Channel8.co.id, Jakarta – Sejarah mengenal beliau sebagai Ibu Negara Republik Indonesia selama hampir 29 tahun. Namanya melekat pada berbagai karya besar, mulai dari Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita, hingga berbagai kegiatan sosial dan pelestarian budaya. Namun, bagi mereka yang pernah berada di dekatnya, warisan terbesar Siti Hartinah atau Ibu Tien Soeharto bukanlah bangunan megah ataupun jabatan yang pernah disandang.
Warisan itu adalah keteladanan dalam memperlakukan sesama manusia.
Itulah kenangan yang masih disimpan erat oleh Ibu Mien R. Uno. Menjelang Haul Ibu Tien Soeharto setiap 23 Agustus, ingatannya kembali pada sosok perempuan yang menurutnya tidak pernah memperlihatkan jarak antara seorang Ibu Negara dengan rakyat biasa.
“Walaupun beliau adalah istri Kepala Negara, sedikit pun saya tidak pernah melihat kesombongan dalam diri beliau. Tidak pernah berbicara dengan nada keras. Beliau sangat sederhana,” kenangnya.

Tidak Pernah Ada Sekat
Setiap kali datang menemui Ibu Tien, Ibu Min Uno mengaku selalu diterima dengan hangat.
Mereka berbincang berdua seperti seorang ibu dengan anaknya. Tidak ada suasana resmi, tidak ada rasa sungkan.
“Beliau selalu memberi kesempatan saya berbicara. Mendengarkan sampai selesai. Saya merasa diterima dengan sepenuh hati.”
Satu kebiasaan sederhana justru paling membekas.
Ibu Tien selalu memanggilnya dengan sebutan “Jeng Mien.”
Padahal, menurutnya, Ibu Tien bisa saja memanggil dengan nama yang lebih singkat.
“Tetapi beliau selalu mengatakan ‘Jeng Mien’. Itu penghormatan yang tidak pernah saya lupakan.”
Sebuah Mangkuk Kuah Sop di Arafah
Kenangan paling mengharukan terjadi pada Juni 1991.
Saat itu Presiden Soeharto bersama Ibu Tien menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci. Perjalanan tersebut menjadi salah satu momentum penting dalam kehidupan keduanya. Sepulang dari ibadah tersebut, keduanya menggunakan gelar nama yang diberi oleh Raja Fahd bin Abdulaziz Al Saud, yakni Soeharto menjadi Haji Mohammad (H.M.) Soeharto dan Siti Hartinah (Ibu Tien Soeharto) menjadi Hajah Siti Fatimah Hartinah Soeharto. Hal ini sebagai bentuk penghormatan dari Kerajaan Arab Saudi kepada kepala negara dari negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia.
Pada ibadah haji itulah Ibu Mien R.Uno mendapat tugas melayani konsumsi Presiden Soeharto beserta keluarga di Arafah. Suatu ketika ia merasa tidak enak hati. Sop yang disiapkan tinggal kuahnya. Dengan penuh rasa bersalah ia berkata,
“Ibu, nyuwun sewu… sopnya tinggal kuah, sayurnya sudah habis.” Jawaban Ibu Tien justru membuatnya terdiam.
“Wis ben… kuah saja dicampur nasi juga enak.”
Bagi Ibu Mien Uno, kalimat sederhana itu jauh lebih bermakna daripada pidato panjang tentang kesederhanaan.
“Itulah beliau. Tidak pernah meminta yang istimewa.”
Bahkan berkali-kali Ibu Tien justru berkata, “Jeng, jangan repot-repot ya. Biar nanti saya ambil sendiri.”

Ketika Ibu Negara Meminta Maaf
Ada satu kenangan lain yang tak pernah hilang. Jika Ibu Min Uno harus menunggu karena Ibu Tien masih menerima tamu lain, justru Ibu Tien yang lebih dahulu meminta maaf. “Jeng, nyuwun sewu ya… lama menunggunya.”
Spontan ia menjawab, “Ibu, jangankan lama, seribu jam pun saya rela menunggu.”
Kalimat itu lahir tanpa dibuat-buat. Baginya, sungguh sulit membayangkan seorang Ibu Negara meminta maaf kepada orang yang sedang menunggunya. “Saya justru merasa malu. Kok beliau yang meminta maaf.”
Mencintai Pendidikan, Mencintai Tanaman
Kedekatan keduanya juga terbangun karena Ibu Tien mengetahui bahwa Ibu Min Uno adalah seorang guru yang memiliki sekolah.
“Beliau senang sekali kalau berbicara tentang pendidikan.”
Di sisi lain, kecintaan Ibu Tien terhadap tanaman memang telah lama dikenal.
Kakak Ibu Min Uno, almarhum Zain Rahman, lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB), beberapa kali diminta membantu pekerjaan yang berkaitan dengan taman dan penghijauan.
Ketertarikan itu kemudian diwujudkan dalam berbagai karya yang hingga kini masih dinikmati masyarakat.
Melalui Yayasan Harapan Kita, Ibu Tien menggagas pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Gagasan tersebut pertama kali disampaikan pada awal 1970-an dan TMII diresmikan pada 20 April 1975. Arsip Nasional Republik Indonesia mencatat Ibu Tien sebagai Ketua Yayasan Harapan Kita sekaligus pencetus gagasan pembangunan TMII, sebuah kawasan yang dirancang sebagai miniatur keberagaman budaya Indonesia.
Selain TMII, berbagai lembaga sosial seperti Rumah Sakit Ibu dan Anak Harapan Kita, juga lahir dari kepedulian yang sama terhadap pelayanan masyarakat.
Warisan yang Sesungguhnya
Siti Hartinah lahir di Jaten, Karanganyar, Jawa Tengah, pada 23 Agustus 1923. Sejak Presiden Soeharto dilantik sebagai Presiden RI pada 1967, beliau mendampingi tugas kenegaraan hingga wafat pada 28 April 1996.
Namun, bagi Ibu Min Uno, sejarah tidak hanya ditulis oleh jabatan ataupun bangunan yang masih berdiri hingga sekarang.
“Ibu Tien tidak pernah membedakan siapa pun. Tidak pernah membuat orang merasa kecil. Semua diperlakukan dengan hormat.”
Mungkin itulah sebabnya, hampir tiga dekade setelah kepergiannya, banyak orang masih mengenang Ibu Tien Soeharto bukan semata sebagai Ibu Negara, melainkan sebagai seorang perempuan yang mengajarkan bahwa kekuasaan tidak harus menciptakan jarak, dan kehormatan sejati justru lahir dari kerendahan hati.
Karena pada akhirnya, bukan kemegahan istana yang paling lama tinggal dalam ingatan manusia, melainkan ketulusan seseorang ketika memperlakukan sesamanya. (Koni Bardianto)






