BeritaHistoria

Siti Hartinah : Mengabdi untuk Bangsa Jejak – Ibu Tien Soeharto yang Tetap Hidup (Tulisan Keenam)

×

Siti Hartinah : Mengabdi untuk Bangsa Jejak – Ibu Tien Soeharto yang Tetap Hidup (Tulisan Keenam)

Sebarkan artikel ini

Dari Yayasan Harapan Kita, lahir rumah sakit, TMII, perpustakaan, museum hingga kawasan konservasi yang menjadi bagian dari perjalanan Indonesia.

Memperingati 103 Tahun Kelahiran Ibu Tien Soeharto (23 Agustus 1923–23 Agustus 2026)

Oleh: Koni Bardianto

Channel8.co.id – Apa yang akan tersisa dari seseorang setelah ia pergi?

Bagi Siti Hartinah Soeharto atau Ibu Tien Soeharto, jawabannya bukan sekadar kenangan. Ada gagasan yang diwujudkan menjadi sesuatu yang bisa digunakan dan dirasakan masyarakat.

Semua itu bermula dari Yayasan Harapan Kita, yang didirikan Ibu Tien bersama Zaleha Ibnu Sutowo pada 23 Agustus 1968, bertepatan dengan ulang tahun Ibu Tien yang ke-45.

Dari yayasan inilah sejumlah gagasan sosial kemudian tumbuh. Bidangnya beragam, mulai dari kesehatan, pendidikan, kebudayaan hingga pelestarian lingkungan.

Salah satu yang paling mudah dikenali adalah Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Pada awal 1970-an, Ibu Tien melihat Indonesia sebagai negeri yang sangat besar dan beragam. Tidak semua orang bisa datang ke seluruh pelosok Nusantara untuk melihat rumah adat, pakaian tradisional, kesenian dan kebudayaan daerah.

Muncullah gagasan sederhana: bagaimana kalau Indonesia bisa “dihadirkan” dalam satu kawasan?

Gagasan itu kemudian diwujudkan melalui Yayasan Harapan Kita. Pembangunan TMII dimulai pada 1972 dan diresmikan pada 20 April 1975.

TMII kemudian menjadi tempat masyarakat mengenal keragaman Indonesia dalam satu kawasan. Bukan hanya tempat rekreasi, tetapi juga ruang untuk mengenalkan budaya Nusantara kepada generasi muda.

Dari budaya, perhatian Ibu Tien bergerak ke persoalan yang lebih dekat dengan kehidupan keluarga: kesehatan ibu dan anak.

Pada 22 Desember 1979, Yayasan Harapan Kita mendirikan Rumah Sakit Anak dan Bersalin Harapan Kita. Rumah sakit itu kemudian berkembang menjadi RS Anak dan Bunda Harapan Kita, salah satu pusat rujukan pelayanan kesehatan ibu dan anak.

Enam tahun kemudian, perhatian terhadap kesehatan berkembang ke bidang jantung.

Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita diresmikan pada 9 November 1985. Rumah sakit yang awalnya didirikan Yayasan Harapan Kita itu kemudian berkembang menjadi Pusat Jantung Nasional Harapan Kita.

Di bidang lain, Ibu Tien juga memikirkan sesuatu yang tidak kalah penting: pengetahuan.

Atas inisiatifnya melalui Yayasan Harapan Kita, kompleks Perpustakaan Nasional di Jalan Salemba Raya dibangun. Presiden Soeharto meresmikannya pada 11 Maret 1989, dan gedung beserta fasilitasnya kemudian diserahkan kepada negara.

Gagasannya sederhana: pembangunan bangsa tidak cukup hanya dengan membangun fisik. Masyarakat juga membutuhkan pengetahuan dan akses untuk membaca.

Jejak berikutnya adalah Museum Purna Bhakti Pertiwi.

Selama mendampingi Presiden Soeharto, Ibu Tien melihat banyak cenderamata dari para kepala negara dan sahabat dari berbagai negara. Benda-benda itu kemudian dipandang bukan sekadar hadiah, tetapi bagian dari perjalanan sejarah dan persahabatan antarnegara.

Museum Purna Bhakti Pertiwi akhirnya diresmikan pada 23 Agustus 1993, bertepatan dengan ulang tahun Ibu Tien yang ke-70.

Bangunannya berbentuk kerucut menyerupai tumpeng. Di dalamnya disimpan berbagai benda yang berkaitan dengan perjalanan pengabdian Presiden Soeharto.

Ada pula sisi Ibu Tien yang lebih personal: kecintaannya pada tanaman, terutama anggrek.

Kegemaran itu berkembang menjadi gagasan untuk memperkenalkan dan mengembangkan anggrek Indonesia. Lahirlah Taman Anggrek Indonesia Permai, yang diresmikan pada 20 April 1993.

Tidak berhenti di sana.

Perhatian terhadap tanaman dan lingkungan kemudian berkembang menjadi gagasan yang jauh lebih besar: Taman Buah Mekarsari di Cileungsi, Bogor.

Kawasan sekitar 264 hektare itu dikembangkan sebagai tempat konservasi tanaman buah, sekaligus penelitian, pembibitan, pendidikan dan rekreasi.

Secara kelembagaan, PT Mekar Unggul Sari didirikan pada 14 April 1994, sedangkan Taman Wisata Mekarsari resmi dibuka pada 14 Oktober 1995.

Menariknya, gagasan menanam dan melestarikan tanaman sebenarnya adalah pekerjaan untuk masa depan. Pohon tidak langsung besar. Buah tidak langsung dipanen. Hasil konservasi pun tidak selalu dapat dinikmati oleh orang yang memulainya.

Tetapi justru di situlah makna gagasan tersebut.

Jika seluruh jejak itu dilihat bersama, terlihat satu benang merah.

TMII memperkenalkan Indonesia.

Rumah sakit memberikan pelayanan kesehatan.

Perpustakaan membuka akses terhadap pengetahuan.

Museum merawat sejarah.

Taman Anggrek menjaga kekayaan flora.

Mekarsari memikirkan konservasi untuk generasi mendatang.

Berbeda bentuk, tetapi memiliki tujuan yang sama: membuat sesuatu yang manfaatnya bisa melampaui kehidupan orang yang menggagasnya.

Karena itu, berbicara tentang warisan Ibu Tien tidak cukup hanya dengan menyebut nama bangunan atau tanggal peresmian.

Yang lebih penting adalah gagasan di baliknya.

Seorang ibu memikirkan kesehatan ibu dan anak. Seorang pencinta bunga memikirkan bagaimana tanaman Indonesia tetap lestari. Seorang pendamping kepala negara memikirkan bagaimana cenderamata dan perjalanan sejarah tidak hilang begitu saja. Dan seorang perempuan yang melihat luasnya Indonesia mencoba menghadirkan keragamannya agar lebih mudah dikenal masyarakat.

Pada akhirnya, mungkin warisan terbesar Ibu Tien bukanlah bangunan-bangunan itu sendiri.

Melainkan cara melihat persoalan dan keberanian mengubah kepedulian menjadi karya.

Sebab sebuah rumah sakit akan terus melayani meski penggagasnya telah tiada. Buku-buku di perpustakaan akan terus dibaca oleh orang yang tidak pernah mengenalnya. Museum akan terus menyimpan cerita masa lalu. Dan pohon yang ditanam hari ini dapat memberi manfaat kepada generasi yang bahkan belum lahir.

Itulah pengabdian dalam bentuk yang paling sederhana:

membangun sesuatu yang manfaatnya tidak berhenti pada diri sendiri.

(Bersambung ke Bab VII: “Kepergian Seorang Ibu Bangsa: Hari-Hari Terakhir, Duka Nasional, dan Warisan yang Tak Pernah Usai”)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Oleh : Yudi Latif (Dipersembahkan untuk mensyukuri 60…