Politik

Empat Nyawa Melayang di Bromo, Asap Tiba di Jakarta: DPR Desak Prabowo Bertindak Sekarang

×

Empat Nyawa Melayang di Bromo, Asap Tiba di Jakarta: DPR Desak Prabowo Bertindak Sekarang

Sebarkan artikel ini
Karhutla Bromo menelan empat korban jiwa dan menyebabkan dua orang luka bakar serius setelah tim pemadam terjebak kobaran api di Probolinggo. (Threads/kosongsatuid)

Channel8.co.id, Jakarta  –  Tekanan politik soal kebakaran hutan dan lahan (karhutla) naik ke level baru Jumat ini. Pemicunya dua hal yang terjadi dalam 24 jam terakhir: empat petugas gugur saat memadamkan api di kawasan Bromo, dan asap karhutla terdeteksi sudah sampai ke langit Jakarta.

Wakil Ketua Komisi IV DPR, Alex Indra Lukman meminta pemerintah mengintervensi untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Apalagi kondisi Karhutla di sejumlah wilayah seperti di Kalimantan dan Sumatra sudah cukup parah. dalam keterangan tertulis Jumat (16/10) — mendesak Presiden Prabowo Subianto segera bertindak cepat. Katanya, karhutla “sudah tak lagi merusak kesehatan, tapi juga telah memaksa seorang orang tua kehilangan anaknya. Seorang anak kehilangan ayah.”

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI meminta penanganan Karhutla Prioritaskan Keselamatan Masyarakat (Dok DPR RI)

Alex mencatat, selain empat korban jiwa di Bromo, ada 324 korban luka berat dan 23 luka ringan — mayoritas dari Kalimantan Tengah. Datanya soal dampak kesehatan juga bikin merinding: 277.075 kasus ISPA kumulatif berdasarkan rekapitulasi Kementerian Kesehatan di 63 kabupaten/kota dari 7 provinsi per 12 Oktober — dan 62.400 di antaranya, atau 22,5 persen, menimpa balita usia 0–5 tahun. Angka-angka ini ia sampaikan sebagai bagian dari desakannya, guys — jadi baca sebagai klaim legislator, bukan hasil audit independen.

Yang menarik: Alex bahkan menyinggung opsi bantuan internasional. “Kalau negara ini tak memiliki peralatan, tentu akan banyak bangsa yang bersedia turut membantu seperti yang dilakukan Jepang beberapa waktu lalu,” katanya. Ini nada yang makin keras — dari sebelumnya “minta status bencana nasional”, sekarang “minta presiden turun tangan langsung”.

Lalu soal asap yang sampai Jakarta. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi lewat citra satelit pukul 10.00 WIB Jumat ini: sebaran asap terdeteksi mencapai Banten, Jawa Barat, dan DKI Jakarta. Sekretaris Utama BMKG Guswanto menyebut asap di Jakarta baru terdeteksi hari ini — “kemarin sore juga belum”, katanya.

Nah, di sini bagian yang sering bikin bingung. Kok asap “sampai Jakarta” tapi kualitas udara Jakarta tidak langsung dinyatakan berbahaya? Sederhananya, maksudnya begini: yang terdeteksi satelit itu sebaran asap di lapisan atmosfer — dan menurut BMKG, partikelnya saat ini masih berada di lapisan atmosfer atas, belum turun menyentuh permukaan tanah.

Bandingkan dengan yang dialami warga Jambi hari ini. Data stasiun pemantau ISPU Jambi Paal Lima per 16 Oktober mencatat PM2.5 di angka 410 — melewati ambang kategori “Berbahaya” (di atas 300). Satu laporan media bahkan menyebut Jambi sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia hari ini. Di Berbak, Tanjung Jabung Timur — dekat episentrum api bawah permukaan di Taman Nasional Berbak Sembilang — ISPU tercatat 331.

Kabut Asap menyelimuti Jambi (foto Istimewa)

Dampaknya merembet ke mana-mana.  Kementerian Perhubungan (Kemenhub) terus memantau perkembangan karhutla dan dampaknya terhadap transportasi udara di sejumlah wilayah Indonesia. “Berdasarkan laporan Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah X pada Kamis (15/10/2026), 16 bandara yang terdampak tersebar di empat provinsi, yakni Papua, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan,” kata Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Lukman F. Laisa dalam keterangannya, Jumat (16/10/2026).Secara nasional, data per 13 Oktober 2026 mencatat 2.021 penerbangan berjadwal dalam negeri terdampak karhutla sejak 11 Agustus 2026. Sebanyak 919 penerbangan mengalami keterlambatan atau delay. Sementara itu, 1.067 penerbangan dibatalkan atau ditunda, 18 penerbangan dialihkan ke bandara lain, enam penerbangan kembali ke bandara keberangkatan, dan 11 penerbangan dimajukan jadwalnya.

Di Sumatera Utara, Pemprov menerbitkan surat edaran kewaspadaan dan membagikan masker PM2.5 ke warga. Di Palangka Raya, sekolah masih menerapkan pembelajaran jarak jauh hingga 17 Oktober.

Pemerintah pusat sendiri, lewat Menko Polkam Dudung Abdurachman awal pekan ini, masih berpendirian penanganan “masih mampu” diatasi tanpa status bencana nasional. Tapi dengan empat nyawa melayang dan asap yang kini mengetuk langit ibu kota, pertanyaan publiknya sederhana: sampai kapan jawaban itu bertahan? (Redaksi C8)

Views: 1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *