Channel8.co.id, Jakarta —Bingung kenapa Bright Gas naik tapi LPG 3 kg anteng-anteng saja? Padahal isinya sama-sama gas. Ini penjelasannya, sesederhana mungkin.
Apa yang bikin harga gas naik?
Harga gas dunia mengacu pada patokan Arab Saudi yang disebut Aramco Contract Price. Untuk Oktober 2026, patokan ini melonjak: propana US$680 dan butana US$730 per metrik ton. Ketika harga acuan naik, harga gas yang tidak disubsidi ikut naik. Itulah yang terjadi pada Bright Gas 5,5 kg dan 12 kg.
Terus kenapa gas melon tidak naik?
Karena gas melon itu barang subsidi. Harga aslinya Rp42.750 per tabung, tapi kamu cuma bayar Rp19.000 di pangkalan resmi. Selisih sekitar Rp23.750 ditanggung negara lewat APBN. Selama pemerintah memutuskan subsidi jalan terus — dan Menteri ESDM sudah menjamin sampai akhir 2026 — harga di pangkalan tidak berubah, seberapapun harga gas dunia naik.
Jadi siapa yang menanggung kenaikan harga dunia?
Untuk Bright Gas: kamu, sebagai pembeli, karena tidak ada subsidi. Untuk gas melon: negara, lewat APBN. Itulah kenapa isu subsidi energi selalu jadi perdebatan setiap tahun — anggarannya raksasa.
Apa yang harus dilakukan warga?
Satu saja: beli LPG 3 kg di pangkalan resmi dengan harga Rp19.000. Kalau ada pengecer menjual jauh di atas harga itu, kamu berhak curiga dan melapor. Dan kalau kamu pengguna Bright Gas, kabar baiknya: kenaikan kali ini masih dalam hitungan ribuan rupiah per tabung, bukan puluhan ribu. (Koni)
Sumber: Pertamina Patra Niaga, Kementerian ESDM, Bank Dunia, industry.co.id, channel9.id, techpulse.id, telegraf.co.id, fortuneidn.com.
Views: 1






