Channel8.co.id – Jakarta. Malam itu terasa berbeda di kediaman keluarga Cendana. Bukan kemewahan yang menonjol, melainkan suasana hangat penuh kebersamaan saat Siti Hardiyanti Rukmana atau Tutut Soeharto menggelar syukuran hari kelahirannya yang ke-77, Jumat malam, 23 Januari 2026. Senyum, doa, dan obrolan ringan mengalir di antara anggota keluarga dan para sahabat yang hadir.
Di tengah suasana kekeluargaan tersebut, Tutut Soeharto dikelilingi orang-orang terdekat. Adik-adiknya—Sigit Hardjojudanto, Siti Hediati Hariyadi (Titiek Soeharto), dan Siti Hutami Endang Adiningsih (Mamiek Soeharto)—tampak akrab berbincang, mengenang perjalanan panjang keluarga besar cendana yang telah dilalui bersama.

Kehangatan semakin terasa dengan hadirnya generasi penerus. Darma Mangkuluhur hadir bersama sang istri Patricia Schuldtz, begitu pula Eno Sigit, putri bungsu Sigit Hardjojudanto. Tawa ringan dan sapaan akrab antar generasi mencerminkan kuatnya ikatan keluarga besar Cendana yang terjalin lintas usia.

Sejumlah tokoh nasional turut hadir memberikan ucapan selamat, di antaranya Yusril Ihza Mahendra, Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan. Kehadirannya berlangsung santai, tanpa sekat formal, menambah kesan bahwa malam itu adalah pertemuan penuh keakraban, bukan sekadar acara seremonial.
Di usia 77 tahun, Tutut Soeharto dikenang bukan hanya sebagai putri sulung Presiden RI ke-2 HM Soeharto, tetapi juga sebagai sosok perempuan dengan perjalanan hidup panjang di bidang sosial dan kemanusiaan. Ia pernah mengemban amanah sebagai Menteri Sosial RI pada 1998 dan memimpin Palang Merah Indonesia (PMI) periode 1994–1999, masa ketika berbagai bencana alam dan misi kemanusiaan menjadi bagian penting dari kerja PMI.
Bagi banyak orang yang mengenalnya dekat, kiprah Tutut di bidang sosial tidak hanya tercermin dari jabatan, tetapi juga dari perhatian pada isu-isu kemanusiaan. Melalui berbagai yayasan dan kegiatan sosial, ia kerap terlibat dalam program bantuan kesehatan, pendidikan, hingga layanan operasi katarak gratis bagi masyarakat kurang mampu.
Tutut lahir di Yogyakarta, 23 Januari 1949, sebagai anak pertama dari pasangan Soeharto dan Siti Hartinah (Ibu Tien Soeharto). Sebagai anak sulung, ia tumbuh dengan peran yang tak ringan—menjadi pendamping, penopang keluarga, sekaligus teladan bagi adik-adiknya. Nilai kedisiplinan, kepedulian sosial, dan kebersamaan yang ditanamkan sejak kecil tampak terus mewarnai perjalanan hidupnya hingga kini.
Syukuran malam itu pun menjadi lebih dari sekadar perayaan ulang tahun. Ia menjadi ruang sederhana untuk bersyukur, berbagi cerita, dan mempererat silaturahmi—sebuah potret kebersamaan keluarga besar Cendana yang hangat, bersahaja, dan penuh makna. (KnB)





