Terkini

Telur Turun, Tapi Kok Peternak Malah Rugi? Titiek Soeharto Temui Pendemo di DPR

×

Telur Turun, Tapi Kok Peternak Malah Rugi? Titiek Soeharto Temui Pendemo di DPR

Sebarkan artikel ini
Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto (Titiek Soeharto menemui perwakilan peternak yang menggelar aksi di depan Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (07/10/2026) (Sumber Istimwwa)

JAKARTA — Harga telur ayam di tingkat peternak sedang jatuh. Di saat yang sama, biaya pakan justru naik dan pasokannya dikeluhkan makin sulit. Kondisi ini membuat sejumlah peternak ayam petelur mendatangi Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (7/10/2026).

Di tengah aksi tersebut, Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto atau Titiek Soeharto menemui perwakilan peternak untuk mendengarkan langsung keluhan mereka.

Bukan sekadar soal harga telur yang murah, para peternak membawa persoalan yang lebih besar: biaya produksi naik, tetapi hasil penjualan justru turun.

“Turunnya harga telur kita ikut prihatin. Ini kenapa turun? Karena pakannya harganya naik, tidak ada jagungnya,” kata Titiek saat menerima perwakilan peternak.

BUKA LINK : https://vt.tiktok.com/ZSbgVB793/

Harga telur jatuh, peternak tertekan

Keluhan peternak cukup sederhana tetapi dampaknya serius.

Mereka menyebut harga telur di tingkat peternak saat ini berada sekitar Rp20.000 per kilogram, bahkan di Blitar dilaporkan sekitar Rp19.000 per kilogram. Pada Juni 2026, harga di tingkat kandang sempat menyentuh sekitar Rp17.100 per kilogram.

Menurut perwakilan peternak, kondisi tersebut membuat mereka mengalami kerugian sekitar Rp5.000-Rp7.000 per kilogram selama enam bulan.

Masalahnya, biaya pakan justru bergerak ke arah sebaliknya.

Jagung yang menjadi bahan penting pakan ayam disebut mengalami persoalan pasokan dan harga. Peternak juga mengeluhkan kenaikan harga bungkil kedelai.

Titiek menyebut sekitar 50 persen beban produksi peternak berasal dari jagung, sementara sekitar 25 persen berasal dari bungkil kedelai.

Titiek janji hubungi pemerintah dan Bulog

Setelah mendengarkan aspirasi peternak, Titiek mengatakan akan berkomunikasi dengan pemerintah dan Perum Bulog untuk mencari solusi.

Fokusnya antara lain memastikan ketersediaan jagung dengan harga yang lebih terjangkau serta mencari jalan agar produksi telur peternak dapat terserap.

Ketua Komisi IV DPR  Titiek Soeharto berjanji mencari solusi bersama pemerintah dan Bulog terkait persoalan harga pakan yang naik dan harga telur yang anjlok.

Ketua Komisi IV DPR RI, Titiek Soeharto menemui peternak yang tergabung dalam Asosiasi Peternak Ayam Petelur Rakyat yang menyampaikan aspirasinya di depan Gedung DPR RI,  Jakarta, Rabu (7/10/2026).  (Sumber: Istimewa)

Bagi peternak, persoalannya bukan hanya harga telur hari ini.  Jika harga jual terus berada di bawah biaya produksi, usaha peternakan bisa semakin tertekan. Bahkan, peternak mengkhawatirkan keberlangsungan usaha mereka jika kondisi tersebut tidak segera diperbaiki.

DPR dorong ada badan khusus urus pakan

Persoalan pakan ternyata bukan isu baru.

Dalam pembahasan di Komisi IV DPR, Titiek juga mendorong pemerintah mempertimbangkan pembentukan badan khusus yang menangani pakan ternak.

Menurutnya, lembaga tersebut nantinya dapat mengurus rantai pasok bahan pakan, mulai dari pengadaan hingga distribusi kepada peternak dengan harga yang wajar.

Gagasan ini muncul karena masalah pakan dianggap terlalu penting untuk hanya diselesaikan setiap kali terjadi gejolak harga.

Lalu, bagaimana dengan harga telur di konsumen?

Ini bagian yang menarik.

Harga telur murah di tingkat peternak tidak otomatis berarti telur murah bagi konsumen.

Ada rantai distribusi dari peternak, pengepul, distributor hingga pedagang sebelum telur sampai ke meja makan masyarakat.

Pemerintah sebelumnya telah menetapkan Harga Acuan Pembelian (HAP) telur ayam ras di tingkat peternak sebesar Rp26.500 per kilogram. Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman pada Juni 2026 menegaskan pembelian telur di tingkat peternak wajib mengacu pada angka tersebut.

Artinya, ketika peternak menjual jauh di bawah harga acuan, persoalannya bukan sekadar “telur sedang murah”.

Ada pertanyaan yang lebih besar:

Kenapa harga di kandang bisa jatuh, sementara biaya untuk menghasilkan telur justru naik?

Bukan cuma soal telur

Buat masyarakat, persoalan ini mungkin terlihat sederhana: telur turun, berarti bagus karena bisa lebih murah.

Tetapi bagi peternak, ceritanya berbeda.

Ayam tetap harus diberi makan setiap hari. Pakan harus dibeli. Kandang harus dirawat. Tenaga kerja harus dibayar. Sementara telur yang dihasilkan harus dijual.

Kalau biaya produksi terus naik tetapi harga jual jatuh terlalu dalam, peternak bisa mengalami kerugian.

Karena itu, persoalan telur sebenarnya menyangkut rantai pangan dari peternak sampai konsumen.

Titiek mengatakan akan membawa persoalan tersebut untuk dicarikan solusi bersama pemerintah dan Bulog.

Kini yang ditunggu peternak bukan hanya janji, tetapi langkah nyata agar harga telur kembali masuk akal tanpa membuat konsumen terbebani.

Channel8.co.id — News that feels human  (koni)

Views: 3

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *