwariskan begitu saja. Ia harus terus dipelihara melalui tindakan nyata, termasuk dalam setiap momentum diplomasi.

Diplomasi bukan hanya soal perdagangan atau pertemuan resmi. Diplomasi juga tentang ingatan—tentang menghargai mereka yang pernah berjalan bersama kita dalam perjuangan sejarah.

Bangsa-bangsa besar menjaga simbol dan sejarahnya karena memahami bahwa keduanya merupakan sumber pengaruh. Indonesia memiliki warisan yang tidak dimiliki banyak negara: pengalaman melawan kolonialisme, kepemimpinan dalam solidaritas Asia-Afrika, dan reputasi sebagai salah satu suara penting Dunia Selatan.

Jangan sampai modal sebesar itu hilang bukan karena direbut bangsa lain, melainkan karena kita sendiri lupa akan nilainya.

Sejarah tidak hanya untuk dikenang. Sejarah adalah kekuatan. Dan bangsa yang gagal merawat modal sejarahnya, perlahan akan kehilangan pengaruh dalam membangun masa depannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *