BeritaHistoria

Siti Hartinah : Perempuan yang Menjaga Indonesia dengan Kelembutan (Tulisan Pertama)

×

Siti Hartinah : Perempuan yang Menjaga Indonesia dengan Kelembutan (Tulisan Pertama)

Sebarkan artikel ini

Mengabdi dalam Sunyi, Mewariskan Keteladanan

Memperingati 103 Tahun Kelahiran Ibu Tien Soeharto (23 Agustus 1923–23 Agustus 2026)

Oleh: Koni Bardianto

“Kalau ingin melihat kuatnya seorang pemimpin, lihatlah siapa perempuan yang setia berjalan di belakangnya.”

Kalimat itu terasa begitu tepat ketika nama Siti Hartinah Soeharto, yang akrab dipanggil Ibu Tien Soeharto, disebut. Bagi jutaan rakyat Indonesia, beliau adalah Ibu Negara Republik Indonesia. Namun bagi orang-orang yang pernah mengenalnya dari dekat, Ibu Tien lebih dahulu dikenal sebagai seorang ibu rumah tangga yang sederhana, seorang istri yang penuh kesabaran, dan perempuan Jawa yang percaya bahwa pengabdian tidak selalu harus ditunjukkan dengan kata-kata.

Ia tidak gemar berpidato. Tidak pula mengejar sorotan kamera.Tetapi jejak langkahnya masih dapat ditemukan hingga hari ini. Di Taman Mini Indonesia Indah yang menjadi ruang belajar kebudayaan Nusantara. Di berbagai yayasan sosial yang dahulu dirintisnya. Di museum-museum yang menyimpan sejarah bangsa. Di rumah-rumah sederhana yang pernah memperoleh bantuan.

Dan yang paling abadi, di hati banyak orang yang pernah bersentuhan dengan kelembutan sikapnya.

Tanggal 23 Agustus bukan sekadar menandai hari lahir seorang Ibu Negara.

Tanggal itu mengingatkan bangsa Indonesia pada seorang perempuan yang selama hampir lima puluh tahun mendampingi perjalanan seorang prajurit bernama Soeharto—sejak hidup serba kekurangan hingga memimpin negara dengan jumlah penduduk terbesar kelima di dunia.

Lahir dari Keluarga yang Mengajarkan Kesederhanaan

Pada 23 Agustus 1923, di Desa Jaten, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, lahirlah seorang bayi perempuan yang diberi nama Siti Hartinah. Ia merupakan putri kedua dari sepuluh bersaudara pasangan R.M. Soemohardjomo dan R.A. Hatmanti. Ayahnya adalah seorang pamong praja di lingkungan Mangkunegaran sehingga keluarga mereka kerap berpindah mengikuti penugasan pemerintahan.

Kehidupan yang berpindah-pindah membuat Hartinah kecil akrab dengan kesederhanaan. Tidak ada rumah dinas mewah. Dalam beberapa kesempatan, keluarganya bahkan sempat tinggal sementara di rumah kepala desa sebelum memperoleh tempat tinggal tetap. Pengalaman itu membentuk watak yang kelak menjadi ciri khasnya: tidak mudah mengeluh, hemat, disiplin, dan mampu beradaptasi di mana pun berada.

Nilai-nilai Jawa seperti tepa selira (tenggang rasa), andhap asor (rendah hati), dan nrima ing pandum (bersyukur atas keadaan) tumbuh kuat dalam dirinya. Nilai-nilai inilah yang kelak menjadi fondasi ketika ia mendampingi seorang perwira muda Angkatan Darat bernama Soeharto.

Cinta yang Tumbuh di Tengah Perjuangan

Pada 26 Desember 1947, ketika Indonesia masih berada dalam suasana Revolusi Kemerdekaan, Siti Hartinah menikah dengan Letnan Kolonel Soeharto di Solo. Pernikahan itu berlangsung sederhana, jauh dari kemegahan yang kemudian identik dengan kehidupan kepresidenan.

Saat itu, Hartinah tidak menikahi seorang presiden. Ia menikahi seorang prajurit yang hidupnya penuh ketidakpastian. Penugasan militer membuat mereka sering berpisah. Kehidupan ekonomi pun sangat terbatas. Namun justru pada masa-masa itulah keteguhan karakter Ibu Tien ditempa.

Kelak, dalam berbagai biografi dan kesaksian orang-orang dekat keluarga Cendana, Ibu Tien dikenang sebagai sosok yang mampu menjaga kehangatan rumah tangga di tengah beratnya tugas suaminya. Ia menjadi tempat pulang, tempat berbagi kegelisahan, sekaligus penopang moral bagi seorang perwira yang kariernya terus menanjak.

(Bersambung ke Bab II: “Ketika Pintu Istana Terbuka: Menjadi Ibu Negara Tanpa Meninggalkan Kesederhanaan”)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Yudi Latif Channel8.co.id – Ada saat ketika manusia…