Channel8.co.id,BANTUL — Sebelum mengunjungi Museum Memorial Jenderal Besar H.M. Soeharto, rombongan Yayasan Harapan Kita lebih dulu mendatangi makam keluarga Soeharto di Kemusuk, Bantul, Yogyakarta.
Ziarah menjadi bagian awal rangkaian kunjungan dalam rangka HUT ke-58 Yayasan Harapan Kita dan HUT ke-40 Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan.
Rombongan mengunjungi kompleks pemakaman Kemusuk, tempat ayah Soeharto dimakamkan. Perjalanan kemudian berlanjut ke kompleks pemakaman Pule Rejo, tempat ibunda Soeharto dimakamkan.

Dari tempat peristirahatan orang tua Soeharto, rombongan kemudian menuju museum yang berada di Dusun Kemusuk Lor, Argomulyo, Sedayu, Bantul—lingkungan yang menjadi bagian penting dari masa kecil Soeharto.
Di sinilah cerita menjadi lebih dekat. Bukan hanya tentang seorang presiden, tetapi tentang seorang anak yang tumbuh dari lingkungan keluarga sederhana, kemudian menjalani perjalanan panjang hingga menjadi Presiden Republik Indonesia kedua.
Museum yang Dekat dengan Generasi Muda
Kepala Museum Memorial Jenderal Besar H.M. Soeharto, Gatot Nugroho, S.Pt. mengatakan museum tidak hanya menjadi tempat menyimpan benda dan dokumentasi sejarah.
Museum juga dikembangkan sebagai ruang belajar tentang wawasan kebangsaan, nasionalisme, dan karakter Pancasila.
Koleksi, diorama, dan berbagai materi edukasi digunakan untuk membuat sejarah lebih mudah dipahami, terutama oleh pelajar.
Antusiasme pelajar pun cukup tinggi. Pada April 2026, museum tercatat menerima sekitar 5.000 pengunjung dalam sebulan, dan sekitar 70 persen di antaranya merupakan pelajar.
Pada saat bersamaan, Rabu petang, 23 September 2026, sekitar 260 siswa SMP Negeri 5 Surakarta juga berkunjung menggunakan sekitar enam bus.
Bantuan untuk Membuat Sejarah Lebih Menarik
Sekretaris Yayasan Harapan Kita, Prof. Dr. Tria Sasangka Putra, S.H., LL.M., CFE., CLA., mengatakan kunjungan ke museum memiliki makna khusus karena tempat tersebut merupakan lokasi kelahiran H.M. Soeharto.

Menurutnya, koleksi museum dapat menjadi media untuk mengenalkan perjalanan sejarah sekaligus nilai pengabdian dan kecintaan terhadap tanah air kepada generasi penerus.
Dalam kunjungan tersebut, Yayasan Harapan Kita menyerahkan bantuan proyektor untuk mendukung kegiatan edukasi dan penyajian diorama museum. Bantuan dana diterima oleh Teguh Wahyudi, mewakili pengelola museum.
Ada Cerita Anak-Anak dari Flores
Ada pula cerita menarik dari anak-anak muda yang sedang belajar di museum. Sejumlah siswa dari Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, sedang menjalani praktik kerja lapangan bidang pariwisata di Yogyakarta. Ada juga siswa dari SMK Negeri 7 Yogyakarta dan sekolah dari Gunungkidul.
Bagi mereka, museum menjadi tempat belajar yang berbeda. Mereka tidak hanya belajar melayani pengunjung, tetapi juga melihat langsung bagaimana sejarah dikemas dan diceritakan kepada masyarakat.
Museum ini rutin menerima siswa dan mahasiswa dari berbagai daerah untuk praktik kerja maupun pembelajaran lapangan.
Sejarah yang Menghidupkan Warga
Kehadiran museum juga memberi dampak bagi masyarakat sekitar. Menurut Gatot, sekitar 30 UMKM beraktivitas di lingkungan museum. Ketika pengunjung datang, warga sekitar ikut merasakan manfaat ekonominya. Karena itu, Museum Memorial Jenderal Besar H.M. Soeharto bukan hanya tentang masa lalu.
Ada keluarga, tempat kelahiran, sejarah perjuangan, anak-anak sekolah, hingga warga sekitar yang ikut tumbuh bersama aktivitas museum.
Dari makam ayah dan ibunya, perjalanan berlanjut ke tempat kelahiran dan museum. Di Kemusuk, sejarah Soeharto tidak hanya dikenang—tetapi terus diceritakan kepada generasi muda. (koni)
Views: 0






