BeritaFeature

Wiyosan Palakrama Kaping 60, Keluarga Besar Soehardjo Soebardi dan Noek Bressina Gelar Syukuran Penuh Kehangatan

×

Wiyosan Palakrama Kaping 60, Keluarga Besar Soehardjo Soebardi dan Noek Bressina Gelar Syukuran Penuh Kehangatan

Sebarkan artikel ini

Channel8.co.id, JAKARTA – Keluarga besar Soehardjo Soebardi dan Noek Bressina menggelar syukuran Wiyosan Palakrama Kaping 60, memperingati 60 tahun pernikahan keduanya, di Bale Ayu Pendopo, Jakarta Selatan,  Minggu 9 Agustus 2026.

Acara berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan. Anak, menantu, cucu, kerabat serta para sahabat hadir bersama sejumlah tokoh, pejabat dan mantan pejabat untuk ikut merayakan perjalanan panjang pasangan yang menikah pada 15 Juli 1966 tersebut.

Sejumlah sahabat Soehardjo dari keluarga besar Bea dan Cukai, tempat ia pernah mengabdikan diri dan meniti karier, turut hadir. Dari keluarga besar Cendana tampak hadir Siti Hardiyanti Rukmana (Tutut Soeharto), Sigit Harjojudanto dan Elsye Sigit, serta Mamiek Soeharto.

Hadir pula Ratmani Probosutedjo beserta keluarga besar dan Siti Hardjanti Wismoyo Arismunandar, yang merupakan adik Ibu Tien Soeharto.

Siti Hardiyanti Rukmana berfoto sebelum acara dengan Soehardjo Soebardi dan Noek Bressina di acara Syukuran 60 Tahun Perkawinan di Bale Ayu Pendopo Jakarta Selatan, Minggu 09/08/26 (Dok Istimewa)

Kehadiran keluarga besar Cendana dalam acara tersebut tidak terlepas dari hubungan kekerabatan Noek Bressina yang merupakan bagian dari keluarga besar dan kerabat Cendana.

Sambutan Keluarga: “Pokoknya Harus Menikah”

Prof. Dr. Ir. Arissetyanto Nugroho, M.M., IPU., CMA., CMS., putra Soehardjo dan Noek Bressina, dalam sambutannya mewakili keluarga mengungkapkan rasa syukur atas perjalanan 60 tahun pernikahan kedua orang tuanya.

Menurut Aris, peringatan tersebut bukan sekadar menandai usia pernikahan, tetapi juga menjadi momentum berkumpulnya keluarga dan para sahabat yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan hidup kedua orang tuanya.

Prof. Dr. Ir. Arissetyanto Nugroho, M.M., IPU., CMA., CMS., putra Soehardjo dan Noek Bressina, memberi sambutannya mewakili keluarga di Bale Ayu Pendopo Minggu 9 /8/26 (Dok Istimewa)

Soehardjo Soebardi lahir di Solo pada 20 Mei 1940, sedangkan Noek Bressina lahir di Yogyakarta pada 5 November 1943. Keduanya menikah pada 15 Juli 1966 di Desa Argomulyo, Sedayu, Bantul, Yogyakarta.

Pernikahan tersebut berlangsung ketika kondisi politik dan sosial Indonesia masih berada dalam situasi yang belum sepenuhnya stabil.

Namun, menurut Aris, kondisi tersebut tidak menyurutkan tekad kedua orang tuanya.

“Pokoknya harus menikah,” ujar Aris, menggambarkan keteguhan Soehardjo dan Noek Bressina ketika memutuskan membangun rumah tangga.

Aris juga mengisahkan cerita ringan mengenai perjalanan cinta keduanya sebelum menikah. Ketika komunikasi dengan keluarga dilakukan melalui telepon, pesan yang hendak disampaikan ternyata tidak sampai kepada orang yang dituju yakni Noek Bressina

Namun kejadian tersebut tidak mengubah keputusan Soehardjo. Ia tetap nekad datang ke Cendana.

Cerita sederhana itu, kata Aris, menjadi salah satu kenangan yang hingga kini masih dikenang keluarga.

60 Tahun Menjadi Teladan Keluarga

Menurut Aris, perjalanan 60 tahun pernikahan kedua orang tuanya menjadi teladan bagi anak dan cucu.  Saling menghormati, menghargai, menjaga silaturahmi dan mempererat hubungan keluarga menjadi nilai yang terus dipertahankan.

“Hal tersebut menjadi teladan dan nilai yang sangat berharga bagi kami, anak dan para cucu,” katanya.

Aris juga mengungkapkan sejumlah filosofi Jawa yang menurutnya menjadi pegangan kehidupan Soehardjo dan Noek Bressina, antara lain “aja adigang, adigung, adiguna” dan “rukun agawe santosa, crah agawe bubrah”.

Filosofi “memayu hayuning bawana” juga menjadi bagian dari nilai yang diwariskan kepada keluarga, yakni menjalani kehidupan dengan memberikan manfaat bagi sesama dan menjaga keharmonisan.

Menurut Aris, nilai tersebut tercermin dari sikap kedua orang tuanya yang tetap rendah hati dan tidak pernah membawa-bawa status, derajat atau jabatan ketika berhubungan dengan orang lain.

Keduanya juga memiliki perhatian terhadap masyarakat yang membutuhkan, terutama dalam bidang pendidikan dan kesehatan.

“Tidak segan-segan mengulurkan tangan, berbagi rezeki dan kebahagiaan. Semuanya kami lihat dilakukan tanpa pamrih dan dengan ikhlas,” ujar Aris.

Empat Momentum Keluarga Dirayakan Bersama

Syukuran tersebut tidak hanya memperingati 60 tahun pernikahan Soehardjo dan Noek Bressina.

Keluarga sekaligus merayakan 26 tahun pernikahan adiknya Aris yakni Yani dan Anton ,  kelulusan dan pelantikan Letnan Dua Infanteri Satrio Wicaksono, lulusan Akademi Militer yang dilantik pada 22 Juli lalu, serta ulang tahun Danang Widia Rumantioro.

Keempat momentum tersebut dirangkai dalam satu acara keluarga yang berlangsung dalam suasana penuh rasa syukur.

Potong tumpeng dan saling menyuapi sebagai tanda kasih sepanjang masa disaksikan anak dan mantu keluarga besar Soehardjo dan Noek Bressina,  Bale Ayu Pendopo, Minggu 09/08/26 (Foto : Dok. Istimewa)

Drama Musikal dan Paduan Suara

Selain sambutan keluarga dan ramah tamah, acara juga dimeriahkan dengan pertunjukan seni. Para tamu disuguhi drama musikal Ande-Ande Lumut, dari group Sankara theater yang membawa cerita rakyat Jawa ke tengah acara yang naskah dan ceritanya  di susun  Arisetyanto . Pertunjukan tersebut sekaligus memberikan sentuhan budaya dalam perayaan keluarga yang sarat dengan nilai-nilai Jawa.

Kemeriahan kemudian dilanjutkan dengan penampilan paduan suara siswa-siswi SMP dan SMA Labschool Cirendeu. Penampilan generasi muda itu mendapat sambutan hangat para tamu dan menjadi bagian menarik dalam rangkaian acara.

Di penghujung sambutannya, Aris mewakili anak, menantu dan cucu menyampaikan doa agar Soehardjo dan Noek Bressina senantiasa diberikan kesehatan, keberkahan dan kebahagiaan.

Ia kemudian menutup sambutan dengan pantun:

Ijo godhong, si bunga setaman,
Bunga bermekaran indah menawan.
60 tahun perjalanan pernikahan,
Jalinan cinta penuh keindahan.

Doa dalam bahasa Jawa juga disampaikan:

Tumpeng ropyong kagem dahare kaluwarga,
Rujak degan sumrambah wong sak omah,
Suka lan bungah Kang Kakong Soehardjo lan Nok Bressina,
Mugi tansah pinaringan sakinah, mawaddah warahmah.

Syukuran Wiyosan Palakrama Kaping 60 akhirnya menjadi momentum pertemuan keluarga dan para sahabat dalam satu suasana.

Enam puluh tahun pernikahan menjadi inti perayaan, sementara kehadiran keluarga besar, para sahabat, tokoh, pejabat dan mantan pejabat, serta pertunjukan seni menjadikan acara tersebut berlangsung semakin hangat dan berkesan.

Bagi keluarga besar Soehardjo dan Noek Bressina, perayaan itu bukan hanya mengenang perjalanan 60 tahun pernikahan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk bersyukur, mempererat silaturahmi dan mewariskan nilai-nilai kehidupan kepada generasi berikutnya. (koni)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Oleh : Yudi Latif (Dipersembahkan untuk mensyukuri 60…

Berita

Yudi Latif Channel8.co.id – Ada saat ketika manusia…