Oleh: Dr. Ir. Wachyu Hari Haji, MM
Wajah Jakarta di awal April 2026 ini sedang tidak baik-baik saja. Di balik gegap gempita masa libur Lebaran, sebuah “bom waktu” ekologis meledak di hilir. Tragedi longsor di Zona 4A TPST Bantargebang pada 8 Maret lalu memicu efek domino berupa penumpukan sampah masif di seantero kota. Kelumpuhan operasional selama sepuluh hari pascainsiden tersebut membuat sampah di berbagai Tempat Penampungan Sementara (TPS) menggunung, bahkan mencapai ketinggian hingga enam meter di titik krusial seperti Pasar Induk Kramat Jati.
Situasi semakin pelik seiring lonjakan volume sampah pasca-Lebaran. Di Jakarta Selatan saja, produksi sampah harian tercatat menembus 1.120 ton. Meskipun Gubernur Pramono Anung telah mengerahkan tambahan 20 unit truk sewa untuk mempercepat pengangkutan, realitas di lapangan menunjukkan bahwa kapasitas Bantargebang telah berada pada titik kritis, dengan ketinggian landfill mendekati 60 meter. Strategi konvensional “angkut-buang” terbukti tidak lagi memadai untuk menopang beban residu kota global ini.
Hambatan Teknologi Hilir
Harapan besar sebenarnya diletakkan pada fasilitas Refuse-Derived Fuel (RDF) di Rorotan, Jakarta Utara. Sebagai salah satu fasilitas pengolahan sampah menjadi bahan bakar terbesar, RDF Rorotan diproyeksikan mampu memangkas beban Bantargebang hingga 2.500 ton per hari. Namun, hingga April 2026, fasilitas ini masih dalam tahap penyempurnaan teknis. Penghentian sementara operasional untuk pemasangan deodorizer guna mitigasi bau serta evaluasi gas buang menunjukkan bahwa solusi teknologi di hilir pun masih membutuhkan waktu untuk stabil dan dapat diterima secara sosial oleh warga sekitar.
Kondisi siaga ini menuntut transformasi budaya kerja yang selaras dengan kebijakan efisiensi nasional. Jika pemerintah telah meluncurkan “8 Butir Transformasi Budaya Kerja Nasional” per 31 Maret 2026 untuk mendorong efisiensi fiskal dan energi, maka pengelolaan sampah harus dipandang sebagai bagian dari efisiensi sosiologis. Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI, Asep Kuswanto, secara konsisten menekankan pentingnya pola “pilah dari sumber”, baik di tingkat rumah tangga maupun sektor komersial.
Transformasi Perilaku sebagai Kunci
Ketahanan Jakarta tidak bisa hanya bergantung pada penambahan truk sewa atau pembangunan RDF plant. Selama masyarakat belum disiplin memilah sampah dari hulu, beban di hilir akan selalu berada di ambang kolaps. Diperlukan kebijakan yang lebih tegas untuk mendorong perubahan perilaku, serupa dengan ketegasan pemerintah dalam mengatur distribusi BBM subsidi melalui sistem barcode aplikasi MyPertamina yang mulai berlaku 1 April 2026.
Jakarta harus belajar dari krisis April ini bahwa sampah bukan sekadar persoalan teknis pembersihan, melainkan persoalan manajemen sumber daya manusia dan perilaku kolektif. Normalisasi distribusi ke Bantargebang memang tengah diupayakan pulih pada pekan ini. Namun, tanpa perubahan mendasar di tingkat hulu, kita hanya menunda terjadinya krisis berikutnya. Sudah saatnya warga Jakarta berhenti menjadi penyumbang gunungan sampah dan mulai menjadi bagian dari solusi keberlanjutan kota.
Catatan Penulis :

Dr. Ir. Wachyu Hari Haji, S.Kom.,MM.
Human Capital Strategist, HR Digital & People Analytics, Researcher ,Lecturer, Head of Research and Community Service Trilogi University
============





