BeritaHistoria

Ketika Ibu Tien Soeharto Pergi: Kesaksian Orang-Orang Terdekat tentang Sosok di Balik Istana

×

Ketika Ibu Tien Soeharto Pergi: Kesaksian Orang-Orang Terdekat tentang Sosok di Balik Istana

Sebarkan artikel ini

Channel8.co.id- JAKARTA — Kabar meninggalnya Ibu Tien Soeharto pada Minggu, 28 April 1996, mengejutkan masyarakat Indonesia. Hari itu bertepatan dengan Idul Adha.

Ny. Hj. Fatimah Siti Hartinah Soeharto meninggal dunia pada pukul 05.10 WIB. Kepergiannya bukan hanya meninggalkan duka bagi keluarga, tetapi juga kesan mendalam bagi orang-orang yang selama bertahun-tahun mengenalnya dari dekat.

Kesaksian mereka memperlihatkan sosok Ibu Tien bukan sekadar Ibu Negara yang selalu tampil dalam acara resmi. Di balik protokol Istana, ia dikenal sebagai sosok sederhana, perhatian kepada keluarga, dekat dengan sahabat seperjuangan, sekaligus perempuan yang sangat mengabdi kepada suaminya, Presiden Soeharto.

Kisah-kisah tersebut pernah dihimpun Tim INTISARI dan dimuat dalam Majalah INTISARI edisi Juni 1996 dengan judul “Perginya Sang Pejuang, Kakak, & Ibu Negara”.

Sederhana di balik kehidupan Istana

Kesederhanaan menjadi salah satu kesan yang paling kuat dari orang-orang yang pernah mendampingi Ibu Tien.

Awak pesawat kepresidenan Pelita Air Service, misalnya, mengenang kebiasaan Ibu Tien yang lebih menyukai makanan sederhana seperti kacang rebus, pisang kukus, getuk, kelepon, tempe bacem, hingga ikan bakar dengan sambal terasi.

Ia bahkan tidak jarang membawa nasi bungkus untuk seluruh rombongan, termasuk awak pesawat.

Pimpinan kru kabin, Sjahrasjad Jazir, pernah menceritakan satu kejadian kecil yang menggambarkan kebiasaan tersebut.

Ketika nasi bungkus milik Ibu Tien dipindahkan ke piring dan ditata rapi oleh pramugari, ia justru meminta agar makanan tersebut tetap disajikan dalam bungkusnya.

“Jeng, bukan begini yang Ibu mau. Saya ingin makan nasi langsung dari bungkusnya,” ujar Ibu Tien, seperti dikisahkan Sjahrasjad.

Kesederhanaan itu bukan sesuatu yang baru muncul setelah dirinya menjadi Ibu Negara.

Dari keluarga sederhana hingga menjadi Ibu Negara

Siti Hartinah lahir di Jaten, Karanganyar, Jawa Tengah, pada 23 Agustus 1923. Ia merupakan putri kedua dari pasangan KPH Soemoharjomo dan KBRAy Hatmanti.

Menurut Prof. Dr. Ibnu Hartomo, adik langsung Ibu Tien, kakaknya sejak kecil mendapatkan pendidikan yang sederhana dan cukup keras. Uang saku yang diterimanya disebut hanya dua sen sehari.

Pola pendidikan tersebut membentuk pribadi yang mandiri.

Dalam buku Siti Hartinah Soeharto, Ibu Utama Indonesia karya Abdul Gafur, juga diceritakan bagaimana Siti Hartinah kecil pernah meminta kepada ibunya agar dibuatkan semacam perlengkapan tradisional ketika dirinya sakit.

Cerita itu menjadi salah satu bagian dari perjalanan masa kecil perempuan yang kelak dikenal seluruh Indonesia sebagai Ibu Tien Soeharto.

Tetap menjadi “pengasuh” Pak Harto

Di balik kedudukan sebagai Ibu Negara, hubungan Ibu Tien dengan Soeharto digambarkan sangat dekat.

Kepada Ibu Mooryati Soedibyo, Ibu Tien pernah menceritakan bagaimana Pak Harto memperlakukannya dengan penuh perhatian.

Jika bangun lebih dahulu dan melihat selimut istrinya tersingkap, Soeharto disebut akan kembali menyelimuti Ibu Tien sebelum meninggalkan kamar.

Kesan lain muncul dari Threes Nio, wartawan Kompas, ketika mengikuti kunjungan Presiden Soeharto ke Indonesia Timur pada 20-24 April 1971.

Dalam perjalanan itu, Ibu Tien bahkan menggambarkan dirinya sebagai orang yang tetap bertugas mendampingi dan mengasuh suaminya.

“Saya ini hanya seorang pembantu, seorang pengasuh dari Pak Harto,” kata Ibu Tien, seperti dikutip dalam tulisan INTISARI.

Kalimat itu memperlihatkan bagaimana ia memandang perannya di sisi Soeharto, meskipun suaminya telah menjadi Presiden Republik Indonesia.

Tak nyaman dengan kemewahan

Ketika pertama kali mendampingi Soeharto melakukan kunjungan kenegaraan, Ibu Tien juga masih harus beradaptasi dengan kehidupan protokoler.

Pada Maret 1968, tidak lama setelah Soeharto dilantik sebagai presiden, Ibu Tien mendampingi kunjungan ke Jepang dan Kamboja.

Ia mengaku belum terbiasa dengan berbagai aturan penampilan kenegaraan.

Ada yang menyarankan menggunakan sarung tangan dan stocking. Ia menurut, meski kemudian merasa kesulitan mengenakan stocking.

Bahkan koper pakaiannya sempat tertinggal ketika rombongan berangkat menuju Jepang.

Namun justru pengalaman-pengalaman kecil tersebut memperlihatkan sisi manusiawi seorang perempuan yang mendadak harus masuk ke dalam kehidupan kenegaraan.

Dekat dengan adik dan keluarga

Bagi adik-adiknya, Ibu Tien bukan sekadar kakak. Setelah kedua orang tua mereka meninggal, sebagian peran orang tua beralih kepada dirinya.

Siti Hardjanti Wismoyo, salah satu adiknya, masih mengingat bagaimana Ibu Tien merawat mereka sejak kecil.

Hubungan itu tetap terjaga meskipun setelah menjadi Ibu Negara kehidupan Ibu Tien semakin dibatasi protokol.

Salah satu momen yang dikenang terjadi pada November 1995 ketika Ibu Tien menghadiri acara ngunduh mantu keluarga Wismoyo.

Saat adiknya menjalankan tradisi “jualan” cendol, Ibu Tien tidak mau menerima cendol yang telah disiapkan protokol.

Ia justru ingin “membeli” langsung dari tangan adiknya dengan pecahan genting sebagai alat pembayaran tradisional.

Kisah sederhana itu menjadi gambaran bagaimana Ibu Tien tetap ingin menikmati suasana kekeluargaan tanpa sekat protokol Istana.

Perempuan pejuang sebelum menjadi Ibu Negara

Jauh sebelum dikenal sebagai Ibu Negara, Siti Hartinah telah terlibat dalam perjuangan.

Pada 1945, ia bersama Soedijem dan Sajem mendirikan Laskar Putri Surakarta. Sekitar 300 perempuan disebut bergabung dalam organisasi tersebut.

Soedijem menjadi komandan, Sajem sebagai wakil, sementara Siti Hartinah bertanggung jawab di bagian perlengkapan.

Persahabatan mereka bertahan puluhan tahun.

Kepada Soedijem D. Mardowo, Ibu Tien bahkan pernah menyampaikan gagasan agar dibangun rumah atau usaha yang dapat digunakan untuk kegiatan para mantan anggota Laskar Putri.

Ia menolak jika bantuan hanya diberikan dalam bentuk uang karena menurutnya uang akan cepat habis.

“Kalau itu sifatnya usaha ‘kan tidak,” kata Ibu Tien seperti dikutip dalam tulisan tersebut.

Gagasan itu kemudian diwujudkan dengan berdirinya empat rumah sanggar usaha di Solo yang antara lain menampung anak-anak putus sekolah dari keluarga besar Laskar Putri dan masyarakat sekitar.

Dikenal “grapyak” dan tidak berjarak

Sosok Ibu Tien juga dikenang sebagai pribadi yang mudah bergaul.

Nuniek Musawa, pemeran tokoh Ibu Tien dalam film Janur Kuning dan Jakarta ’66, mengingat bagaimana Ibu Tien sangat teliti terhadap hal-hal kecil.

Ketika membaca skenario film, Ibu Tien bahkan mengoreksi adegan yang menyebut Soeharto selalu mencium keningnya sebelum berangkat.

Menurut Ibu Tien, adegan tersebut tidak tepat.

“Bapak selalu mencium pipi saya, kok,” katanya.

Yang menarik, setelah bertahun-tahun tidak bertemu, Ibu Tien masih mengenali Nuniek.

Kesaksian serupa datang dari Kapten Pilot Albertus Hendarwanto, yang pernah mendampingi perjalanan Presiden.

Menurut pengalaman awak pesawat, Ibu Tien tidak sungkan menyapa mereka secara personal. Bahkan perubahan kecil pada penampilan seorang pramugari pun diperhatikannya.

“Aduh, kok tambah kurus kamu, Jeng!” adalah salah satu sapaan yang dikenang.

“Sing podo rukun-rukun yo”

Ibu Mooryati Soedibyo juga mengenang pesan Ibu Tien setiap kali dirinya bersama suaminya berkunjung ke Cendana.

“Sing podo rukun-rukun yo!” pesan Ibu Tien sambil menepuk pundak suaminya.

Pesan itu sederhana, tetapi menggambarkan perhatian Ibu Tien terhadap hubungan keluarga orang-orang di sekitarnya.

Ia juga dikenal senang memberikan nasihat kepada sahabat dan mantan rekan seperjuangan.

Sri Woelan Soejitno, mantan anggota Laskar Putri, termasuk yang pernah mendapat perhatian tersebut.

Bagi Ibu Tien, hubungan dengan kawan-kawan seperjuangan bukan sekadar kenangan masa lalu. Ia berusaha tetap membantu mereka selama mampu.

Menanggapi kritik dengan tenang

Sikap Ibu Tien menghadapi perbedaan pendapat juga terlihat dalam polemik pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Saat memberikan sambutan pada peresmian TMII, 20 April 1975, ia menyampaikan terima kasih bukan hanya kepada mereka yang mendukung, tetapi juga kepada pihak yang tidak setuju.

Menurutnya, kritik justru dapat membuat pekerjaan dilakukan lebih hati-hati.

Sikap itu menunjukkan bahwa di balik sosok yang kerap tampil dalam acara resmi, Ibu Tien memiliki cara sendiri dalam menghadapi perbedaan.

Ada firasat sebelum kepergian

Beberapa orang terdekat bahkan mengaku merasakan adanya perubahan dalam diri Ibu Tien menjelang wafat.

Sriyanto, kerabat yang mengurus Ndalem Kalitan di Solo, mengingat percakapan dengan Ibu Tien pada pertengahan April 1996.

Dalam kesempatan tersebut, Ibu Tien berbicara mengenai urusan pembayaran dan menyampaikan kalimat yang kemudian terasa berbeda setelah kepergiannya.

Pada kesempatan lain, ketika Sriyanto menyampaikan rencana pernikahan keponakan di Solo, Ibu Tien meminta agar seluruh kamar di Kalitan dibersihkan.

“Kalau saya pulang, mengko rak kebak kabeh,” ujarnya, sebagaimana dituturkan Sriyanto.

Apakah itu sebuah firasat? Tidak ada yang dapat memastikan.

Namun bagi orang-orang yang mendengarnya, ucapan tersebut menjadi kenangan yang sulit dilupakan.

Hal serupa dirasakan Sri Woelan Soejitno. Beberapa bulan sebelum meninggal, Ibu Tien disebut sering mengeluhkan kelelahan.

“Saya capek. Saya ingin berhenti saja dari semua kegiatan ini.”

Pada kesempatan lain, ketika berbicara mengenai kewajiban memberikan sambutan dalam berbagai acara, Ibu Tien bahkan mengatakan:

“Saya mau pergi sajalah. Pokoknya, pergi jauh.”

Perginya seorang pejuang, kakak dan ibu

Pada Minggu pagi, 28 April 1996, ucapan itu akhirnya menjadi kenyataan.

Ibu Tien Soeharto pergi untuk selama-lamanya pada usia 72 tahun.

Bagi bangsa Indonesia, ia dikenang sebagai Ibu Negara yang mendampingi Soeharto selama puluhan tahun.

Namun bagi mereka yang mengenalnya secara langsung, sosok Ibu Tien meninggalkan cerita yang jauh lebih personal: seorang perempuan yang menyukai makanan sederhana, seorang kakak yang mengasuh adik-adiknya, sahabat bagi kawan seperjuangan, sosok yang memperhatikan orang-orang di sekelilingnya, dan istri yang sangat dekat dengan suaminya.

Kesaksian Ibnu Hartomo, Mooryati Soedibyo, Threes Nio, Sjahrasjad Jazir, Siti Hardjanti Wismoyo, Soedijem D. Mardowo, Nuniek Musawa, Albertus Hendarwanto, Sri Woelan Soejitno, serta Sriyanto membuat kisah tentang Ibu Tien terasa lebih manusiawi.

Bukan hanya tentang seorang Ibu Negara yang pergi, tetapi tentang Siti Hartinah—perempuan di balik nama besar Ibu Tien Soeharto.

Diolah dari tulisan Tim INTISARI, “Perginya Sang Pejuang, Kakak, & Ibu Negara”, Majalah INTISARI edisi Juni 1996.

Views: 2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *