BisnisTerkini

Harga Pangan Masih Bergerak, Cabai Tembus Rp100 Ribu, Beras dan Telur Berbeda Arah

×

Harga Pangan Masih Bergerak, Cabai Tembus Rp100 Ribu, Beras dan Telur Berbeda Arah

Sebarkan artikel ini
Pedagang dan Harga Pangan serta Konsumen di Pasar ( AI Image)

Channel8.co.id, Jakarta — Harga pangan di Indonesia masih bergerak. Ada komoditas yang naik, ada yang turun, sementara sebagian lainnya relatif bertahan.

Yang paling mencolok adalah cabai rawit merah. Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Bank Indonesia menunjukkan harga cabai rawit merah secara nasional masih berada di sekitar Rp102.000 per kilogram pada Kamis, 8 Oktober 2026.

Harga tersebut naik sekitar Rp950 atau 0,94 persen dibandingkan hari sebelumnya.

Kondisi ini menunjukkan harga cabai masih menjadi salah satu perhatian konsumen. Bahkan sejak awal Oktober, harga cabai rawit merah sudah berada di atas Rp100 ribu per kilogram.

Pada 1 Oktober, PIHPS mencatat harga cabai rawit merah Rp101.550 per kilogram.

Bukan Semua Naik

Meski cabai masih tinggi, bukan berarti seluruh bahan pangan mengalami kenaikan.

Data PIHPS pada 7 Oktober menunjukkan harga beras kualitas super I sekitar Rp18.000 per kilogram, naik tipis dari hari sebelumnya. Beras super II berada di sekitar Rp17.400 per kilogram.

Di sisi lain, harga daging ayam ras segar berada sekitar Rp41.550 per kilogram dan telur ayam ras sekitar Rp29.850 per kilogram. Harga ayam bahkan tercatat turun tipis dibandingkan hari sebelumnya, sementara telur relatif tetap.

Gambaran tersebut menunjukkan satu hal: harga pangan tidak bergerak serempak.

Ada Faktor Cuaca dan Produksi

Pergerakan harga pangan saat ini tidak terlepas dari kondisi produksi dan cuaca.

Dewan Ekonomi Nasional mencatat inflasi Indonesia pada September 2026 mencapai 3,28 persen secara tahunan. Sementara inflasi pangan bergejolak atau volatile food mencapai 5,03 persen.

Kenaikan tersebut antara lain dipengaruhi harga daging ayam ras, cabai rawit, beras dan daging sapi. Kondisi kemarau panjang serta fenomena El Niño juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan.

Untuk beras, DEN memperkirakan produksi pada September-November 2026 dapat turun sekitar 12 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pemerintah: Stok Masih Aman

Di tengah pergerakan harga tersebut, pemerintah memastikan ketersediaan pangan nasional masih cukup.

Badan Pangan Nasional menyebut proyeksi neraca pangan masih menunjukkan surplus produksi untuk sejumlah komoditas. Beras diproyeksikan surplus sekitar 3,56 juta ton, daging ayam 775 ribu ton dan cabai rawit sekitar 638,5 ribu ton.

Pemerintah juga terus menjalankan Gerakan Pangan Murah dan subsidi distribusi untuk membantu mengalirkan komoditas dari daerah surplus ke daerah yang membutuhkan.

Untuk beras, pemerintah menambah penugasan kepada Bulog untuk menyalurkan 74,18 ribu ton beras SPHP. Stok beras pemerintah di Bulog disebut mencapai sekitar 4,48 juta ton.

Jadi, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Sederhananya, stok pangan nasional belum menunjukkan kondisi kekurangan secara umum, tetapi harga di pasar masih bergerak karena pasokan dan distribusi tidak selalu berjalan dengan kecepatan yang sama.

Cabai menjadi contoh paling mudah. Produksi nasional bisa mencukupi, tetapi ketika pasokan dari sentra produksi belum cepat sampai ke daerah yang membutuhkan, harga di pasar dapat tetap tinggi.

Bagi konsumen, artinya harga bahan makanan belum bisa dianggap sepenuhnya stabil.

Hari ini cabai masih mahal, besok komoditas lain bisa bergerak.

Karena itu, yang perlu diperhatikan bukan hanya apakah harga naik atau turun, tetapi mengapa harga tersebut bergerak dan apakah kenaikan itu sampai ke konsumen karena masalah produksi, distribusi atau margin perdagangan.

Channel8.co.id akan terus memantau pergerakan harga pangan agar masyarakat tidak hanya mengetahui “berapa harganya”, tetapi juga memahami “kenapa harganya berubah”.  (koni)

Views: 1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *