Human

Dulu Mengamen dan Memulung, Kini Mereka Memimpin Ikrar Sumpah Pemuda

×

Dulu Mengamen dan Memulung, Kini Mereka Memimpin Ikrar Sumpah Pemuda

Sebarkan artikel ini
Siswa Sekolah Rakyat bernama Muhammad Yusuf, saat memimpin pembacaan ikrar Sumpah Pemuda di GOR Sudiang, Makassar. (Dok. Istimewa/ Kemensos)

Ringkasan tulisan: Di peringatan satu tahun Sekolah Rakyat di Makassar, anak-anak yang dulu mengamen, memilah botol, dan memulung kini berdiri di panggung — salah satunya memimpin ikrar Sumpah Pemuda. Ini kisah mereka.

Channel8.co.id, Makassar, — Ada satu momen di GOR Sudiang, Makassar, Rabu kemarin, yang bikin banyak orang di ruangan itu menahan napas. Seorang siswa Sekolah Rakyat bernama Muhammad Yusuf berdiri di depan ribuan orang, lalu berkata dengan lantang: “Bapak dan Ibu, mohon berdiri. Mohon ikuti saya.” Ia memimpin pembacaan ikrar Sumpah Pemuda, dan menutupnya dengan kalimat: “Selamat Hari Sumpah Pemuda, jayalah selalu Indonesia-ku.”

Momen itu terjadi di peringatan satu tahun program Sekolah Rakyat, bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda ke-98, bertema “Satu Indonesia, Sejuta Cita-Cita”. Acara ini dipimpin Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) bersama Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono, dihadiri Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman. Sekitar 7.000 orang hadir langsung, puluhan ribu mengikuti daring, dan 741 siswa tampil — dari tari Aceh, Sulawesi, Papua, sampai NTT, karate, pencak silat, pramuka, drama, dan puisi.

Tapi yang paling membekas bukan jumlahnya. Melainkan siapa anak-anak itu.

Penampilan siswa Sekolah Rakyat di peringatan satu tahun Sekolah Rakyat di Makassar, anak-anak yang dulu mengamen, memilah botol, dan memulung kini berdiri di panggung (Dok. Kemensos)

Ada Rifaldi, siswa SMA. Selama 12 tahun ia belum pernah duduk di bangku sekolah. Hari-harinya dihabiskan mengamen. Kemarin, ia kembali ke bangku sekolah — dan tampil di panggung acara. Gus Ipul mengatakannya dengan kalimat yang sederhana dan menohok: “Rifaldi 12 tahun belum pernah duduk di bangku sekolah. Hari-harinya dihabiskan untuk mengamen. Hari ini Rifaldi kembali ke bangku sekolah.”

Ada Fikri, baru 6 tahun, yang sebelumnya mengumpulkan dan memilah botol plastik untuk dijual kembali. Ada Agista, yang menggambar dengan krayon bekas sambil membantu ayahnya memulung; karyanya dijual Rp5.000 sampai Rp10.000.

Kenapa kisah mereka penting? Karena menurut Kemensos, dari penjangkauan di 497 kabupaten/kota, ditemukan lebih dari 180 ribu anak usia sekolah yang sudah bekerja demi membantu ekonomi keluarga. Program ini, menurut Kemensos, kini melayani 44 ribu siswa di 182 titik — 100 titik permanen (93 sudah beroperasi, 7 masih dibangun) ditambah 82 titik rintisan. Dari 11 ribu anak yang dipetakan bakatnya, 4 dari 10 berbakat kuat di sains dan teknologi. Prestasinya pun sudah ada: 11 prestasi internasional, lebih dari 200 nasional, dan lebih dari 1.100 siswa berprestasi.

Tapi ada sisi yang tidak boleh kita tutupi: asesmen psikologis menemukan 1 dari 3 anak butuh pendampingan emosional, dan sekitar 1 dari 6 kehilangan ayah, ibu, atau keduanya. Angka-angka ini, sekali lagi, menurut Kemensos — bukan hasil audit independen — tapi ia memberi gambaran jujur: memasukkan anak ke sekolah saja tidak cukup; lukanya juga harus dirawat.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) memberikan sambutan dalam peringatan Setahun Sekolah Rakyat di Makassar, Rabu 28 Oktober 2026 ( Dok. Kemensos)

Gus Ipul mengutip pesan Presiden Prabowo yang menjadi gagasan dasar program ini: “Kalau bapaknya pemulung, anaknya tidak boleh jadi pemulung. Kalau bapaknya tukang becak, anaknya tidak perlu harus jadi tukang becak.”

98 tahun lalu, para pemuda berikrar satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa. Kemarin di Makassar, ikrar itu dibacakan oleh anak-anak yang dulu nyaris tidak pernah masuk sekolah. Mungkin, itulah bentuk paling nyata dari ikrar itu: memastikan tidak ada lagi anak Indonesia yang tertinggal dari cita-citanya sendiri. (redaksi C8)

Views: 1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Human

Pameran “Dua Wajah, Satu Jiwa” di Museum Nasional mempertemukan topeng tradisional Indonesia dan Korea — termasuk sepuluh pasang topeng yang ternyata bercerita tentang hal yang sama, seperti topeng yang sama-sama menggambarkan manusia di usia senja. Ini penting karena topeng sering kita anggap sekadar hiasan, padahal ia adalah cermin: cara dua bangsa yang jauh berbeda memaknai hidup, tua, dan jati diri.

Human

Dalam diskusi “Darurat Perundungan di Sekolah” di Senayan, Senin, 26 Oktober 2026, Menkomdigi Meutya Hafid menyebut 45 persen anak pernah mengalami perundungan siber, sementara hanya 39,9 persen orang tua yang merasa cukup mampu mendampingi anak di internet. Ini penting karena perundungan di dunia maya tidak berhenti saat bel sekolah berbunyi — ia bisa masuk ke kamar anak lewat gawai, dan pendampingan orang tua menjadi garis pertahanan pertama yang ternyata masih rapuh.

Human

Rabu, 28 Oktober 2026, Kementerian Sosial meresmikan 100 gedung Sekolah Rakyat di Makassar — sekolah gratis berasrama untuk anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Ini penting karena program ini tidak menyaring anak lewat nilai ujian, melainkan lewat kondisi ekonomi keluarganya — dan setelah satu tahun berjalan, peresmian ini menjadi ujian berikutnya: apakah gedung baru dibarengi pengasuhan yang aman untuk anak-anak yang tinggal di dalamnya.

Human

Menyambut Hari Sumpah Pemuda, bakti sosial dan donor darah di Aula Kantor Kecamatan Pulo Gadung, Jakarta Timur, Sabtu, 24 Oktober 2026, dihadiri 240 orang pendonor bersama PMI. Ini penting karena di tengah perayaan yang sering berhenti di upacara, mereka memilih bentuk persatuan yang paling nyata: mendonorkan darah tanpa pernah bertanya siapa yang akan menerimanya.