BeritaHistoria

Siti Hartinah : Ibu bagi Enam Anak, Ibu bagi Jutaan Rakyat (Tulisan Keempat)

×

Siti Hartinah : Ibu bagi Enam Anak, Ibu bagi Jutaan Rakyat (Tulisan Keempat)

Sebarkan artikel ini

Ibu bagi Enam Anak, Ibu bagi Jutaan Rakyat

Kehidupan dan Kehangatan Keluarga di Balik Tembok Istana

Memperingati 103 Tahun Kelahiran Ibu Tien Soeharto (23 Agustus 1923–23 Agustus 2026)

Oleh: Koni Bardianto

Di mata masyarakat, ia adalah Ibu Negara.

Di hadapan para tamu negara, ia adalah pendamping Presiden Republik Indonesia.

Namun, ketika pintu Istana tertutup dan kegiatan kenegaraan usai, Siti Hartinah kembali pada peran yang paling ia cintai: menjadi seorang ibu.

Bagi Ibu Tien, jabatan Presiden yang diemban suaminya tidak pernah menghapus kewajiban membangun keluarga yang hangat dan penuh kasih. Rumah tetap menjadi sekolah pertama, dan orang tua adalah guru yang paling menentukan masa depan anak-anaknya.

Enam anak tumbuh dalam didikan Ibu Tien dan Presiden Soeharto: Siti Hardiyanti Rukmana (Tutut), Sigit Harjojudanto, Bambang Trihatmodjo, Siti Hediati Hariyadi (Titiek), Hutomo Mandala Putra (Tommy), dan Siti Hutami Endang Adiningsih (Mamiek).

Meski hidup dalam lingkaran Istana sebagai keluarga Presiden, keseharian mereka tidak selalu jauh berbeda dari keluarga lainnya. Di balik protokol dan kehidupan kenegaraan, tetap ada kehangatan, kebersamaan, dan cerita sederhana sebuah keluarga.

Dalam berbagai wawancara, anak-anak Presiden Soeharto menceritakan bahwa orang tua mereka menanamkan disiplin sejak dini. Waktu belajar, waktu makan, sopan santun kepada orang yang lebih tua, hingga kebiasaan menghormati para pegawai rumah tangga menjadi bagian dari pendidikan sehari-hari.

Ibu Tien tidak ingin anak-anaknya tumbuh dengan perasaan istimewa hanya karena ayah mereka seorang Presiden.

Sebaliknya, ia mengajarkan bahwa kehormatan seseorang lahir dari akhlak, kerja keras, dan tanggung jawab.

Putri sulungnya, Siti Hardiyanti Rukmana (Tutut Soeharto), dalam berbagai kesempatan mengenang sang ibu sebagai sosok yang lembut tetapi tegas.

Ibu Tien Soeharto bersama putra putri:  Siti Hardiyanti (lahir 23 Januari 1949), Sigit Harjojudanto (lahir 1 Mei 1951) dan Bambang Trihatmodjo (lahir 23 Juli 1953). Foto sekitar tahun 50 an.  (Foto dok istimewa)

Menurut Tutut, Ibu Tien jarang meninggikan suara. Namun ketika memberikan nasihat, anak-anak memahami bahwa itu adalah pedoman yang harus dijalankan.  Ia tidak banyak memberi ceramah. Ia lebih sering memberi contoh.

Kesederhanaan itu terlihat dalam hal-hal kecil: cara berpakaian di rumah, kebiasaan makan bersama keluarga, hingga pentingnya menghargai waktu.

“Kalau sudah waktunya makan bersama, semua harus hadir,” demikian kira-kira prinsip yang selalu dijaga di keluarga Cendana.

Momen makan malam bukan sekadar memenuhi kebutuhan jasmani, melainkan saat seluruh anggota keluarga saling mendengarkan cerita, berbagi pengalaman, dan mempererat ikatan batin.

Bagi Siti Hediati Hariyadi (Titiek Soeharto), sosok sang ibu juga meninggalkan kesan yang mendalam.

Dalam sejumlah wawancara dan tulisan peringatan mengenai Ibu Tien, Titiek menggambarkan ibunya sebagai perempuan yang penuh kasih sayang, tetapi tidak memanjakan anak-anak.

Ketika salah seorang anak melakukan kesalahan, Ibu Tien memilih menasihati secara pribadi daripada mempermalukan mereka di depan orang lain.

Baginya, mendidik adalah membangun kesadaran, bukan menanamkan rasa takut.

 

Kelembutan Ibu Tien juga dirasakan oleh para pegawai Istana.

Sejumlah mantan staf rumah tangga dan ajudan pernah menceritakan bahwa beliau mengenal banyak pegawai secara pribadi. Ia mengetahui nama mereka, memperhatikan kondisi keluarga mereka, bahkan kerap menanyakan kabar apabila ada yang sedang sakit.

Dalam suasana tertentu, ia tidak segan mengirimkan bantuan atau memberikan perhatian kepada keluarga pegawai yang sedang mengalami musibah.

Perhatian seperti itu mungkin tampak sederhana.

Namun bagi mereka yang menerimanya, perhatian tersebut menjadi kenangan yang tidak pernah terlupakan.

 

Salah satu kebiasaan yang paling dikenang adalah kecintaan Ibu Tien terhadap bunga dan tanaman.

Setiap pagi, sebelum memulai berbagai agenda kenegaraan, ia kerap berjalan mengelilingi taman di lingkungan Istana.

Ia memperhatikan bunga yang mulai mekar.

Memeriksa tanaman yang perlu dirawat.

Kadang berhenti cukup lama hanya untuk menikmati suasana pagi.

Bagi sebagian orang, itu hanyalah kegiatan ringan.

Namun bagi Ibu Tien, taman adalah tempat menemukan ketenangan sebelum menjalani hari yang penuh kesibukan.

Kecintaan terhadap taman inilah yang kemudian tercermin dalam gagasannya membangun Taman Mini Indonesia Indah—sebuah ruang hijau yang memadukan keindahan alam dengan kekayaan budaya Nusantara.

 

Mereka yang pernah mendampinginya juga mengenang kebiasaannya menerima tamu dengan hangat.

Tidak jarang, Ibu Tien menyiapkan sendiri perhatian kecil bagi tamu-tamu tertentu, memastikan hidangan sesuai, atau menanyakan apakah para tamu merasa nyaman.

Keramahtamahan itu bukan bagian dari protokol.

Itu adalah bagian dari kepribadiannya.

 

Di balik berbagai kesibukan sebagai Ibu Negara, ia tetap menyediakan waktu untuk cucu-cucunya.

Dalam berbagai dokumentasi keluarga, tampak Ibu Tien menikmati saat-saat bermain bersama para cucu, mengajak mereka berbincang, atau sekadar menemani mereka di taman.

Di hadapan cucu-cucunya, ia bukan lagi Ibu Negara.

Ia hanyalah seorang nenek yang penuh kasih.

 

Barangkali inilah yang membuat banyak orang tetap mengenang Ibu Tien dengan rasa hormat.

Bukan semata karena ia mendampingi Presiden selama lebih dari tiga dasawarsa.

Melainkan karena di balik segala kehormatan yang melekat pada dirinya, ia tidak pernah kehilangan jati dirinya sebagai seorang ibu.

Ia percaya bahwa membangun bangsa tidak selalu dimulai dari ruang sidang atau podium kenegaraan.

Membangun bangsa dimulai dari keluarga.

Dari meja makan tempat anak-anak belajar menghargai orang lain.

Dari ruang tamu tempat keramahtamahan diajarkan.

Dari taman rumah tempat kesabaran tumbuh bersama bunga-bunga yang dirawat setiap hari.

Dan mungkin, dari keyakinan sederhana itulah lahir warisan terbesar Ibu Tien Soeharto: keteladanan bahwa kekuatan seorang perempuan tidak selalu tampak di depan panggung, tetapi justru terasa dalam kehidupan banyak orang yang disentuhnya. (koni)

(Bersambung ke Bab V: “Di Balik Keputusan Besar Presiden: Peran Ibu Tien sebagai Sahabat Diskusi dan Penjaga Keseimbangan Keluarga”)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Oleh : Yudi Latif (Dipersembahkan untuk mensyukuri 60…

Berita

Yudi Latif Channel8.co.id – Ada saat ketika manusia…