BeritaFeatureOpini

6 Jam Kroasia–Bosnia, De Javu 6 Jam di Yogya

×

6 Jam Kroasia–Bosnia, De Javu 6 Jam di Yogya

Sebarkan artikel ini
Kolonel Sjafrie Sjamsoeddin, Presiden Soeharto, Yasushi Akashi, dan Mayor CPM Unggul Yudhoyono di Sarajevo (Foto: Saidi / Setneg via Soeharto.co)

Oleh: Noor Johan Nuh

Channel8.co.id – Ada sebuah kebetulan sejarah yang terasa terlalu kuat untuk sekadar disebut kebetulan.

06.00–12.00.

Enam jam yang pernah mengubah Yogyakarta menjadi panggung pembuktian bahwa Republik Indonesia dan TNI belum mati. Dalam Serangan Umum 1 Maret 1949, pasukan TNI berhasil menguasai Yogyakarta selama sekitar enam jam. Saat itu Letnan Kolonel Soeharto,  menjadi salah satu komandan lapangan utama.

Itulah Serangan Umum 1 Maret 1949.

Empat puluh enam tahun kemudian, angka yang sama seperti muncul kembali dalam kehidupan Soeharto.

12.00–18.00.

Enam jam pada 13 Maret 1995, Presiden Soeharto terbang dari Zagreb, Kroasia, menuju Sarajevo, Bosnia Herzegovina, di tengah perang yang sewaktu-waktu bisa merenggut nyawa. Ia berangkat pukul 12.00 dan kembali ke Zagreb tepat pukul 18.00.

Enam jam.  Dua peristiwa. Dua medan konflik. Dua masa yang berbeda.

Namun, tokohnya sama.

Soeharto.

Apakah ini sekadar de javu sejarah? Atau ada sesuatu yang lebih dalam?

Zagreb: Ketika Presiden Memutuskan Terbang ke Medan Perang

Tanggal 13 Maret 1995, Presiden Soeharto berada di Zagreb, ibu kota Kroasia, dalam kapasitasnya sebagai Pemimpin Gerakan Non-Blok.

Dalam pertemuan dengan Presiden Kroasia Franjo Tudjman,  Soeharto menyampaikan rencananya untuk melanjutkan perjalanan ke Bosnia Herzegovina dan bertemu Presiden Alija Izetbegovic.

Tudjman justru menyarankan agar rencana tersebut dibatalkan.

Alasannya sangat serius.

Dua hari sebelumnya, pesawat yang membawa Utusan Khusus PBB, Yasushi Akashi, ditembaki ketika hendak mendarat di Bosnia. Pesawat itu selamat, meski beberapa bagiannya berlubang terkena peluru.

Situasi Bosnia memang sedang sangat berbahaya.

Letnan Jenderal TNI (Purn.) Sjafrie Sjamsoeddin, sebagaimana dituturkannya dalam wawancara di kanal Refly Harun, menggambarkan kondisi Bosnia saat itu sebagai wilayah yang sangat tidak kondusif. Pertempuran antara pihak-pihak yang bertikai bisa pecah kapan saja.

Laporan mengenai situasi tersebut bahkan sudah diterima Presiden Soeharto.

Panglima ABRI Jenderal Feisal Tanjung bersama Komandan Paspampres juga menyarankan agar kunjungan ke Bosnia dibatalkan.

Tetapi Soeharto mengambil keputusan berbeda.

Di tengah pembicaraan dengan Tudjman, ia justru memutuskan:

Berangkat ke Bosnia.

Waktunya pun langsung ditentukan.

Pukul 12.00.

Saat itu sekitar pukul 10.00.

Artinya, hanya ada waktu dua jam untuk mempersiapkan perjalanan ke wilayah perang.

Formulir Risiko dan Pesawat Kecil

Begitu pertemuan selesai, rombongan segera menuju Bandara Zagreb.

Karena penerbangan menuju wilayah konflik, seluruh penumpang diwajibkan mengisi formulir pernyataan yang pada intinya menyatakan kesediaan menanggung risiko penerbangan.

Presiden Soeharto meminta formulir tersebut.

Ia mengisinya sendiri.

Kemudian menandatanganinya.

Pesawat yang digunakan bukan pesawat besar. Sebuah pesawat kecil buatan Rusia dengan kapasitas tidak lebih dari sekitar 25 orang.

Tepat pukul 12.00, pesawat lepas landas menuju Sarajevo.

Perjalanan memakan waktu sekitar satu setengah jam.

Namun, sekitar 30 menit sebelum mendarat, suasana berubah.

Pesawat mulai memasuki kawasan pertempuran.

Seluruh penumpang diwajibkan mengenakan helm dan rompi antipeluru.

Semua mematuhinya.

Kecuali satu orang.

Presiden Soeharto.

Sjafrie kemudian pindah duduk ke kursi di depan Presiden sambil membawa helm dan rompi antipeluru. Ia sengaja memperlihatkannya, berharap Presiden meminta untuk mengenakannya.

Tetapi bukan itu respons Soeharto.

Presiden justru mengatakan agar helm dan rompi tersebut nantinya dibawa ke Museum Purna Bhakti Pertiwi.

Seolah-olah benda itu kelak bukan sekadar perlengkapan keselamatan, tetapi menjadi saksi sebuah perjalanan.

Moncong 12,7 mm di Ketinggian 200 Kaki

Menjelang mendarat, pesawat berada di ketinggian sekitar 200 kaki.

Dari jendela pesawat, Sjafrie melihat sesuatu yang membuat situasi terasa semakin mencekam.

Moncong senjata 12,7 mm.

Senjata yang lazim digunakan untuk menembak sasaran udara itu tampak bergerak mengikuti laju pesawat.

Satu gerakan yang salah bisa berakibat fatal.

Namun pesawat terus melaju.

Dan akhirnya—

mendarat dengan selamat di Bandara Sarajevo.

Bandara itu sendiri berada di kawasan yang sangat berbahaya. Wilayah di sekitar landasan dikuasai oleh pihak-pihak yang sedang bertikai.

Di tengah ancaman sniper, Presiden Soeharto turun dari pesawat.  Ia hanya mengenakan jas dan kopiah.

Sementara anggota rombongan lainnya mengenakan helm dan rompi antipeluru.

Sjafrie bahkan ikut mengenakan kopiah, berusaha menyamarkan dirinya bersama Presiden. Matanya terus menyapu lingkungan sekitar, mengantisipasi moncong senapan para sniper.

Kolonel Sjafrie Sjamsoeddin, Presiden Soeharto, Yasushi Akashi, dan Mayor CPM Unggul Yudhoyono di Sarajevo (Foto: Saidi / Setneg via Soeharto.co)

Menuju Istana di Tengah Kepungan Perang

Pasukan PBB yang menjemput telah menyiapkan kendaraan lapis baja buatan Prancis.

Presiden Soeharto berada di dalam salah satunya bersama Atase Pertahanan Indonesia di Bosnia, Mayor CPM Unggul Yudhoyono, dan Kolonel Sjafrie Sjamsoeddin.

Perjalanan dari bandara menuju istana berlangsung sekitar setengah jam.

Sesampainya di istana, Presiden Soeharto disambut hangat Presiden Bosnia Herzegovina, Alija Izetbegovic.

Keduanya kemudian berbincang dan makan siang selama sekitar satu setengah jam.

Di luar istana, perang masih berlangsung.

Suara tembakan terdengar sayup-sayup dari kejauhan.

Prajurit Bosnia terlihat bersiaga.

Tetapi di dalam ruangan itu, dua kepala negara berbicara sebagai sesama manusia yang sedang menghadapi sebuah bangsa yang terluka oleh perang.

Setelah pertemuan, Soeharto meminta Menteri Luar Negeri Ali Alatas memberikan keterangan pers selama sekitar setengah jam.

Presiden dan rombongan menunggu di ruangan lain.

Kemudian perjalanan pulang dimulai.

Lima Menit Setelah Soeharto Pergi

Perjalanan kembali ke Zagreb ternyata tidak kalah menegangkan.

Ketika pesawat lepas landas dari Sarajevo, kembali terlihat moncong senjata 12,7 mm bergerak mengikuti arah pesawat.

Pesawat terus naik.

Selamat.

Beberapa saat sebelum mendarat di Zagreb, Sjafrie memberanikan diri bertanya kepada Presiden Soeharto.

Mengapa beliau begitu memaksakan diri datang ke Bosnia, padahal risikonya sangat besar?

Mengapa harus datang ke tempat yang sedang menjadi medan perang?

Jawaban Soeharto sederhana.

“Sebagai Pemimpin Non-Blok, ada negara yang sedang susah. Kita tidak bisa membantu dengan uang, kita datang saja—kita tengok. Yang penting orang yang kita datangi merasa senang, morilnya naik, mereka menjadi bertambah semangat.”

Barangkali itulah cara Soeharto melihat diplomasi.

Tidak selalu soal uang.

Tidak selalu soal bantuan material.

Kadang-kadang, kehadiran itu sendiri adalah bantuan.

Tepat pukul 18.00, pesawat mendarat mulus di Bandara Zagreb.

Franjo Tudjman dan rombongan kepresidenan menyambut dengan haru sekaligus lega.

Namun, sesaat setelah kaki Soeharto menginjak Zagreb, datang berita yang membuat suasana kembali menegang:

Lima menit setelah pesawat Soeharto meninggalkan Sarajevo, terjadi pertempuran hebat di sekitar bandara.

Sulit membayangkan jika keberangkatan itu terlambat beberapa menit saja.

Enam Jam yang Mengingatkan pada Enam Jam di Yogya

Jika dihitung, seluruh perjalanan itu berlangsung tepat sekitar enam jam.

12.00: berangkat dari Zagreb.

1 jam 30 menit: penerbangan Zagreb–Sarajevo.

1 jam: perjalanan darat dari bandara ke istana dan kembali.

1 jam 30 menit: pertemuan dan makan siang bersama Presiden Alija Izetbegovic.

30 menit: keterangan pers Menteri Luar Negeri Ali Alatas.

18.00: kembali mendarat di Zagreb.

Total:

Enam jam.

Dan di sinilah kisah itu seperti memutar kembali sebuah halaman lama.

Tujuh puluh tujuh tahun sebelumnya, pada 1 Maret 1949, Letnan Kolonel Soeharto menjadi salah satu komandan lapangan utama yang memimpin Serangan Umum ke Yogyakarta. Yogyakarta yang saat itu diduduki Belanda berhasil dikuasai selama sekitar enam jam.

Pada 13 Maret 1995, Presiden Soeharto kembali berada di tengah konflik bersenjata. Kali ini bukan untuk merebut wilayah.  Bukan untuk memenangkan perang. Tetapi untuk datang, melihat, dan memberi semangat kepada sebuah bangsa yang sedang menderita.

Sekali lagi:

enam jam.

Kali ini bukan Yogyakarta. Melainkan Kroasia–Bosnia.

De Javu Sejarah

Bagi nalar biasa, mungkin ini hanya kebetulan angka dan waktu. Tetapi bagi sebagian orang, sejarah kadang memiliki cara sendiri untuk menyusun tanda-tandanya.

Seorang Soeharto muda pernah berada di tengah perang untuk mempertahankan Republik. Puluhan tahun kemudian, Soeharto sebagai kepala negara kembali masuk ke wilayah perang—bukan membawa pasukan, tetapi membawa pesan solidaritas.

Yang pertama adalah perjuangan mempertahankan eksistensi bangsa.  Yang kedua adalah upaya membesarkan hati bangsa lain yang sedang terluka.

Tempatnya berbeda. Zamannya berbeda. Perannya berbeda. Tetapi ada satu angka yang mempertemukan keduanya:

6 jam.

Mungkin inilah yang disebut de javu sejarah.

Atau, dalam tafsir yang lebih spiritual, sebuah kebetulan yang terasa terlalu tepat untuk diabaikan. Pada akhirnya, perjalanan ke Sarajevo itu bukan hanya cerita tentang keberanian seorang Presiden memasuki zona perang.  Ia juga menyisakan sebuah pelajaran sederhana:

Ada saat ketika sebuah bangsa tidak membutuhkan uang terlebih dahulu. Mereka hanya ingin tahu bahwa dunia belum melupakan mereka.

Dan Soeharto memilih untuk datang. Enam jam perjalanan. Dari Zagreb menuju Sarajevo dan kembali lagi.

Enam jam yang mengingatkan kita pada enam jam di Yogyakarta.

Kalkulasi sejarah yang sulit dinalarkan. Kalkulasi metafisika pada tingkat makrifat.

Dan mungkin, pada akhirnya, hanya rahmat dan lindungan Allah yang membuat perjalanan itu berakhir dengan selamat. (NJN)

Views: 26

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *